Emas Ambles ke Titik Terendah 7 Bulan

Harga emas dunia jatuh ke level terendah sejak November 2025 setelah dolar AS menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat.

Harga emas turun ke level terendah tujuh bulan akibat penguatan dolar AS dan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Harga emas dunia kembali terpukul setelah pasar semakin yakin The Fed belum selesai menaikkan suku bunga. Di tengah penguatan dolar AS, emas jatuh ke level terendah dalam tujuh bulan dan kehilangan lebih dari Rp27 juta per ons dari rekor tertingginya. Foto: Dok. KabarBursa.
Harga emas dunia kembali terpukul setelah pasar semakin yakin The Fed belum selesai menaikkan suku bunga. Di tengah penguatan dolar AS, emas jatuh ke level terendah dalam tujuh bulan dan kehilangan lebih dari Rp27 juta per ons dari rekor tertingginya. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Kilau emas yang sempat memikat investor sepanjang awal tahun mulai meredup. Logam mulia yang selama ini dianggap sebagai aset pelindung nilai kini justru berada dalam tekanan setelah pasar semakin yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) belum selesai menaikkan suku bunga.

Pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, harga emas dunia merosot hingga menembus level psikologis USD4.000 per ons atau sekitar Rp68 juta per ons. Penurunan ini sekaligus menyeret harga emas ke titik terendah dalam lebih dari tujuh bulan terakhir.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 25 Juni 2026, di pasar spot, harga emas anjlok 3,3 persen menjadi USD3.973,79 per ons atau sekitar Rp67,55 juta per ons. Angka tersebut merupakan level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup melemah 3,4 persen ke posisi USD4.008,80 per ons atau sekitar Rp68,15 juta per ons.

Tekanan terhadap emas datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, dolar AS semakin perkasa sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat semakin menguat.

Pelaku pasar kini mulai memasang taruhan bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Keyakinan tersebut muncul setelah bank sentral Amerika mengadopsi nada yang lebih agresif dalam pertemuan kebijakan terakhirnya. Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran juga ikut memperkuat ekspektasi tersebut.

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan kombinasi sikap agresif The Fed, penguatan dolar AS, dan menurunnya ekspektasi inflasi menjadi pukulan telak bagi pasar logam mulia.

“Pasar mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga bahkan secepat September akibat sikap agresif The Fed. Ditambah lagi dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam 13 bulan dan ekspektasi inflasi justru menurun. Kombinasi ini memberi tekanan besar pada logam mulia,” ujarnya.

Meski demikian, Wong belum melihat peluang kejatuhan harga emas yang lebih dalam dalam waktu dekat. Menurutnya, masih ada dukungan kuat dari pembelian bank sentral berbagai negara.

“Untuk emas, masih ada area dukungan di bawah USD3.900 per ons atau sekitar Rp66,3 juta per ons. Pembelian oleh bank sentral juga masih berlanjut sehingga peluang harga runtuh relatif kecil. Namun pasar kemungkinan akan menghadapi periode konsolidasi yang cukup panjang karena perdagangan emas saat ini tidak lagi menjadi favorit investor,” katanya.

Kenaikan suku bunga memang cenderung membuat emas kehilangan daya tarik. Berbeda dengan deposito atau obligasi yang menawarkan imbal hasil, emas tidak memberikan pendapatan tetap sehingga investor biasanya beralih ke instrumen lain saat suku bunga naik.

Padahal, pada akhir Januari lalu harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level USD5.594,82 per ons atau sekitar Rp95,11 juta per ons. Namun sejak saat itu, harga emas telah kehilangan lebih dari USD1.600 per ons atau sekitar Rp27,2 juta per ons.

Melihat perubahan sentimen pasar tersebut, ING memangkas proyeksi harga emas untuk sisa tahun 2026. Bank itu kini memperkirakan rata-rata harga emas pada kuartal III 2026 berada di level USD4.300 per ons atau sekitar Rp73,1 juta per ons. Angka itu lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya sebesar USD4.850 per ons atau sekitar Rp82,45 juta per ons.

Untuk kuartal IV 2026, ING memperkirakan harga emas rata-rata berada di kisaran USD4.600 per ons atau sekitar Rp78,2 juta per ons. Sebelumnya, mereka memperkirakan harga emas mampu mencapai USD5.000 per ons atau sekitar Rp85 juta per ons.

Selain menunggu arah kebijakan The Fed, investor juga mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis waktu setempat. Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi favorit bank sentral Amerika.

Analis Riset Senior FXTM, Lukman Otunuga, menilai risiko penurunan harga emas masih terbuka lebar apabila pejabat The Fed kembali mengirim sinyal agresif atau data ekonomi mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut.

“Sinyal yang lebih agresif dari pejabat The Fed atau data ekonomi yang memperkuat alasan kenaikan suku bunga dapat memicu risiko penurunan harga emas lebih lanjut,” ujarnya.

Tekanan tidak hanya menghantam emas. Harga perak di pasar spot bahkan merosot lebih dalam hingga 9,1 persen menjadi USD56,41 per ons atau sekitar Rp958.970 per ons. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak November 2025.

Standard Chartered dalam laporannya menyebut arus keluar dana dari produk investasi berbasis perak membuat logam tersebut rentan mengalami volatilitas dalam jangka pendek. Meski begitu, kondisi pasokan yang masih terbatas dinilai dapat mendorong pemulihan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, platinum turun 5,5 persen menjadi USD1.560,72 per ons atau sekitar Rp26,53 juta per ons. Adapun palladium terkoreksi 6,8 persen ke level USD1.153,68 per ons atau sekitar Rp19,61 juta per ons.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait