Emas Bangkit Lagi, Naik Lebih dari 1 Persen Usai Data Tenaga Kerja AS Menguat

Harga emas naik lebih dari 1 persen ke USD5074 per ounce setelah laporan tenaga kerja AS menguat, didorong pembelian jangka panjang dan ketidakpastian ekonomi global.

Harga emas naik lebih dari 1 persen ke USD5074 per ounce setelah laporan tenaga kerja AS menguat, didorong pembelian jangka panjang dan ketidakpastian ekonomi g

Harga emas naik lebih dari 1 persen ke USD5074 per ounce setelah laporan tenaga kerja AS menguat, didorong pembelian jangka panjang dan ketidakpastian ekonomi global. Foto: Dok. KabarBursa.com
Harga emas naik lebih dari 1 persen ke USD5074 per ounce setelah laporan tenaga kerja AS menguat, didorong pembelian jangka panjang dan ketidakpastian ekonomi global. Foto: Dok. KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Harga emas kembali menguat tajam pada perdagangan Rabu waktu setempat. Logam mulia itu naik lebih dari 1 persen setelah sempat terkoreksi singkat, seiring pasar mencerna laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.

Pembelian jangka panjang yang terus berlangsung membantu emas mendapatkan kembali momentumnya. Para pelaku pasar masih melihat emas sebagai aset lindung nilai yang kokoh, meski sentimen ekonomi Amerika menunjukkan tanda-tanda ketahanan.

Dilansir dari Reuters, harga emas tercatat naik 1 persen menjadi USD5074.29 per ounce atau sekitar Rp85.496.086 per ounce pada pukul 11.28 waktu setempat. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi harian di USD5118.47 atau setara Rp86.232.620 sebelum akhirnya sedikit mereda.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup menguat 1,3 persen ke posisi USD5098.50 per ounce, setara sekitar Rp85.905.225.

Penguatan emas terjadi di tengah laporan ketenagakerjaan Amerika yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat pada Januari. Tingkat pengangguran turun ke level 4,3 persen, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup tangguh.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve untuk menahan suku bunga tetap stabil sambil terus memantau perkembangan inflasi. Namun, data ekonomi yang positif itu tidak serta-merta menggerus minat investor terhadap emas. Banyak pelaku pasar menilai tren pembelian emas saat ini lebih didorong faktor jangka panjang ketimbang sentimen jangka pendek.

“Satu laporan pekerjaan yang kuat tidak akan menggoyahkan mentalitas di balik pembelian emas yang dianggap sebagai investasi jangka panjang dan fundamental,” ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen.

Ia menambahkan bahwa sejak mengalami kejatuhan tajam beberapa waktu lalu, emas justru menunjukkan pola pergerakan yang relatif solid. “Sejak koreksi besar, emas sebagian besar menunjukkan pola higher highs dan higher lows, dengan pembeli yang tetap percaya diri di tengah narasi utang global dan gerakan divestasi dari Amerika Serikat,” katanya.

Memang, emas sempat mengalami aksi jual besar-besaran selama dua hari berturut-turut pada 30 Januari dan 2 Februari. Penurunan itu dipicu pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunjuk kandidat baru untuk memimpin Federal Reserve.

Meski begitu, kinerja emas sepanjang tahun ini tetap impresif. Harga logam mulia tersebut sudah melonjak lebih dari 17 persen sejak awal tahun, melanjutkan kenaikan rekor yang terjadi pada tahun lalu.

Lonjakan tersebut banyak ditopang meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta pembelian emas secara agresif oleh bank-bank sentral di berbagai negara.

Dari sisi ekonomi, sejumlah data terbaru Amerika juga memberi gambaran beragam. Laporan pada Selasa menunjukkan penjualan ritel Amerika Serikat secara tak terduga tidak berubah pada Desember, mengindikasikan potensi perlambatan belanja konsumen memasuki tahun baru.

Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap sampai masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir pada Mei. Namun, bank sentral diprediksi akan mulai menurunkan suku bunga segera setelah itu pada Juni.

Para ekonom juga memperingatkan bahwa kebijakan di bawah calon pengganti Powell, Kevin Warsh, berpotensi menjadi terlalu longgar, tergantung arah kebijakan yang diambil ke depan.

Secara historis, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung berkinerja baik pada periode ketidakpastian ekonomi atau geopolitik, serta ketika suku bunga berada pada level rendah.

Saat ini perhatian investor mulai beralih ke rilis indeks harga konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan moneter selanjutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait