Market Hari Ini 20 Oct 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Emas Bangkit Usai Anjlok Tajam, Sentimen Global Mulai Pulih

Sebelumnya, pada Jumat, logam mulia ini merosot sekitar 1,8 persen

Harga emas kembali menguat pada awal pekan, Senin, setelah anjlok tajam di penghujung pekan lalu dari rekor tertingginya di atas USD4.300 per ons

Ilustrasi Emas Perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Emas Perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas kembali menguat pada awal pekan, Senin, setelah anjlok tajam di penghujung pekan lalu dari rekor tertingginya di atas USD4.300 per ons. Kebangkitan ini mencerminkan pulihnya minat investor terhadap aset aman, usai komentar Presiden AS Donald Trump yang sempat meredakan tensi dagang dengan China dan mengembalikan selera risiko di pasar global.

Berdasarkan laporan Bloomberg dari Bengaluru, pada pukul 09.47 WIB harga emas spot naik 0,22 persen menjadi USD4.261,25 per ons. Sebelumnya, pada Jumat, logam mulia ini merosot sekitar 1,8 persen-penurunan harian terdalam sejak pertengahan Mei. Meski demikian, secara mingguan emas tetap membukukan performa terbaik sejak April, setelah menorehkan rekor USD4.378,69 per ons.

Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Desember turut melonjak 1,61 persen ke posisi USD4.281,30 per ons. Sementara perak spot naik 0,5 persen ke level USD52,08 per ons, memulihkan diri dari kejatuhan 4,4 persen pada sesi sebelumnya—terburuk sejak awal April—setelah sempat menyentuh puncak USD54,47 per ons.

Sejak awal tahun, harga emas non-yielding telah melesat lebih dari 60 persen. Lonjakan ini didorong ketegangan geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tren de-dolarisasi, serta derasnya arus dana ke ETF berbasis emas.

Koreksi tajam yang terjadi di akhir pekan lalu dipicu oleh pernyataan Trump bahwa tarif 100 persen terhadap produk China “tidak akan bertahan lama.” Ia juga memastikan akan segera bertemu Presiden Xi Jinping dan menyatakan optimisme terhadap perbaikan hubungan kedua negara.

Bank raksasa HSBC memperkirakan tren kenaikan harga emas masih jauh dari usai. Mereka menilai harga logam mulia itu berpotensi menembus USD5.000 per ons pada 2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan munculnya pemain baru di pasar emas global.

Di India, lonjakan harga membuat masyarakat beralih membeli koin dan batangan ketimbang perhiasan selama festival Dhanteras akhir pekan lalu, dengan keyakinan reli harga belum mencapai puncaknya. Cadangan emas negara itu bahkan menembus USD100 miliar untuk pertama kalinya, menurut data Reserve Bank of India (RBI), terdorong oleh reli global meski laju pembelian bank sentral melambat tahun ini.

Sementara itu, Shanghai Futures Exchange (SHFE) mengumumkan akan menaikkan batas fluktuasi harga harian untuk kontrak emas dan perak menjadi 14 persen dari sebelumnya 12 persen, mengikuti meningkatnya volatilitas pasar logam mulia.

Untuk logam lain, platinum turun 1,1 persen menjadi USD1.591,55 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 0,5 persen ke posisi USD1.467,16 per ons.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait