Market Hari Ini 17 Jun 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Emas Dunia Naik 0,8 Persen, Ketegangan AS-Iran Mulai Mereda

Harga emas dunia naik 0,8 persen ke USD4.338,86 per ounce saat pasar mencermati rapat The Fed dan penurunan yield Treasury AS.

Harga emas dunia menguat 0,8 persen ke USD4.338,86 per ounce, ditopang penurunan yield Treasury dan ekspektasi suku bunga The Fed.

Ilustrasi kenaikan harga emas dunia. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi kenaikan harga emas dunia. Foto: dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Fokus Bergeser ke The Fed
  2. 02 Data Ekonomi Beri Sinyal Berbeda

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026 waktu Amerika Serikat atau Rabu pagi WIB. Penguatan harga emas terjadi seiring dengan penurunan tensi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Harga emas spot tercatat naik sekitar 0,8 persen menjadi USD4.338,86 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas Comex Agustus 2026 ditutup di USD4.354,40 per ounce.

Kenaikan emas terjadi ketika perhatian pelaku pasar mulai bergeser dari perkembangan konflik Timur Tengah menuju arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Penurunan tajam harga minyak dalam dua sesi terakhir membuat investor menilai peluang kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Pasar juga mencermati rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 16–17 Juni 2026, sekaligus menjadi pertemuan penting pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Director of Metals Trading High Ridge Futures, David Meger, mengatakan prospek berakhirnya konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan emas dalam dua hari terakhir.

“Yang menopang pasar dalam dua sesi terakhir adalah prospek kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Selasa, 16 Juni 2026.

Menurut Meger, dampak lanjutan dari perkembangan tersebut terlihat pada turunnya harga energi dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.

“Dampaknya adalah suku bunga jangka pendek turun, harga energi melemah, dan peluang The Fed perlu menaikkan suku bunga akhir tahun ini menjadi lebih kecil,” katanya.

Fokus Bergeser ke The Fed

Pergerakan emas kali ini terbilang berbeda dibanding pola yang biasanya terjadi saat ketegangan geopolitik mereda. Dalam kondisi normal, berkurangnya risiko perang cenderung mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Namun kali ini, pasar lebih menyoroti dampak ekonomi dari perkembangan Timur Tengah tersebut. Kesepakatan sementara AS-Iran yang membuka peluang berakhirnya gangguan pasokan energi membuat harga minyak dunia turun tajam.

Brent ditutup di USD78,96 per barel atau turun 5,1 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,8 persen menjadi USD76,05 per barel.

Penurunan harga energi mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Reuters, peluang kenaikan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 60 persen dari sekitar 70 persen pada pekan sebelumnya.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga bergerak turun. Yield Treasury dua tahun berada di kisaran 4,052 persen, sedangkan yield Treasury 10 tahun turun ke sekitar 4,444 persen.

Kondisi tersebut memberikan dukungan bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi. Ketika ekspektasi suku bunga dan yield turun, biaya peluang untuk memegang emas ikut berkurang.

Meski demikian, arah pergerakan emas selanjutnya masih sangat bergantung pada pesan yang disampaikan The Fed setelah rapat kebijakan bulan Juni ini.

Data Ekonomi Beri Sinyal Berbeda

Selain menunggu hasil rapat The Fed, investor juga mencerna sejumlah data ekonomi AS yang memberikan gambaran beragam mengenai kondisi ekonomi dan inflasi.

Data perumahan menunjukkan housing starts pada Mei 2026 turun 15,4 persen menjadi 1,177 juta unit, level terendah dalam enam tahun terakhir. Angka tersebut mengindikasikan perlambatan aktivitas sektor properti AS.

Di sisi lain, tekanan harga masih terlihat. Import prices pada Mei naik 1,9 persen secara bulanan dan 6,7 persen secara tahunan, menunjukkan inflasi impor masih relatif tinggi.

Sementara itu, Peter Grant, Vice President and Senior Metals Strategist Zaner Metals, menilai penurunan harga minyak belum tentu langsung menghilangkan tekanan inflasi.

“Saya pikir inflasi akan bertahan untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Kita pernah mendengar cerita ini sebelumnya dan ada tingkat skeptisisme tertentu,” ujarnya.

Pandangan serupa muncul dari data ketenagakerjaan AS yang masih menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja. Nonfarm payrolls Mei tercatat bertambah 172.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi pasar.

Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar masih berhati-hati terhadap kemungkinan The Fed mempertahankan sikap ketat lebih lama.

Meski harga emas telah menguat dalam tiga sesi terakhir, posisinya masih berada jauh di bawah rekor yang tercapai pada awal tahun. Kontrak Comex Gold Juni 2026 yang berada di kisaran USD4.330 per ounce masih sekitar 18 persen di bawah rekor USD5.318,40 yang tercatat pada Januari 2026.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait