Market Hari Ini 29 May 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Emas Melonjak Lebih dari 1 Persen Setelah Dolar dan Minyak Melemah

Rebound logam mulia itu terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat dan harga minyak.

Harga emas dunia berbalik menanjak lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya terjerembap ke titik terendah

Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas dunia berbalik menanjak lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya terjerembap ke titik terendah dalam dua bulan terakhir. Rebound logam mulia itu terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat dan harga minyak menyusul laporan mengenai tercapainya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.

Emas spot melonjak 1,1 persen menjadi USD4.504,07 per ons pada pukul 24.31 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level paling rendah sejak akhir Maret sebelum akhirnya bangkit tajam menjelang penutupan perdagangan global.

Di pasar berjangka Amerika Serikat, kontrak emas pengiriman Agustus turut menguat 1,1 persen dan berakhir di posisi USD4.532,40 per ons. Penguatan tersebut menandai pulihnya minat investor terhadap aset lindung nilai setelah beberapa sesi terakhir berada di bawah tekanan.

Sumber yang mengetahui jalannya negosiasi menyebut Amerika Serikat dan Iran telah mencapai nota kesepahaman terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Meski demikian, rancangan kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump sebelum dapat diberlakukan secara resmi.

Sentimen positif dari perkembangan diplomatik tersebut langsung memukul dolar AS. Indeks Dolar Amerika Serikat atau DXY turun 0,2 persen, membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi greenback menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Di saat bersamaan, harga minyak Brent juga mengalami pelemahan setelah muncul ekspektasi bahwa meredanya ketegangan geopolitik dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Situasi itu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Dari sisi makroekonomi, data menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat naik 3,8 persen secara tahunan hingga April. Angka tersebut sejalan dengan proyeksi pasar. Secara bulanan, indeks PCE meningkat 0,4 persen setelah sebelumnya melonjak 0,7 persen pada Maret.

Trader logam independen Tai Wong mengatakan kombinasi data inflasi yang lebih lunak dan prospek terbukanya kembali Selat Hormuz menjadi fondasi utama penguatan harga emas pada sesi kali ini.

Menurut Wong, laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan di Timur Tengah memberi ruang bernapas bagi pasar emas yang sebelumnya berada dalam tekanan teknikal cukup berat. Ia menambahkan, emas sempat berada di ambang penembusan ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari, indikator yang kerap dijadikan acuan penting dalam mempertahankan tren bullish jangka panjang.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai data PCE terbaru semakin memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tanpa pengetatan tambahan dalam waktu dekat.

Namun demikian, kehati-hatian pasar masih belum sepenuhnya hilang. Risalah rapat Federal Reserve pada 28–29 April yang dirilis pekan lalu menunjukkan semakin banyak pejabat bank sentral AS mulai membuka peluang perlunya kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi kembali menguat.

Harga emas sendiri berada dalam tekanan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu. Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global membuat investor sempat mengurangi eksposur terhadap logam mulia tersebut.

Walaupun emas dikenal sebagai aset safe haven, kenaikan suku bunga biasanya membuat daya tariknya berkurang. Investor cenderung beralih ke instrumen berimbal hasil tinggi ketika biaya pinjaman meningkat.

Di sisi lain, permintaan fisik emas dari Asia menunjukkan penguatan signifikan. Data memperlihatkan impor emas bersih China melalui Hong Kong melonjak 81,2 persen sepanjang April dibandingkan bulan sebelumnya.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot menguat 1,3 persen menjadi USD75,60 per ons. Platinum bergerak stabil di level USD1.918,95 per ons, sedangkan paladium melemah 1,4 persen ke posisi USD1.371,52 per ons.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait