KABARBURSA.COM – Enam emiten akan memasuki masa cum date dividen pada Selasa, 23 Juni 2026. PT Timah Tbk (TINS), PT Galva Technologies Tbk (GLVA), PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR), PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS), PT Murni Sadar Tbk (MTMH), dan PT Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS).
Investor yang ingin mendapatkan hak dividen dari keenam emiten tersebut wajib memiliki saham sebelum penutupan perdagangan pada tanggal tersebut.
Di antara enam nama itu, TINS membagikan dividen yang jumlahnya lebih besar dari lainnya. Emiten tambang pelat merah itu membagikan dividen Rp88,18 per saham.
Bagi investor yang telah mengoleksi TINS jauh sebelum masa cum date, dividen tersebut tentu menjadi bonus yang menarik. Namun bagi investor yang baru mempertimbangkan masuk menjelang cum date, situasinya tidak sesederhana itu.
Selain TINS, emiten yang juga cukup menarik untuk diperhatikan adalah GLVA. Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan solusi elektronik ini membagikan dividen Rp10 per saham. Nilainya memang tidak sebesar TINS, namun GLVA selama ini dikenal memiliki karakteristik bisnis yang relatif stabil dibandingkan sektor komoditas.
Di sektor perkebunan, NSSS membagikan dividen Rp5 per saham. Kehadiran emiten sawit dalam daftar penerima dividen menjadi menarik karena industri kelapa sawit masih menghadapi dinamika harga CPO global dan kebijakan ekspor yang dapat memengaruhi kinerja keuangan ke depan.
Sementara itu, BDKR dan MTMH membagikan dividen masing-masing Rp2,65 dan Rp2,42 per saham. Nilainya relatif kecil, tetapi bagi investor yang memang sudah menjadi pemegang saham jangka panjang, distribusi dividen tetap menjadi indikator positif bahwa perusahaan masih mampu menghasilkan arus kas yang memadai.
TBMS membagikan dividen sebesar Rp28,52 per saham. Meski nominalnya terlihat kecil, kebijakan tersebut menunjukkan karakter bisnis perusahaan yang masih memiliki eksposur terhadap perdagangan internasional dan mata uang asing.

Semakin besar dividen yang dibagikan, biasanya semakin besar pula potensi koreksi harga saham pada saat memasuki ex date. Fenomena ini disebut sebagai dividend trap.
Waspadai Dividen Trap
Dividend trap terjadi ketika investor membeli saham hanya untuk mengejar dividen, tetapi kemudian mengalami kerugian akibat penurunan harga saham yang lebih besar dibandingkan nilai dividen yang diterima.
Karena itu, keputusan membeli saham menjelang cum date seharusnya tidak hanya didasarkan pada besarnya dividen, tetapi juga mempertimbangkan tren harga dan prospek fundamental perusahaan.
Jika dibandingkan secara nominal, TINS menjadi emiten dengan daya tarik dividen paling besar dalam kelompok ini. Namun dari sudut pandang investasi, daya tarik terbesar belum tentu berasal dari nominal dividen tertinggi.
Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba dan membagikan dividen secara konsisten dalam jangka panjang.
Menyiapkan Likuiditas Sebelum Penutupan Pasar
Ini penting karena banyak investor pemula sering salah memahami mekanisme cum date. Mereka mengira bisa membeli saham pada hari ex date dan tetap berhak atas dividen. Padahal untuk mendapatkan hak dividen, saham harus sudah dimiliki paling lambat saat cum date berakhir di pasar reguler.
Karena itu, memastikan dana tersedia di rekening dana nasabah (RDN) sebelum penutupan perdagangan menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan.
Dalam konteks enam emiten yang memasuki cum date pada 23 Juni, investor yang masih ingin berburu dividen harus memastikan transaksi pembelian selesai sebelum pasar reguler ditutup.
Jika pembelian dilakukan terlambat, investor tetap memperoleh sahamnya, tetapi tidak lagi mendapatkan hak atas dividen yang akan dibagikan.
Di luar perburuan dividen, investor juga perlu memperhatikan aspek administratif yang sering terlupakan. Bagi yang ingin memperoleh hak dividen, pastikan dana di rekening efek tersedia dan transaksi pembelian dilakukan sebelum pasar reguler ditutup pada 23 Juni.(*)