Market Hari Ini 23 May 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

ESSA Ekspansi ke Bioavtur: Apa Artinya bagi Pemegang Saham?

ESSA menyiapkan pabrik bioavtur dengan kapasitas produksi hingga 200 ribu metrik ton per tahun. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal 2028.

ESSA ekspansi ke bioavtur dari minyak jelantah, dorong diversifikasi bisnis dan potensi pertumbuhan saham di sektor energi terbarukan.

PT ESSA Industries Indonesia Tbk atau ESSA. (Foto: Dokumentasi Perusahaan)
PT ESSA Industries Indonesia Tbk atau ESSA. (Foto: Dokumentasi Perusahaan)

Daftar Isi

  1. 01 Limbah Dapur yang Jadi Harapan Langit
  2. 02 Pasar Bioavtur yang Mulai Menghangat
  3. 03 Teknologi Tak Sederhana, Tapi Menjanjikan
  4. 04 Efek ke Kinerja Keuangan dan Saham
  5. 05 Bioavtur ESSA Lebih dari Sekadar Bisnis

KABARBURSA.COMDi tengah dorongan global untuk mengurangi emisi karbon, PT ESSA Industries Indonesia Tbk mengambil langkah besar yang tak biasa, yaitu memanfaatkan limbah minyak goreng atau minyak jelantah sebagai bahan baku untuk memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan, atau yang dikenal dengan bioavtur.

Langkah ini bukan hanya inovatif, tetapi juga menandai pergeseran arah bisnis perusahaan energi yang sebelumnya dikenal sebagai produsen amonia dan LPG. Kini, ESSA mulai membangun pondasi baru di sektor energi terbarukan.

Limbah Dapur yang Jadi Harapan Langit

Minyak jelantah selama ini dikenal sebagai limbah yang sulit dikelola, sering kali mencemari tanah dan saluran air. Namun, di tangan ESSA, limbah ini justru dilihat sebagai peluang strategis. 

Lewat dua entitas baru, PT ESSA Sustainable Indonesia dan PT ESSA SAF Makmur, perusahaan sedang menyiapkan pabrik bioavtur dengan kapasitas produksi hingga 200 ribu metrik ton per tahun.

Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal 2028.

“Ini bukan hanya soal bisnis baru. Ini tentang bagaimana kami bisa berkontribusi dalam membangun masa depan energi Indonesia yang lebih bersih,” ujar seorang sumber internal ESSA yang enggan disebutkan namanya.

Pasar Bioavtur yang Mulai Menghangat

Permintaan bioavtur tengah tumbuh, seiring tekanan global terhadap sektor penerbangan untuk mengurangi jejak karbon. Pemerintah Indonesia pun telah merilis roadmap pengembangan bioavtur, dengan target awal pemanfaatan sebesar 1 persen pada 2027.

Studi dari Kementerian ESDM menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 33 juta kiloliter bioavtur per tahun, angka yang tiga kali lebih besar dari kebutuhan domestik. Ini membuka peluang ekspor besar bagi pemain lokal seperti ESSA.

Teknologi Tak Sederhana, Tapi Menjanjikan

Mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat bukan perkara mudah. Dibutuhkan teknologi pemurnian tingkat tinggi agar bahan bakar yang dihasilkan memenuhi standar internasional. ESSA diketahui tengah menjalin komunikasi dengan mitra teknologi dan calon pembeli potensial.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah rantai pasok minyak jelantah yang masih belum terkoordinasi dengan baik. Apalagi, bahan baku ini masih tersebar di rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang belum tergabung dalam sistem pengumpulan nasional.

Efek ke Kinerja Keuangan dan Saham

Meski laba bersih ESSA turun sekitar 20 persen menjadi 8 juta dolar AS pada kuartal pertama 2025, terutama karena penurunan harga amonia dan LPG, diversifikasi ke sektor energi terbarukan dinilai sebagai langkah jangka panjang yang solid.

Sejumlah analis pasar modal melihat bahwa inisiatif bioavtur ini bisa menjadi pendorong pertumbuhan baru ESSA. Saham ESSA saat ini diperdagangkan di kisaran Rp575, dengan potensi kenaikan ke Rp750 jika proyek berjalan sesuai rencana.

“Langkah ini menunjukkan positioning ESSA sebagai perusahaan yang siap menghadapi masa depan energi. Kami melihat ada potensi positif dalam jangka menengah,” ujar Rina Suryani, analis dari BRI Danareksa Sekuritas.

Bioavtur ESSA Lebih dari Sekadar Bisnis

Apa yang dilakukan ESSA bukan hanya soal mengolah limbah jadi produk bernilai jual tinggi. Ini adalah bagian dari upaya lebih luas untuk menjawab tantangan iklim, memanfaatkan ekonomi sirkular, dan memberi kontribusi nyata terhadap agenda transisi energi nasional.

“Bioavtur dari minyak jelantah adalah langkah maju yang patut diapresiasi. ESSA mengambil posisi strategis dalam transisi energi nasional,” kata Dr Andi Wijaya, pakar energi dari Universitas Indonesia.

Ketika banyak perusahaan masih bertanya-tanya tentang arah keberlanjutan, ESSA telah menjawabnya dengan tindakan nyata. Mereka menjadikan minyak jelantah bukan lagi limbah, tapi bagian dari solusi masa depan.

Tidak hanya itu, Ekspansi ESSA ke bioavtur bukan sekadar proyek tambahan, melainkan transformasi strategis jangka panjang yang dapat mengubah wajah bisnis perusahaan. Bagi pemegang saham, ini membuka peluang:

  • Diversifikasi pendapatan
  • Eksposur ke pasar ekspor energi baru
  • Daya tarik ESG bagi investor institusi
  • Potensi capital gain jika proyek berjalan lancar

Namun, perlu kehati-hatian atas risiko eksekusi proyek dan dinamika sektor energi terbarukan yang masih berkembang. Investor disarankan untuk memantau perkembangan proyek ini secara berkala dan menilai ulang posisi mereka berdasarkan progres aktual dan laporan keuangan berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait