Market Hari Ini 27 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Free Float BDMN Hanya 7,54 Persen, MUFG: Delisting atau Lepas Saham?

MUFG kini menguasai lebih dari 92 persen saham BDMN, sementara aturan baru BEI mewajibkan free float minimum 15 persen paling lambat 2028.

MUFG menguasai 92 persen saham BDMN. Simak dampak penyusutan free float, peluang cash exit, dan arah saham Bank Danamon ke depan.

MUFG hanya memiliki dua jalur utama apabila ingin tetap mempertahankan status pencatatan saham BDMN di Bursa Efek Indonesia. (Foto: Bank Danamon)
MUFG hanya memiliki dua jalur utama apabila ingin tetap mempertahankan status pencatatan saham BDMN di Bursa Efek Indonesia. (Foto: Bank Danamon)

Daftar Isi

  1. 01 Potensi Integrasi BDMN-MUFG
  2. 02 Valuasi Premium BDMN

KABARBURSA.COM – Bloomberg melaporkan bahwa Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG) sedang mengevaluasi dua opsi besar terhadap PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Opsi tersebut yakni melakukan privatisasi atau justru melepas sebagian saham untuk menaikkan free float.

Isu tersebut langsung menarik perhatian karena struktur kepemilikan BDMN saat ini memang sudah sangat terkonsentrasi. Berdasarkan data pemegang saham per 8 Mei 2026, MUFG Bank Ltd tercatat menguasai sekitar 9,04 miliar saham atau setara 92,47 persen kepemilikan BDMN, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan struktur tersebut, saham publik BDMN kini hanya tersisa sekitar 7,54 persen. Angka itu jauh di bawah ketentuan baru Bursa Efek Indonesia yang mewajibkan free float minimum 15 persen paling lambat Maret 2028.

Situasi inilah yang kini mulai menjadi perhatian pasar. Sebab, MUFG praktis hanya memiliki dua jalur utama apabila ingin tetap mempertahankan status pencatatan saham BDMN di Bursa Efek Indonesia.

Pilihan pertama adalah melakukan privatisasi atau delisting. Sementara opsi kedua ialah melepas sebagian kepemilikan ke publik agar free float kembali memenuhi aturan bursa.

Potensi Integrasi BDMN-MUFG

 saat yang sama, pasar juga sedang memantau rencana integrasi antara BDMN dan MUFG Bank Ltd cabang Jakarta yang diumumkan pada 11 Mei 2026. Integrasi tersebut ditargetkan efektif pada 2027 dan berpotensi menciptakan entitas dengan aset gabungan sekitar Rp477 triliun serta ekuitas mendekati Rp97 triliun.

Jika terealisasi, entitas gabungan tersebut berpotensi menjadi bank swasta terbesar kedua di Indonesia setelah Bank Central Asia (BBCA) dari sisi aset maupun ekuitas. Kombinasi modal tersebut juga akan mengangkat BDMN masuk kelompok KBMI 4 bersama BBCA, Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Namun berbeda dengan narasi pasar yang ramai membahas delisting, perhatian investor kini mulai bergeser ke potensi cash exit lebih awal melalui mekanisme dissenter buyback. Skema itu diatur dalam POJK 41/2019 yang mewajibkan opsi pembelian kembali saham bagi pemegang saham yang tidak menyetujui rencana integrasi.

Preseden paling dekat adalah integrasi Bank Permata (BNLI) dan Bangkok Bank cabang Indonesia pada 2020. Saat itu, harga buyback bagi pemegang saham yang menolak integrasi diumumkan sekitar 2,5 bulan sebelum integrasi efektif berjalan.

Karena itu, pasar mulai membaca bahwa isu terbesar BDMN saat ini bukan lagi semata delisting, melainkan bagaimana MUFG akan menentukan jalur integrasi dan harga cash exit bagi investor minoritas.

Valuasi Premium BDMN

Secara historis, sejumlah transaksi perbankan dengan pengendali Jepang memang menggunakan valuasi cukup premium. Merger BTPN dan SMBC pada 2019, misalnya, dilakukan di kisaran sekitar 1,5 kali nilai buku.

Dengan BVPS BDMN per kuartal I-2026 sebesar Rp5.464 per saham, pasar mulai menghitung berbagai skenario harga apabila skema dissenter buyback benar-benar muncul. Bahkan skenario konservatif di level 1 kali nilai buku masih berada di atas harga pasar saat ini.

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, pergerakan saham BDMN mulai kembali aktif. Pada perdagangan terakhir, saham BDMN ditutup di level Rp4.740 atau turun 2,87 persen.

Meski terkoreksi, harga BDMN sebenarnya masih bergerak jauh di atas area terendah rumor sebelum isu integrasi mencuat. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp4.910 pada perdagangan intraday terakhir sebelum kembali ditekan profit taking.

Dari sisi transaksi, tekanan jual masih cukup dominan. Foreign sell tercatat mencapai Rp8,1 miliar, jauh di atas foreign buy Rp2,2 miliar.

Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya mengubah pembacaan pasar terhadap BDMN. Sebab, saham ini kini lebih banyak diperdagangkan berdasarkan ekspektasi aksi korporasi dibanding sekadar kinerja jangka pendek.

Jika MUFG memilih jalur peningkatan free float, pasar kemungkinan akan menunggu mekanisme placement atau secondary offering. Namun apabila jalur integrasi dan cash exit lebih diprioritaskan, fokus investor akan bergeser ke potensi harga buyback berdasarkan opini kewajaran penilai independen.

Karena itu, area Rp4.200 hingga Rp4.500 kini mulai dipandang sebagai zona krusial BDMN. Sementara area di atas Rp5.400 akan menjadi level psikologis penting apabila pasar mulai mengantisipasi skenario buyback berbasis nilai buku.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait