Market Hari Ini 20 Apr 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Futures Dow Anjlok 400 Poin, Ketegangan AS-Iran Memanas

Penyitaan kapal Iran oleh AS picu eskalasi konflik, sementara pasar saham berjangka Wall Street langsung merespons dengan penurunan.

Futures Dow turun 400 poin saat ketegangan AS-Iran meningkat dan harga minyak melonjak.

Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Public Domain Pictures)
Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Public Domain Pictures)

KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka (futures) saham merosot pada Minggu, 19 April 2026 waktu setempat setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sepanjang akhir pekan menyusul penyitaan kapal kargo berbendera Iran.

Sebagaimana dilansir CNBC, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 452 poin atau 0,9 persen. Kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,8 persen, sementara Nasdaq-100 turun 0,6 persen.

Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan Amerika Serikat telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Hal ini terjadi setelah Iran menolak untuk mengikuti putaran baru perundingan damai di Pakistan yang direncanakan oleh AS.

"Kapal Iran tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. Kami telah menguasai penuh kapal tersebut dan sedang memeriksa isi di dalamnya,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social.

Trump juga mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan AS. Gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir pekan ini.

Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan awal. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 8 persen menjadi USD90,54 per barel. Sementara itu, minyak Brent internasional menguat 6 persen menjadi USD96,50.

Wall Street baru saja menutup pekan dengan penguatan, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencapai rekor tertinggi sepanjang masa setelah tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Lebanon. Pada saat itu, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali, meskipun pada Sabtu lalu lalu lintas kapal di jalur pelayaran utama tersebut kembali dibatasi, dengan media pemerintah menyebut AS “tidak memenuhi kewajibannya.”

Trump menegaskan kembali bahwa blokade AS terhadap selat tersebut akan tetap diberlakukan hingga Iran menyetujui tuntutan Amerika, meskipun ada pernyataan dari pihak Iran.

Sepanjang pekan lalu, S&P 500 naik 4,5 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 7,2 persen. Nasdaq juga mencatatkan kenaikan selama 13 sesi berturut-turut pada Jumat, menyamai rekor yang terakhir terjadi pada 1992.

“Setelah Nasdaq reli selama 13 hari berturut-turut karena harapan tercapainya kesepakatan, kami mengakhiri pekan dalam kondisi jenuh beli dalam jangka pendek. Kini situasi dengan Iran menjadi semakin kompleks dan tidak pasti terkait kapan konflik ini akan berakhir dan kapan selat tersebut akan sepenuhnya dibuka tanpa risiko serangan,” ujar Chief Investment Officer OnePoint BFG Wealth Partners Peter Boockvar dalam email kepada CNBC.

“Satu-satunya pertanyaan untuk perdagangan Senin, dengan asumsi tidak ada perubahan berita, adalah seberapa dalam koreksi pasar yang akan terjadi,” tambahnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait