KABARBURSA - Calon Presiden RI, Ganjar Pranowo, mengungkapkan adanya anomali dalam perhitungan suaranya pada Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun ini.
Pernyataan tersebut muncul saat Pranowo ditanya mengenai kalahnya pasangan calon nomor urut 3 dari pasangan nomor urut 2 di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Tengah, berdasarkan penghitungan cepat (quick count) hingga saat ini.
"Hasil quick count perolehan PDI Perjuangan saya kira masih tinggi. Kalau enggak salah masih nomor satu, agak anomali dengan suara saya. Maka, hari ini sedang diselidiki oleh kawan-kawan. Mudah-mudahan nanti ketemu apa faktornya sepertinya split ticket-nya terlalu lebar," ujarnya di Jakarta, Kamis 15 Februari 2024.
Fenomena split ticket voting muncul karena adanya perbedaan pilihan dalam Pemilu Anggota DPR RI dengan partai politik A, sementara dalam pemilihan eksekutif (presiden), memilih paslon yang tidak berasal dari kelompok yang didukung oleh partai politik pilihannya.
Berdasarkan perhitungan cepat lembaga survei, PDI Perjuangan memperoleh suara tertinggi dengan rata-rata 15—16 persen hingga saat ini. Namun, paslon nomor urut 3 hanya meraih sekitar 15—16 persen atau berada di urutan terakhir.
Ganjar Pranowo menyatakan niatnya untuk meneliti penyebab split ticket voting seiring dengan menunggu hasil resmi rekapitulasi suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Prinsip kami, menunggu keputusan dari KPU. Apa pun yang diputuskan oleh KPU, kami akan ikuti. Kami menghormati semua proses," ungkap Ganjar.