Market Hari Ini 23 Jan 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Gen Z dan Trading Kripto: Tren Investasi Berisiko Tinggi

Kecenderungan ini mencerminkan pergeseran prioritas dalam pengelolaan keuangan personal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati perubahan signifikan dalam pola investasi generasi muda.

Ilustrasi Kripto. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Kripto. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati perubahan signifikan dalam pola investasi generasi muda. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa Generasi Z (Gen Z) cenderung memilih instrumen berisiko tinggi, termasuk aset kripto, sebuah dinamika yang berbeda jauh dari perilaku investasi generasi sebelumnya.

Mahendra menyebut bahwa kecenderungan ini mencerminkan pergeseran prioritas dalam pengelolaan keuangan personal. “Risk appetite mereka jauh lebih tinggi. Prioritasnya mungkin juga telah berubah,” ujarnya kepada media dikutip, Jumat 23 Januari 2026.

Fenomena ini menarik karena memperlihatkan cara pandang Gen Z terhadap uang yang lebih berani dan berbeda secara mendasar. Mahendra menegaskan bahwa minat mereka pada instrumen berisiko tinggi bukan semata-mata akibat rendahnya literasi finansial. Justru, mayoritas Gen Z sudah memahami risiko inheren dalam aset seperti kripto. Oleh sebab itu, metode edukasi konvensional mungkin tidak lagi relevan bagi generasi ini.

Menurut Mahendra, generasi sebelum Gen Z cenderung menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok sebagai prioritas utama. Sisa pendapatan baru dialokasikan untuk tabungan jangka pendek, tabungan jangka panjang, dan investasi berisiko rendah.

Di sisi lain, OJK menilai potensi inovasi teknologi dan keuangan digital tetap besar di panggung global. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) OJK, Hasan Fawzi, menyebut bahwa nilai pasar global sektor ini terus meningkat, dengan proyeksi mencapai 8.567,4 miliar dolar AS pada 2033.

Hasan menambahkan, Indonesia memiliki peluang strategis dalam pengembangan inovasi keuangan digital. Faktor demografi menjadi pendorong utama, ditopang penetrasi internet dan adopsi smartphone yang sangat tinggi. “Sekitar 74,6 persen penduduk Indonesia telah tersambung internet, setara 212 juta jiwa, dengan penetrasi smartphone yang luar biasa,” ujarnya.

Selain fintech konvensional, Hasan menyoroti pertumbuhan signifikan fintech syariah. Indonesia bahkan diprediksi menjadi negara ketiga paling kondusif bagi pengembangan ekosistem fintech syariah, memperkokoh posisi domestik dalam lanskap keuangan digital global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait