KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika menarik pada deretan saham yang memiliki imbal hasil atau yield tinggi. Investor mulai mencermati fundamental emiten sektor pertambangan dan industri pendukung yang menawarkan potensi dividen menggiurkan.
Pergerakan harga saham serta aksi investor asing menjadi indikator penting dalam menentukan strategi investasi jangka panjang.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, beberapa emiten seperti PSAB, HRTA, INCO, CTBN, dan SPTO menunjukkan volatilitas yang cukup beragam di bursa.
Para pelaku pasar memantau ketat bagaimana kinerja fundamental perusahaan mampu menopang harga saham di tengah fluktuasi pasar global.
Fokus utama tertuju pada kemampuan emiten dalam mempertahankan margin keuntungan dan konsistensi pembagian dividen kepada para pemegang saham.
Gerak Saham Para Emiten Yield Jumbo
Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatatkan pergerakan yang sangat dinamis dalam beberapa hari terakhir perdagangan di lantai bursa.
Pada penutupan bursa 5 Juni, harga saham PSAB melonjak signifikan 6,38 persen ke level Rp500 per lembar. Kenaikan tajam ini terjadi setelah saham PSAB sempat tertekan cukup dalam selama dua hari perdagangan berturut-turut.
Volume transaksi PSAB mencapai 1,65 juta lot dengan nilai total transaksi harian yang menembus angka Rp80,73 miliar. Meskipun harga mengalami kenaikan, investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp12,54 miliar.
Tren pelepasan saham oleh pemodal asing ini sudah berlangsung sejak awal Juni dengan akumulasi nilai jual yang cukup besar.
Beralih ke sektor perhiasan, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) justru mengalami tekanan jual yang cukup konsisten di pasar modal. Harga saham HRTA terkoreksi sebesar 2,61 persen dan berakhir di posisi Rp2.240 pada sesi penutupan perdagangan terakhir.
Penurunan ini memperpanjang tren negatif saham HRTA yang belum mampu keluar dari zona merah dalam sepekan terakhir.
Nilai transaksi harian HRTA tercatat sebesar Rp11,62 miliar dengan volume perdagangan mencapai 51,63 ribu lot. Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp3,31 miliar pada saham emiten emas yang dikenal rajin membagi dividen ini.
Tekanan jual asing yang terus berlanjut menjadi perhatian bagi investor yang mengharapkan stabilitas harga dari emiten yield tinggi.
Sementara itu, emiten nikel raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil menunjukkan performa yang cukup solid di lantai bursa. Harga saham INCO menguat 4,10 persen ke level Rp4.570 per lembar dengan nilai transaksi harian mencapai Rp177,99 miliar.
Penguatan ini menjadi angin segar bagi pemegang saham setelah INCO sempat anjlok cukup dalam pada hari sebelumnya.
Meskipun harga menguat tajam, investor asing justru melakukan aksi jual bersih yang cukup masif senilai Rp33,53 miliar. Hal ini menunjukkan adanya aksi ambil untung oleh pemodal mancanegara di tengah kenaikan harga saham yang terjadi secara signifikan.
Fundamental INCO yang kuat di sektor komoditas tetap menjadi daya tarik utama bagi para investor institusi maupun ritel.
Di sisi lain, PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) tampil sebagai salah satu emiten dengan persentase kenaikan harga tertinggi di pasar. Harga saham CTBN melesat 6,87 persen hingga mencapai level Rp6.225 per lembar saham pada sesi penutupan perdagangan.
Transaksi saham CTBN tergolong kurang likuid dengan nilai harian sebesar Rp195,93 juta dari volume perdagangan sebanyak 320 lot. Konsistensi kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya minat akumulasi yang cukup kuat pada saham industri pipa ini.
Sebagai emiten pendukung migas, CTBN sering dikaitkan dengan potensi pembagian dividen yang sangat stabil oleh para pelaku pasar.
Terakhir, saham PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) terpantau bergerak dalam rentang konsolidasi dengan kecenderungan yang sedikit melemah. Harga saham SPTO turun tipis 1,75 persen dan ditutup pada level Rp560 per lembar saham pada akhir pekan.
Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp1,01 miliar dengan volume perdagangan saham yang mencapai angka 17,95 ribu lot.
Investor asing masih dominan melakukan aksi jual bersih pada saham SPTO dengan nilai transaksi mencapai Rp282,60 juta pada penutupan bursa. Pergerakan saham emiten perlengkapan kamar mandi ini tampak masih mencari arah baru di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Meskipun demikian, fundamental SPTO yang stabil di sektor industri perlengkapan rumah tangga tetap patut diperhitungkan oleh investor.(*)