Market Hari Ini 16 Jun 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Yunila Wati

GOTO di Simpang Jalan Ekonomi Digital Indonesia Tahun 2025

GOTO akan buyback saham senilai Rp3,33 triliun dan mengganti direksi dalam RUPSLB 18 Juni 2025. Strategi ini dinilai sebagai upaya menuju profitabilitas.

GOTO buyback Rp3,33 T dan rombak direksi pada RUPSLB 18 Juni 2025. Langkah ini dorong efisiensi dan pergeseran ke arah profitabilitas.

Logo GOTO (Foto: Dok. GOTO)
Logo GOTO (Foto: Dok. GOTO)

KABARBURSA.COM - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau dalam kode emiten GOTO, pada 2025 ini terlihat melakukan banyak aksi korporasi dari mulai buyback atau pembelian saham kembali hingga rencana penggantian direksi yang bakal digelar dalam waktu dekat pada saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Juni 2025 nanti.

Ekonom dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai setelah satu dekade mengalami ekspansi besar-besaran, ekonomi digital Indonesia kini memasuki fase penentu. Tahun 2025 menjadi titik uji bagi para pemain utama seperti GOTO untuk menunjukkan apakah mereka sekadar mengikuti arus pasar atau benar-benar menjadi penggerak transformasi ekonomi nasional.

"Langkah efisiensi yang diambil GOTO, termasuk aksi korporasi dan buyback saham, memperlihatkan pergeseran serius ke arah profitabilitas. Ini bukan sekadar kalkulasi pasar modal, tetapi juga strategi bertahan dalam lanskap ekonomi digital yang semakin kompetitif," kata Syafruddin kepada KabarBursa.com pada Senin, 16 Juni 2025.

Menurut dia, sejumlah langkah strategis telah dilakukan GOTO untuk menghadapi tekanan profitabilitas dan ketatnya persaingan. Selain melakukan efisiensi besar-besaran, perusahaan juga menyelesaikan program buyback periode 2024–2025 sebanyak 32,18 miliar saham. 

Kini, rencana buyback lanjutan senilai Rp3,33 triliun untuk periode 2025–2026 tengah menunggu persetujuan RUPSLB. Di sisi lain, perubahan susunan direksi dan komisaris yang diumumkan pada kuartal I tahun ini mengindikasikan arah baru dalam strategi perusahaan.

"Langkah-langkah ini bukan tanda stagnasi, tapi refleksi dari kesadaran bahwa ekspansi saja tidak cukup. Sekarang pasar menuntut hasil nyata," ujar dia.

Dengan ekosistem yang telah dibangun mencakup layanan transportasi, logistik, dan pembayaran digital, GOTO kini dituntut untuk membuktikan bahwa seluruh infrastruktur tersebut mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan—baik bagi pelaku UMKM, konsumen, maupun ekonomi nasional secara lebih luas. Dalam hal ini, efisiensi logistik dan monetisasi layanan menjadi fokus utama.

Ia juga memberikan pandangan soal isu merger dengan Grab yang terus digoreng meski sempat dibantah oleh manajemen GOTO sendiri. Perusahaan dinilai tengah menghadapi spekulasi seputar kemungkinan merger dengan Grab Holdings, yang jika terwujud dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Namun, realisasi langkah tersebut tidak lepas dari tantangan regulasi lintas negara, perlindungan data pengguna, serta penyesuaian strategi pasar.

Meskipun manajemen telah menunjukkan arah yang lebih matang dan terstruktur, harga saham GOTO masih belum mencerminkan potensi jangka panjangnya. Hal ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara persepsi pelaku pasar dan fundamental yang tengah dibangun perusahaan.

“Investor masih menunggu pembuktian, bukan janji. Selama hasil nyata belum terlihat dalam kinerja keuangan dan pangsa pasar, saham GOTO akan tetap di bawah tekanan,” ujar dia.

Dalam konteks lebih luas, GOTO masih memegang peran penting dalam agenda transformasi digital nasional. Inisiatif mereka dalam mendigitalisasi pelaku UMKM, memperluas akses pembayaran nontunai, serta menyederhanakan rantai pasok menjadi komponen krusial dalam pembangunan ekonomi digital yang inklusif.

Namun tantangan struktural tetap membayangi, mulai dari infrastruktur digital yang belum merata, rendahnya literasi digital, hingga kerangka kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung inovasi jangka panjang. Jika GOTO tidak segera mengonsolidasikan peran dan asetnya secara efektif, momen keemasan bisa saja terlewatkan.

Sebaliknya, jika perusahaan ini berhasil melampaui identitasnya sebagai unicorn dan tampil sebagai aktor utama transformasi digital Indonesia, maka 2025 dapat menjadi awal dari babak baru ekonomi digital yang lebih matang, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait