Harga Emas Menguat Jelang Keputusan Perdana Kevin Warsh dan Ketidakpastian Iran

Harga emas dunia menguat menjelang keputusan suku bunga The Fed di bawah Kevin Warsh dan ketidakpastian damai AS-Iran.

Harga emas naik jelang keputusan pertama Kevin Warsh di The Fed, sementara ketidakpastian hubungan AS-Iran membayangi pasar.

Harga emas naik jelang keputusan pertama Kevin Warsh di The Fed, sementara ketidakpastian hubungan AS-Iran membayangi pasar. Foto: Dok. KabarBursa.
Harga emas naik jelang keputusan pertama Kevin Warsh di The Fed, sementara ketidakpastian hubungan AS-Iran membayangi pasar. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM — Harga emas kembali merangkak naik pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 WIB, saat pelaku pasar memilih menahan napas sambil menunggu keputusan kebijakan moneter pertama Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Di saat yang sama, investor juga masih mencermati perkembangan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum benar-benar final.

Dilansir dari Reuters, Kamis, Harga emas spot naik 0,3 persen menjadi USD 4.344,47 per ons atau sekitar Rp73,86 juta per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 0,2 persen ke level USD 4.364,70 per ons atau sekitar Rp74,20 juta per ons.

Pedagang logam independen Tai Wong menilai kenaikan harga emas terjadi karena sebagian investor berharap Kevin Warsh akan mengambil sikap yang lebih lunak terhadap kebijakan suku bunga.

“Pembeli emas tampaknya bertaruh bahwa Warsh akan bersikap lebih dovish hari ini. Itu membuat harga emas terus bergerak naik meski pasar saham biasa saja, imbal hasil obligasi meningkat, dan dolar AS juga menguat,” ujar Wong.

Pasar kini menanti pengumuman suku bunga, pernyataan kebijakan, serta proyeksi ekonomi terbaru Federal Reserve yang dijadwalkan dirilis pada pukul 14.00 waktu setempat. Setelah itu, Warsh yang bulan lalu menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed akan menggelar konferensi pers.

Analis Riset Senior FXTM Lukman Otunuga mengatakan arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada level teknikal penting.

“Jika level USD 4.300 per ons atau sekitar Rp73,10 juta mampu bertahan sebagai area dukungan yang kuat, harga berpotensi naik menuju USD 4.350 per ons atau sekitar Rp73,95 juta. Namun jika menembus ke bawah USD 4.300, tekanan jual bisa membawa harga kembali ke area dukungan USD 4.250 hingga USD 4.200 per ons,” kata Otunuga.

Pekan lalu, harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam hampir enam bulan. Saat itu, kekhawatiran inflasi akibat konflik Iran memicu spekulasi bahwa suku bunga AS akan kembali naik. Kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga.

Namun situasi berbalik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kerangka kesepakatan perdamaian yang meredakan sebagian ketegangan geopolitik.

Meski begitu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan yang dicapai pekan ini belum bersifat final. Ia bahkan membuka kemungkinan melanjutkan kampanye pengeboman apabila hasil akhir perundingan tidak sesuai dengan keinginannya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, ekonom Intesa Sanpaolo Daniela Corsini memperkirakan emas dan perak masih berpotensi mengalami titik terendah siklus harga pada akhir 2026 hingga awal 2027.

“Emas dan perak dapat mencapai titik terendah siklus antara akhir 2026 hingga awal 2027. Dalam skenario dasar kami, harga emas rata-rata dapat diperdagangkan di kisaran USD 4.000 per ons atau sekitar Rp68 juta pada akhir tahun, sementara harga perak dapat berada di sekitar USD 60 per ons atau sekitar Rp1,02 juta,” tulis Corsini dalam catatannya.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,2 persen menjadi USD 70,30 per ons atau sekitar Rp1,20 juta. Sementara platinum turun 1,2 persen ke level USD 1.782,23 per ons atau sekitar Rp30,30 juta dan paladium melemah 0,2 persen menjadi USD 1.349,36 per ons atau sekitar Rp22,94 juta.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait