KABARBURSA.COM — Harga emas dunia mulai turun pelan-pelan di tengah pasar yang lagi serba tanggung. Investor tampaknya mulai capek tegang menghadapi drama Amerika Serikat dan Iran yang maju satu langkah lalu mundur dua langkah.
Dilansir dari Reuters, pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, harga emas spot turun 0,3 persen ke level USD4.493,43 per ons atau sekitar Rp79,98 juta. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ikut turun 0,2 persen ke USD4.491,50 atau sekitar Rp79,94 juta.
Penurunan ini terjadi karena pasar mulai mencoba membaca arah konflik Timur Tengah yang belakangan makin absurd. Di satu sisi ada pembicaraan damai, di sisi lain misil masih beterbangan dekat Selat Hormuz.
Kepala Global Macro Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan pasar saat ini sebenarnya belum benar-benar tenang. Emas cuma sedang kehilangan tenaga setelah sebelumnya terlalu lama dipacu kepanikan.
“Kelihatannya tren keseluruhan sedang turun, tetapi kita mendapatkan periode konsolidasi yang panjang, dan saya pikir itulah yang sedang kita lihat hari ini,” kata Spivak.
Menurut dia, investor sekarang lebih fokus pada satu pertanyaan besar yang belum jelas jawabannya. Apakah konflik AS-Iran bakal benar-benar menemukan titik damai atau justru makin kacau.
“Pasar semakin fokus pada apakah kita benar-benar akan mendapatkan semacam terobosan dalam kisah AS-Iran ini,” ujarnya.
Masalahnya, sinyal damai itu sendiri masih setengah matang. Iran pada Selasa menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata setelah menyerang target di dekat Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang selama ini jadi urat nadi ekonomi global.
Tuduhan itu otomatis bikin harapan damai kembali goyah. Padahal sebelumnya kedua pihak sempat memberi sinyal bahwa kesepakatan awal untuk menghentikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran mulai menemukan titik terang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga belum bisa memberi kepastian. Ia bilang proses negosiasi masih butuh waktu. “Mungkin diperlukan beberapa hari untuk menegosiasikan kesepakatan guna menghentikan konflik,” kata Rubio.
Di luar drama geopolitik, investor juga sedang menunggu petunjuk baru dari bank sentral AS atau Federal Reserve. Pasar kini menanti komentar pejabat The Fed seperti Philip Jefferson dan Lisa Cook untuk membaca arah suku bunga berikutnya.
Data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis juga ikut jadi perhatian utama. Data ini penting karena bisa menentukan apakah The Fed bakal tetap galak terhadap inflasi atau mulai melunak.
Spivak menilai pergerakan inflasi dan obligasi sekarang jauh lebih menentukan arah emas dibanding sekadar sentimen aman akibat perang. Ia bahkan memperkirakan harga emas bisa turun lebih dalam jika tren saat ini berlanjut.
“Emas bisa turun serendah mungkin ke level USD3.700 hingga USD3.800 pada akhir tahun jika tren ini terus berlanjut,” katanya.
Kalau dihitung dengan kurs saat ini, level itu setara sekitar Rp65,86 juta sampai Rp67,64 juta per ons. Bukan cuma emas yang mulai letoy. Harga perak spot anjlok 1,8 persen ke USD75,58 atau sekitar Rp1,34 juta per ons. Platinum turun 1,6 persen ke USD1.928,65 atau sekitar Rp34,33 juta, sementara paladium melemah 0,8 persen ke USD1.368,34 atau sekitar Rp24,36 juta.
Di tengah situasi ini, pasar terlihat seperti orang yang terlalu lama nonton sinetron perang global. Awalnya panik, lalu terbiasa, dan akhirnya bingung sendiri apakah dunia benar-benar di ambang krisis atau cuma sedang memainkan drama tanpa ending.(*)