Harga Emas Naik Saat Gencatan Iran Diperpanjang

Harga emas naik setelah gencatan Iran diperpanjang, didorong pelemahan dolar dan meredanya tekanan pasar global.

Harga emas naik seiring gencatan Iran diperpanjang, dolar melemah dan aset risiko menguat di tengah ketidakpastian global.

Harga emas naik seiring gencatan Iran diperpanjang, dolar melemah dan aset risiko menguat di tengah ketidakpastian global. Foto: Dok. KabarBursa
Harga emas naik seiring gencatan Iran diperpanjang, dolar melemah dan aset risiko menguat di tengah ketidakpastian global. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Harga emas kembali menguat pada Kamis, 23 April 2026 WIB, seiring meredanya tekanan pasar global. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, yang membuat aset berisiko ikut bergerak naik dan dolar AS melemah.

Dilansir dari Reuters, emas spot tercatat naik sekitar 0,9 persen menjadi USD4.756,10 (Rp80,38 juta) per ons. Sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni juga naik 1,2 persen ke level USD4.774,60 (Rp80,70 juta).

Penguatan emas kali ini terjadi bukan karena ketegangan meningkat, melainkan karena tekanan likuidasi yang mulai mereda di pasar. “Emas tampaknya ikut naik bersama hampir semua aset berisiko saat ini. Ketika aset lain tertekan, emas ikut dijual. Ketika tekanan penjualan itu mereda, emas punya ruang untuk naik,” kata analis komoditas Nitesh Shah.

Di saat yang sama, pasar saham global menguat, sementara dolar AS melemah. Harga minyak juga bertahan di bawah USD100 (Rp1,69 juta) per barel, di tengah masih terganggunya jalur distribusi energi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran akan diperpanjang tanpa batas waktu untuk membuka ruang negosiasi lanjutan. Namun, belum ada kepastian apakah Iran dan Israel akan menyepakati langkah tersebut.

Meski tensi geopolitik sedikit mereda, kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran belum sepenuhnya berubah. Pemerintah tetap melanjutkan blokade laut terhadap perdagangan Iran, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan agresif.

Di sisi lain, harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi global. Dalam kondisi normal, emas kerap menjadi lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga tinggi membuat instrumen berbasis imbal hasil lebih menarik, sehingga membatasi kenaikan emas.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter juga masih menjadi faktor penahan. Kandidat Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan tidak ada komitmen untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Meski begitu, sebagian analis tetap melihat prospek emas masih positif dalam jangka menengah.

“Kami masih melihat peluang penurunan suku bunga dalam 12 bulan ke depan. Kami tetap optimistis terhadap emas, dengan target akhir tahun di USD5.900 (Rp99,71 juta) per ons, didorong suku bunga yang lebih rendah dan dolar yang melemah,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Selain emas, logam mulia lainnya juga menguat. Perak naik 1,6 persen menjadi USD77,94 (Rp1,32 juta) per ons, platinum naik 1,6 persen ke USD2.069,94 (Rp34,98 juta), dan paladium melonjak 2,3 persen ke USD1.568,30 (Rp26,51 juta).(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait