Harga Emas Turun Tipis, Pasar Dibayangi Suku Bunga dan Konflik Iran

Harga emas melemah setelah capai puncak sebulan, dipengaruhi konflik Iran dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Harga emas turun tipis usai capai level tertinggi, tertekan sentimen suku bunga AS dan ketidakpastian konflik Iran di Timur Tengah.

Harga emas turun tipis usai capai level tertinggi, tertekan sentimen suku bunga AS dan ketidakpastian konflik Iran di Timur Tengah. Foto: Dok. KabarBursa
Harga emas turun tipis usai capai level tertinggi, tertekan sentimen suku bunga AS dan ketidakpastian konflik Iran di Timur Tengah. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Harga emas dunia mulai kehilangan tenaga setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan. Penurunan ini terjadi di tengah tarik-menarik sentimen antara konflik geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Pada perdagangan Kamis, 16 April 2026 WIB, harga emas spot turun 0,7 persen ke level USD4.807,34 per ons atau setara sekitar Rp81,24 juta per ons. Sebelumnya, harga sempat mencapai posisi tertinggi sejak pertengahan Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga melemah 0,4 persen ke USD4.830,60 per ons atau sekitar Rp81,64 juta per ons.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai pergerakan ini lebih dipengaruhi aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya. “Emas dan perak saat ini hanya mengalami aksi ambil untung ringan dan wajar setelah mencapai level tertinggi semalam,” kata Wyckoff.

Ia menambahkan, pergerakan emas belakangan ini cenderung tidak sejalan dengan fungsi tradisionalnya sebagai aset lindung nilai.

“Harga emas sempat naik karena meningkatnya selera risiko, lalu turun saat pasar menghindari risiko. Ini berlawanan dengan peran emas sebagai aset safe haven. Saat ini pelaku pasar lebih fokus pada kebijakan moneter yang lebih ketat dan tekanan inflasi,” jelas Wyckoff.

Dari sisi geopolitik, pasar masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut perang tersebut mendekati akhir dan meminta dunia bersiap menghadapi “dua hari yang luar biasa”.

Namun di sisi lain, ketidakpastian tetap membayangi. Jalur pelayaran di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih, meski telah ada gencatan senjata selama dua pekan. Kondisi ini membuat harga minyak tetap stabil di level tinggi dan menjaga tekanan inflasi global.

Tekanan inflasi ini menjadi faktor penting bagi arah kebijakan suku bunga. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, bahkan menyebut pemangkasan suku bunga bisa tertunda lebih lama dari perkiraan.

“Bank sentral kemungkinan harus menunggu hingga 2027 untuk menurunkan suku bunga jika harga minyak tetap tinggi akibat konflik Iran,” kata Goolsbee.

Saat ini, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga tahun ini hanya sekitar 30 persen.

Kondisi suku bunga tinggi menjadi tekanan tersendiri bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kurang menarik ketika suku bunga meningkat karena biaya peluang menjadi lebih besar.

Di pasar logam lainnya, harga perak relatif stabil di USD79,58 per ons atau sekitar Rp1,34 juta per ons. Platinum naik tipis 0,2 persen ke USD2.108,79 per ons atau setara Rp3,56 juta per ons. Sementara palladium turun 1,2 persen ke USD1.568,15 per ons atau sekitar Rp2,64 juta per ons.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait