Market Hari Ini 29 Aug 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Harga Minyak Bangkit Usai Serangan Rusia ke Ukraina, Respons Trump dan Pasar Jadi Sorotan

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2025 ditutup naik 57 sen atau sekitar 0,8 persen

Harga minyak dunia kembali menguat, memulihkan diri dari tekanan awal perdagangan setelah Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump "tidak senang"

Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia kembali menguat, memulihkan diri dari tekanan awal perdagangan setelah Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump "tidak senang" atas serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina yang menggunakan rudal dan drone.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2025 ditutup naik 57 sen atau sekitar 0,8 persen, menetap di level USD68,62 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk periode yang sama menambahkan 45 sen atau 0,7 persen, ke posisi USD64,60 per barel.

Aksi militer Rusia kembali memicu ketegangan global. Serangan udara pada Kamis pagi menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, menewaskan sedikitnya 21 warga sipil, menurut pejabat setempat. Sebagai balasan, militer Ukraina melancarkan serangan drone terhadap dua kilang minyak di wilayah Rusia pada malam hari sebelumnya.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Trump akan menyampaikan pernyataan resmi terkait insiden ini pada Kamis malam. Sentimen pasar pun berbalik arah. Harga minyak yang sempat merosot hampir 1% di awal sesi, berbalik menguat setelah pernyataan itu beredar.

Faktor geopolitik bukan satu-satunya perhatian. India kini berada dalam tekanan diplomatik dari Amerika Serikat agar menghentikan impor minyak dari Rusia, menyusul langkah Trump yang menggandakan tarif impor barang dari India hingga 50 persen sehari sebelumnya.

Namun pasar tampaknya tak gentar. Eksportir memperkirakan pengiriman minyak Rusia ke India akan melonjak pada bulan September, mengisyaratkan penolakan terhadap tekanan Barat.

Meski begitu, tekanan harga masih terasa. Pada awal perdagangan, pasar sempat lesu akibat proyeksi turunnya permintaan bahan bakar pasca libur panjang Hari Buruh di AS. Di sisi lain, pasokan global juga bersiap bertambah.

Aliansi produsen minyak OPEC+ mengonfirmasi rencana untuk menambah pasokan sebesar 547.000 barel per hari mulai bulan depan. Kombinasi antara melemahnya permintaan dan lonjakan produksi diperkirakan akan mendorong kenaikan cadangan minyak global.

Menurut catatan Ritterbusch and Associates, kondisi ini dapat menekan harga kontrak minyak di berbagai tenor, terlebih memasuki musim gugur. Permintaan bensin yang melemah serta transisi kilang menuju produksi bahan bakar musim dingin yang cenderung lebih murah, menjadi faktor penekan tambahan.

Di sisi lain, pasokan dari Rusia juga menunjukkan tanda pemulihan. Jalur pipa Druzhba, yang sempat terganggu akibat serangan Ukraina pekan lalu, kini kembali mengalir normal ke Hongaria dan Slovakia. Informasi ini dikonfirmasi oleh perusahaan energi Hongaria, MOL, serta Kementerian Ekonomi Slovakia pada Kamis.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait