Harga minyak mentah Brent terjun bebas, merosot USD1,61 atau 1,96 persen hingga bertengger di angka USD80,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat ikut tergerus, kehilangan USD1,71 atau 2,14 persen dan berakhir di level USD78,35 per barel.
Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, menegaskan, sebelumnya pasar berekspektasi akan ada serangan balasan dari Iran ke Israel dalam hitungan 24 hingga 48 jam. Namun, lantaran tak terjadi, pasar akhirnya memangkas premi risiko geopolitik dari harga minyak. “Pasar bereaksi dengan memangkas premi risiko dari harga minyak,” ujar Flynn.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) masih bertahan dengan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2024, namun tak bisa mengelak memangkas perkiraan untuk 2025. Lemahnya konsumsi minyak di China menjadi biang keladi yang menyeret prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Namun, Senin, 12 Agustus 2024, menjadi titik balik Brent, melonjak lebih dari 3 persen, berlabuh di USD82,30 per barel setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam tujuh bulan di USD76,30. Pada hari yang sama, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) meralat proyeksi permintaan tahun 2024, meskipun OPEC+ berencana menggenjot produksi minyak mulai Oktober.
Gejolak Timur Tengah terus mengancam aliran minyak dari kawasan sentral itu. Meski begitu, ketakutan akan perang besar kian memudar setelah Iran mengisyaratkan niatnya untuk membuka pembicaraan gencatan senjata dengan Hamas, demi meredam serangan balasan.
“Kami melihat premi risiko geopolitik mulai menyusut,” ungkap Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch Associates, mencermati situasi yang tengah berkembang.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan, akhir pekan lalu, rencana pengiriman kapal selam bersenjata kendali ke Timur Tengah sebagai langkah pencegahan potensi serangan Iran dan sekutunya terhadap Israel. Ini bagian dari strategi memperlihatkan kekuatan dan kesiapan, memberi sinyal bahwa jika konflik meledak, dampaknya akan dahsyat.
Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho, New York, menjelaskan, langkah ini adalah upaya "menumpuk aset demi aset untuk menegaskan bahwa jika ketegangan membara, konsekuensinya akan sangat serius." Ketegangan ini meningkat setelah ancaman balasan dari Iran dan Hizbullah terhadap tindakan yang menargetkan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dan komandan militer Hizbullah, Fuad Shukr. Balasan ini berpotensi memicu perluasan konflik di Timur Tengah, yang pada gilirannya bisa mengoyak pasokan minyak global dan mengguncang harga.
Yawger juga menambahkan, serangan semacam ini bisa mendorong embargo baru Amerika Serikat terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang berpotensi menghapus 1,5 juta barel per hari dari pasar internasional.
Sementara itu, militer Israel terus menggempur kawasan Khan Younis di Gaza Selatan. Senin kemarin, setelah serangan udara akhir pekan yang menghantam kompleks sekolah, sedikitnya 90 nyawa melayang, menurut Layanan Darurat Sipil Gaza.
Meski demikian, Israel membantah angka tersebut, mengklaim laporan itu dilebih-lebihkan. Di sisi lain, Hamas tampaknya masih meragukan partisipasi dalam pembicaraan gencatan senjata baru yang diusulkan pada hari Minggu. (*)