Market Hari Ini 07 Nov 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Harga Minyak Dunia Anjlok, Investor Khawatirkan Kebijakan Trump

Harga Minyak Dunia Anjlok, Investor Khawatirkan Kebijakan Trump
Harga Minyak Dunia Anjlok, Investor Khawatirkan Kebijakan Trump

Daftar Isi

  1. 01 Dampak Kemenangan Trump pada Industri Minyak AS
  2. 02 Tren Global dan Kondisi Pasar Minyak

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia pada perdagangan Kamis pagi, 7 November 2024, anjlok. Investor terlalu khawatir dengan kebijakan yang akan diambil oleh Donald Trump.

Ya, Donald Trump telah mengumumkan kemenangannya atas Kamala Harris dalam Pemilu AS yang diselenggarakan pada 5 November 2024, waktu setempat. Kemenangan Trump membuat pasar global bergejolak.

Brent, sebagai patokan minyak dunia, turun sebesar 61 sen atau 0,81 persen menjadi USD74,92 per barel, dan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, melemah sebesar 30 sen atau 0,42 persen menjadi USD71,69 per barel.

Kemenangan Trump memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak. Pada awal sesi perdagangan, harga minyak sempat jatuh lebih dari USD2 per barel. Hal ini terjadi seiring penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi sejak September 2022.

Penguatan dolar membuat komoditas berdenominasi greenback, seperti minyak, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap minyak menurun, yang kemudian menekan harga.

Analis dari Price Futures Group Phil Flynn, menjelaskan bahwa aksi jual besar-besaran ini akhirnya mulai mereda.

"Semua kegembiraan dan antusiasme penjualan awal telah memudar dan saya pikir ada lebih banyak keuntungan daripada kerugian dalam jangka pendek," ungkapnya.

Investor mulai lebih fokus pada prospek pasokan dan permintaan jangka pendek, dengan pertimbangan bahwa meski ada tekanan dari penguatan dolar, dinamika di pasar minyak lebih kompleks.

Dampak Kemenangan Trump pada Industri Minyak AS

Seorang mitra di Again Capital, New York John Kilduff, menyatakan bahwa kemenangan Trump bisa memicu peningkatan produksi minyak di Amerika Serikat, yang berpotensi menciptakan kelebihan pasokan.

"Industri AS mungkin akan mengebor dirinya sendiri hingga terlupakan, yang dapat menyebabkan kelebihan pasokan," kata Kilduff.

Namun, ia juga mencatat bahwa reaksi awal pasar terhadap hasil pemilu dianggap berlebihan.

“Kepala yang lebih dingin akhirnya menang dan pasar ini memiliki banyak masalah di tangannya,” tambahnya, seraya mengutip konflik di Timur Tengah yang menjadi faktor penentu dalam keseimbangan pasokan minyak global.

Kemenangan Trump juga membawa potensi pembaruan sanksi terhadap negara-negara seperti Iran dan Venezuela.

Analis dari UBS Giovanni Staunovo, menyebut bahwa sanksi baru terhadap Iran dan Venezuela dapat menghilangkan sejumlah besar barel minyak dari pasar, yang pada akhirnya akan mendukung harga minyak dalam jangka panjang.

Iran, sebagai anggota OPEC, saat ini memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari, yang setara dengan 3 persen dari produksi minyak global.

Meski demikian, tindakan keras terhadap Iran mungkin tidak akan semudah yang dibayangkan. Menurut analis dari StoneX Alex Hodes, Iran telah menjadi ahli dalam menghindari sanksi, sehingga dampak dari kebijakan tersebut mungkin tidak akan signifikan.

Sementara itu, dukungan Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat meningkatkan ketidakstabilan di Timur Tengah, wilayah yang menjadi sumber utama produksi minyak dunia.

Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow, menjelaskan bahwa ketidakstabilan di kawasan tersebut bisa mendongkrak harga minyak jika gangguan pasokan terjadi.

Tren Global dan Kondisi Pasar Minyak

Meski ada kekhawatiran terkait geopolitik, tren yang lebih luas di pasar minyak global tetap menjadi faktor penting dalam menentukan prospek harga minyak ke depan.

Global Head of Commodity Markets di Rystad Energy Mukesh Sahdev, menyatakan bahwa OPEC+ masih memegang kendali atas pasokan minyak dunia, sementara permintaan yang lebih lemah dan peningkatan pasokan global terus menjadi tantangan bagi margin kilang.

Selain itu, inventaris minyak mentah di Amerika Serikat dilaporkan meningkat.

Data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika naik sebesar 2,1 juta barel menjadi 427,7 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 1 November, lebih tinggi dari ekspektasi kenaikan sebesar 1,1 juta barel.

Peningkatan stok minyak ini menambah tekanan terhadap harga, mencerminkan bahwa pasokan yang lebih tinggi dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya terus menekan pasar minyak global.

Merosotnya harga minyak dunia mencerminkan dinamika kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Sementara, aksi jual awal tampaknya berlebihan, investor kini lebih fokus pada masalah fundamental pasokan dan permintaan minyak global.

Kebijakan luar negeri Trump, termasuk potensi sanksi terhadap Iran dan Venezuela, serta konflik di Timur Tengah, dapat mempengaruhi pasokan minyak di masa depan dan memberikan dorongan terhadap harga minyak di jangka panjang.

Namun, dengan peningkatan persediaan minyak di AS dan tantangan dalam margin kilang, pasar minyak akan terus menghadapi tekanan dalam beberapa waktu mendatang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait