KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan sebanyak USD4 per barel ke level terendah dalam tiga bulan terakhir pada Senin, 15 Juni 2026. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat berdamai.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup di level USD83,17 per barel atau turun sebanyak 4,76 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS juga ditutup menyusut 4,87 persen ke harga USD80,75.
Diketahui, kesepakatan damai antara AS dan Iran telah ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, sang Wakil Presiden yakni JD Vance serta Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, menyampaikan jika draf kesepakatan damai tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran.
"Dengan kemungkinan besar akan ada pasokan minyak yang melimpah, aksi jual tampaknya dapat dibenarkan," kata Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di Bok Financial.
Perusahaan minyak milik negara Iran, National Iranian Oil Company, menyatakan Iran menurunkan harga jual resmi untuk minyak mentah ringan bagi pembeli di Asia menjadi USD7,15 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk bulan Juli. Harga ini turun drastis dibandingkan dengan premi bulan sebelumnya sebesar USD13 per barel.
Di sisi lain, Citi memangkas perkiraan rata-rata harga minyak mentah Brent menjadi USD75 dan USD70 per barel untuk kuartal III dan IV tahun 2026, masing-masing, dengan alasan harapan bahwa arus perdagangan di Selat Hormuz akan kembali normal.
Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, selama lebih dari tiga bulan. Belum jelas seberapa cepat barel-barel tersebut akan kembali ke pasar setelah jalur air tersebut dibuka kembali.
Neil Crosby, kepala penelitian di Sparta Commodities mengatakan pasca perang, yang perlu dan fokuskan ialah membangun rantai pasokan kapal dan memastikan semua kegiatan pelayaran berjalan lancar di Teluk Arab akan menjadi tantangan.
"Dan beberapa pemilik kapal akan ragu untuk memuat kapal tanpa muatan ke Teluk Arab sampai kita mendapat kabar dari perusahaan asuransi," kata dia.
Para investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang, dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut.
Menurut laporan terbaru Badan Energi Internasional, lebih dari 14 juta barel minyak per hari dihentikan, atau sekitar 14 persen dari permintaan dunia.
Para pejabat industri mengatakan, pemulihan penuh produksi dan pengolahan ke tingkat sebelum perang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Analis UBS Giovanni Staunovo menyebut tingkat persediaan minyak yang lebih rendah, proses yang lebih lambat untuk memulai kembali produksi, dan pengisian kembali persediaan minyak strategis akan mendukung harga minyak dalam jangka panjang. (*)