Harga Minyak Kembali Turun, Pasar Terpengaruh Rencana OPEC Tambah Produksi

Harga Brent dan WTI tergelincir setelah kabar OPEC+ akan menaikkan produksi pada Agustus, menyusul peningkatan pasokan di bulan Juli.

Harga minyak dunia turun setelah laporan rencana OPEC+ tambah produksi. Brent dan WTI melemah meski sempat menguat didorong permintaan musiman.

Harga minyak dunia turun setelah laporan rencana OPEC+ tambah produksi. Brent dan WTI melemah meski sempat menguat didorong permintaan musiman. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.
Harga minyak dunia turun setelah laporan rencana OPEC+ tambah produksi. Brent dan WTI melemah meski sempat menguat didorong permintaan musiman. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah global berbalik arah ke zona merah pada Sabtu, 28 Juni 2025, dini hari WIB, setelah laporan menyebutkan OPEC+ berencana menambah produksi pada Agustus mendatang. Kabar itu muncul hanya berselang dari rencana kenaikan produksi yang telah dijadwalkan pada Juli.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Sabtu, kontrak berjangka Brent turun 25 sen atau 0,37 persen menjadi USD67,48 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 20 sen atau 0,31 persen ke posisi USD65,04 per barel, per pukul 16.15 GMT.

Empat delegasi dari OPEC+—aliansi yang mencakup negara-negara anggota OPEC dan mitra non-OPEC—menyebutkan blok produsen ini akan menambah pasokan sebesar 411 ribu barel per hari pada Agustus. Angka itu sama besar dengan peningkatan produksi yang sebelumnya dijadwalkan pada Juli.

“Begitu laporan soal kenaikan produksi dari OPEC keluar, harga langsung terjun,” ujar Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group.

Sebelum kabar itu muncul, harga minyak sebenarnya sudah tertekan karena sentimen damai di Timur Tengah. Dalam sepekan, Brent telah mencatatkan penurunan hingga 12 persen setelah gencatan senjata diumumkan antara Israel dan Iran.

Perang dua negara itu berlangsung selama 12 hari sejak 13 Juni, ketika Israel menyerang fasilitas nuklir Iran. Brent sempat melonjak di atas USD80 per barel, namun kemudian merosot ke kisaran USD67 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata.

“Pasar nyaris sepenuhnya mengabaikan premi risiko geopolitik yang sempat dominan seminggu lalu. Kini pasar kembali berpijak pada fundamental,” kata analis Rystad Energy, Janiv Shah.

Ia menambahkan, pasar juga menanti pertemuan OPEC+ pada 6 Juli. Sinyal permintaan sepanjang musim panas turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Flynn menyebut ekspektasi kenaikan konsumsi bahan bakar pada bulan-bulan mendatang sempat mendorong harga minyak di sesi awal perdagangan Jumat. “Kita melihat premi permintaan mulai kembali ke harga minyak,” katanya.

Sentimen positif sempat menguat sebelumnya setelah laporan inventori menunjukkan penurunan tajam stok distilat menengah, seperti solar dan avtur. Data dari Energy Information Administration (EIA) pada Rabu lalu menyebutkan bahwa stok minyak dan bahan bakar di AS turun akibat peningkatan aktivitas kilang dan permintaan yang membaik.

Sehari berselang, laporan menunjukkan cadangan gasoil yang disimpan secara independen di hub penyimpanan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) menyentuh titik terendah dalam setahun. Tren serupa juga terjadi di Singapura, yang mencatat penurunan stok distilat menengah di tengah peningkatan ekspor bersih secara mingguan.

Sementara itu, China mencatat lonjakan impor minyak mentah dari Iran pada Juni. Para analis menyebut kenaikan ini dipicu percepatan pengiriman sebelum konflik Iran-Israel pecah, serta peningkatan permintaan dari kilang independen di negeri tersebut.

Sebagai importir minyak terbesar dunia, China membeli lebih dari 1,8 juta barel per hari minyak mentah Iran pada periode 1–20 Juni. Angka itu merupakan rekor tertinggi menurut data pelacakan kapal dari Vortexa.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait