Harga Minyak Masih di Atas USD100, Trump Klaim Perang Iran Segera usai

Harga minyak bertahan tinggi meski Trump optimistis perang Iran berakhir, pasar khawatir pasokan global makin menipis.

Harga minyak dunia tetap tinggi di tengah perang Iran. Pasar khawatir pasokan global terganggu dan cadangan minyak menyusut.

Harga minyak dunia tetap tinggi di tengah perang Iran. Pasar khawatir pasokan global terganggu dan cadangan minyak menyusut. Foto: Dok. Pertamina.
Harga minyak dunia tetap tinggi di tengah perang Iran. Pasar khawatir pasokan global terganggu dan cadangan minyak menyusut. Foto: Dok. Pertamina.

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia mulai bergerak turun pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengklaim bahwa perang dengan Iran akan berakhir “sangat cepat”. Namun, pasar belum benar-benar tenang.

Investor masih menahan napas karena perundingan damai antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kepastian, sementara gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah terus berlangsung akibat konflik.

Dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent tercatat turun 45 sen atau sekitar 0,4 persen menjadi USD110,83 per barel (sekitar Rp1,96 juta). Sementara minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah 27 sen atau 0,3 persen ke level USD103,88 per barel (sekitar Rp1,83 juta).

Sehari sebelumnya, kedua kontrak minyak sempat terkoreksi hampir USD1 setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan antara Amerika dan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak sama-sama tidak menginginkan perang kembali pecah.

Namun pasar energi tampaknya tidak sepenuhnya percaya bahwa risiko sudah berlalu. Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, mengatakan investor kini lebih fokus mengukur apakah AS dan Iran benar-benar mampu mencapai titik temu politik.

“Investor ingin melihat apakah Washington dan Teheran benar-benar dapat menemukan titik temu dan mencapai kesepakatan damai, sementara sikap Amerika Serikat berubah hampir setiap hari,” ujarnya.

Menurut Tazawa, harga minyak kemungkinan masih bertahan tinggi karena ancaman serangan lanjutan Amerika terhadap Iran belum hilang. Bahkan jika kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak global dinilai tidak akan segera kembali normal seperti sebelum perang.

“Harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi mengingat adanya kemungkinan serangan AS kembali terhadap Iran dan ekspektasi bahwa, bahkan jika kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak mentah tidak akan cepat kembali ke level sebelum perang,” katanya.

Pernyataan Trump menjadi salah satu faktor yang membuat pasar energi sulit membaca arah. Pada Selasa malam waktu setempat, Trump mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa konflik dengan Iran bisa selesai dengan cepat.

Namun sebelumnya ia justru menyebut Amerika mungkin perlu kembali menyerang Iran dan mengaku sempat berada satu jam dari keputusan memerintahkan serangan sebelum akhirnya ditunda.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengaku menahan rencana lanjutan operasi militer menyusul proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran. Trump juga menyebut para pemimpin Iran saat ini sedang berupaya keras mencapai kesepakatan.

“Iran sedang memohon untuk membuat kesepakatan,” ujar Trump, sembari memperingatkan serangan baru dapat terjadi dalam beberapa hari jika negosiasi gagal.

Kontradiksi sinyal dari Gedung Putih inilah yang membuat pelaku pasar tetap memasang premi risiko tinggi terhadap harga minyak. Konflik Iran dan Israel yang melibatkan dukungan Amerika Serikat telah menciptakan gangguan besar terhadap jalur energi global.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), perang menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz—jalur pelayaran yang biasanya mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Gangguan ini dipandang sebagai krisis pasokan minyak terbesar saat ini. Artinya, persoalan pasar bukan semata soal perang, tetapi apakah dunia masih mampu menjaga pasokan energi ketika salah satu jalur distribusi utama lumpuh.

Bank investasi Citi memperkirakan harga minyak Brent dalam jangka pendek dapat melonjak hingga USD120 per barel (sekitar Rp2,12 juta). Prediksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa pasar masih meremehkan risiko gangguan pasokan berkepanjangan serta kemungkinan skenario ekstrem yang lebih luas.

Untuk menutupi kekurangan pasokan akibat perang, banyak negara mulai mengandalkan cadangan minyak komersial maupun cadangan strategis. Namun ruang manuver itu semakin terbatas.

Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun selama lima pekan berturut-turut. Stok bahan bakar juga ikut berkurang.

Sementara survei Reuters memperkirakan cadangan minyak mentah AS kembali menyusut sekitar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei 2026. Jika benar, berarti stok minyak AS berkurang setara hampir 34 kapal tanker berkapasitas 100 ribu barel hanya dalam satu pekan.

Penyusutan beruntun ini menjadi sinyal bahwa dunia mulai mengonsumsi cadangan lebih cepat dibanding kemampuan mengganti pasokan baru. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga minyak masih sulit turun jauh meski Trump berulang kali menyampaikan optimisme soal perdamaian.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait