Harga Minyak Melambung Dua Persen, Ketegangan Rusia-Ukraina dan Iran Jadi Pemicu

Harga minyak dunia naik 2 persen setelah ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan Iran-AS memicu kekhawatiran sanksi jangka panjang.

Minyak Brent tembus USD 65,63 dan WTI ke USD 63,41. Konflik Rusia-Ukraina dan Iran-AS dorong pasar energi waspada terhadap risiko suplai global.

Ilustrasi: Minyak Brent tembus USD 65,63 dan WTI ke USD 63,41. Konflik Rusia-Ukraina dan Iran-AS dorong pasar energi waspada terhadap risiko suplai global. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.
Ilustrasi: Minyak Brent tembus USD 65,63 dan WTI ke USD 63,41. Konflik Rusia-Ukraina dan Iran-AS dorong pasar energi waspada terhadap risiko suplai global. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM — Harga minyak mentah dunia kembali menguat sekitar dua persen pada Rabu, 4 Juni 2025 karena terdorong oleh kekhawatiran pasar atas ketegangan geopolitik yang belum mereda. Sengketa Rusia–Ukraina yang berlarut dan ketegangan diplomatik Amerika Serikat–Iran diperkirakan bakal memperpanjang masa sanksi terhadap dua anggota OPEC+, yaitu Rusia dan Iran.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Rabu, harga minyak Brent ditutup naik satu dolar atau 1,5 persen ke level USD 65,63 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 89 sen atau 1,4 persen dan berakhir di posisi USD 63,41 per barel.

Lembaga konsultan energi Ritterbusch and Associates menyebutkan pasar kini kembali dihantui oleh “risk premium”, seiring kecilnya peluang tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina maupun kesepakatan nuklir antara AS dan Iran dalam waktu dekat.

“Prospek gencatan senjata Rusia-Ukraina dan perjanjian nuklir Iran tampaknya mundur lagi beberapa pekan, bahkan bulan,” tulis Ritterbusch dalam catatan analisnya.

Pemerintah Rusia sendiri mengakui bahwa proses negosiasi perdamaian berlangsung sangat kompleks dan tak bisa diharapkan menghasilkan keputusan besar dalam waktu dekat. Mereka menyebut masih menunggu tanggapan dari pihak Ukraina atas proposal terakhir yang diajukan.

Sebagai informasi, Rusia merupakan anggota OPEC+ dan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat pada 2024, berdasarkan data resmi energi AS. Adapun Iran menduduki peringkat ketiga produsen terbesar di lingkup OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.

Iran sendiri, menurut laporan terbaru, kemungkinan besar akan menolak proposal perjanjian nuklir yang diajukan Amerika Serikat. Padahal, kesepakatan ini menjadi kunci untuk pelonggaran sanksi terhadap sektor minyak Iran.

Di sisi lain, gangguan pasokan juga muncul dari Kanada. Kebakaran hutan besar di wilayah Alberta dilaporkan telah mempengaruhi produksi minyak pasir sekitar 344.000 barel per hari—atau setara 7 persen dari total output minyak mentah nasional, berdasarkan perhitungan Reuters.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait