Harga Minyak Melemah, Pasar Masih Cermati Dampak Sanksi Rusia

Pasar energi global waspada. Ketegangan tarif AS dan sanksi Eropa terhadap Rusia menambah beban pada harga minyak mentah.

Harga minyak dunia turun 2 persen sepekan terakhir. Pasar mencermati sanksi baru Uni Eropa dan ancaman tarif AS terhadap mitra dagang.

Harga minyak dunia turun 2 persen sepekan terakhir. Pasar mencermati sanksi baru Uni Eropa dan ancaman tarif AS terhadap mitra dagang. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Harga minyak dunia turun 2 persen sepekan terakhir. Pasar mencermati sanksi baru Uni Eropa dan ancaman tarif AS terhadap mitra dagang. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 Sanksi Eropa dan Ketegangan Pasokan

KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah dunia nyaris tak bergerak pada perdagangan Sabtu, 19 Juli 2025, dini hari WIB, di tengah kabar campur aduk soal ekonomi Amerika Serikat dan kekhawatiran pasokan global pasca-sanksi terbaru Uni Eropa terhadap Rusia.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, kontrak Brent untuk pengiriman berjangka ditutup melemah tipis 0,3 persen ke level USD69,28 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3 persen ke USD67,34. Dalam sepekan, kedua benchmark utama ini sama-sama mencatat penurunan sekitar 2 persen.

Di Amerika Serikat, pembangunan rumah tapak (single-family housing) tercatat turun ke titik terendah dalam 11 bulan terakhir pada Juni. Suku bunga hipotek yang masih tinggi serta ketidakpastian ekonomi membuat pembelian rumah melemah. Namun, survei terpisah justru menunjukkan sentimen konsumen membaik pada Juli, diiringi penurunan ekspektasi inflasi.

Kabar ini memberi harapan bahwa Federal Reserve bisa segera melonggarkan kebijakan moneternya. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendongkrak daya beli masyarakat dan mendukung permintaan energi, termasuk minyak.

Namun sentimen pasar kembali diuji setelah laporan Financial Times menyebut Presiden Donald Trump mendorong tarif minimum 15–20 persen dalam kesepakatan dagang dengan Uni Eropa. Bahkan jika kesepakatan tercapai, pemerintahan Trump dikabarkan mengincar tarif timbal balik di atas 10 persen.

Para analis Citigroup memperkirakan, jika skema ini berjalan penuh, tarif efektif AS bisa menembus 25 persen—melampaui rekor era 1930-an. Imbasnya, inflasi bisa kembali meningkat dan menekan konsumsi.

Sanksi Eropa dan Ketegangan Pasokan

Dari Eropa, Uni Eropa resmi mengesahkan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina. Sanksi ini menyasar industri minyak dan energi, termasuk larangan impor produk minyak olahan dari minyak mentah Rusia. Kendati demikian, impor dari negara mitra seperti Norwegia, Inggris, Kanada, AS, dan Swiss tetap diizinkan.

Reaksi pasar terhadap sanksi baru ini terbilang datar. Lembaga riset Capital Economics menilai investor masih skeptis terhadap efektivitas langkah tersebut, baik dari Eropa maupun dari ancaman tarif AS. “Pasar meragukan Trump akan benar-benar mengeksekusi ancamannya,” tulis laporan mereka.

Uni Eropa juga menetapkan kilang minyak terbesar Rosneft di India sebagai bagian dari subjek sanksi. India sendiri saat ini merupakan importir terbesar minyak mentah Rusia, disusul Turki di posisi ketiga, menurut data Kpler.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran pasokan diesel untuk Eropa. “India selama ini jadi sumber utama pasokan,” kata Janiv Shah, Wakil Presiden Riset Minyak Rystad Energy.

Sementara itu, dari dunia korporasi energi, raksasa minyak Chevron resmi menyelesaikan akuisisi perusahaan energi Hess senilai USD55 miliar. Transaksi ini mengukuhkan posisi Chevron dalam mengakses ladang minyak terbesar dalam beberapa dekade terakhir di lepas pantai Guyana, setelah memenangi sengketa hukum melawan Exxon Mobil.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait