Harga Minyak Menguat Jelang Keputusan OPEC+ dan Batas Tarif Trump

Minyak Brent naik ke USD67,11 per barel di tengah sinyal permintaan kuat, sementara pasar waspada menanti keputusan OPEC+ dan kebijakan tarif Trump.

Harga minyak naik tipis didorong data permintaan China dan prediksi OPEC+ tambah produksi. Investor cermati tenggat tarif Trump 9 Juli.

Harga minyak naik tipis didorong data permintaan China dan prediksi OPEC+ tambah produksi. Investor cermati tenggat tarif Trump 9 Juli. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Harga minyak naik tipis didorong data permintaan China dan prediksi OPEC+ tambah produksi. Investor cermati tenggat tarif Trump 9 Juli. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Rabu, 2 Juli 2025, dini hari WIB, karena ditopang data permintaan yang positif meski pasar tetap waspada menjelang pertemuan OPEC+ yang akan menentukan kebijakan produksi Agustus.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Rabu, Minyak Brent ditutup naik 37 sen atau 0,6 persen menjadi USD67,11 per barel (sekitar Rp1.094.893), sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 34 sen atau 0,5 persen ke USD65,45 per barel (sekitar Rp1.067.835).

Randall Rothenberg, pakar intelijen risiko dari broker energi Liquidity Energy, mengatakan kenaikan ini kemungkinan dipicu oleh survei swasta di China yang menunjukkan aktivitas manufaktur kembali tumbuh pada Juni.

Selain itu, ekspektasi bahwa Arab Saudi akan menaikkan harga jual minyak untuk kawasan Asia ke level tertinggi dalam empat bulan serta premi yang kuat pada minyak Rusia jenis ESPO turut memperkuat sinyal permintaan.

Meski begitu, lonjakan harga dibatasi oleh dugaan bahwa OPEC+ akan kembali menaikkan produksi minyak pada Agustus sebesar 411.000 barel per hari, serupa dengan peningkatan yang disepakati pada Mei hingga Juli. Empat sumber OPEC+ menyebutkan kepada Reuters bahwa keputusan ini akan dibahas dalam pertemuan 6 Juli mendatang.

“Seluruh perhatian tertuju pada keputusan OPEC+ akhir pekan ini. Kelompok ini diperkirakan menambah 411.000 barel per hari untuk merebut pangsa pasar dari produsen shale AS,” ujar analis energi StoneX, Alex Hodes.

Langkah ini juga dinilai sebagai strategi menghukum anggota OPEC+ yang memproduksi melebihi kuota. Kazakhstan, salah satu dari sepuluh produsen minyak terbesar dunia, diketahui meningkatkan produksinya bulan lalu hingga menyamai rekor tertinggi, menurut sumber data kepada Reuters.

Arab Saudi, pemimpin de facto OPEC+, juga mencatat ekspor minyak mentah tercepat dalam setahun pada Juni, menurut data dari Kpler. “Ekspor Saudi membanjiri pasar lebih cepat dari yang disepakati dalam perjanjian OPEC+, bahkan di musim panas ketika permintaan domestik biasanya menyerap pasokan lokal,” kata Hodes.

Di Amerika Serikat, stok minyak mentah naik 680.000 barel dalam sepekan terakhir, menurut sumber yang mengutip data American Petroleum Institute. Data resmi dari Energy Information Administration akan dirilis Rabu pukul 10:30 pagi waktu setempat.

Investor turut memantau arah negosiasi perdagangan menjelang tenggat tarif Presiden Donald Trump pada 9 Juli. Trump menyatakan tidak berencana memperpanjang tenggat tersebut. Menteri Keuangan Scott Bessent mengungkapkan kesepakatan dagang dengan India hampir rampung, meski peluang perjanjian dengan Jepang masih diragukan.

Bessent juga memperingatkan bahwa negara-negara mitra bisa tetap terkena tarif tinggi meskipun tengah bernegosiasi, karena tarif yang saat ini berlaku 10 persen akan kembali ke tarif lebih tinggi yang diumumkan Trump pada 2 April dan kemudian ditangguhkan.

Diplomat Uni Eropa kepada Reuters menyampaikan bahwa mereka menuntut keringanan tarif secara langsung di sektor-sektor utama sebagai syarat untuk menyepakati kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait