Harga Minyak Naik, Pasar Gelisah Menanti Hasil Negosiasi Nuklir Iran

Harga minyak naik tipis jelang libur Memorial Day, di tengah kekhawatiran pasar atas nasib perundingan nuklir Iran dan potensi lonjakan pasokan OPEC+.

Brent naik ke USD64,78 dan WTI ke USD61,53 per barel, diwarnai ketegangan negosiasi nuklir Iran dan rencana OPEC+ naikkan produksi Juli mendatang.

Ilustrasi: Harga minyak Brent naik ke USD64,78 dan WTI ke USD61,53 per barel, diwarnai ketegangan negosiasi nuklir Iran dan rencana OPEC+ naikkan produksi Juli mendatang. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.
Ilustrasi: Harga minyak Brent naik ke USD64,78 dan WTI ke USD61,53 per barel, diwarnai ketegangan negosiasi nuklir Iran dan rencana OPEC+ naikkan produksi Juli mendatang. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah dunia menanjak tipis pada Sabtu, 24 Mei 2025, dini hari WIB. Kenaikan ini didorong oleh aksi beli dari pelaku pasar Amerika Serikat menjelang libur panjang Memorial Day. Namun di balik pergerakan harga, kegelisahan justru menyelimuti pasar karena adanya perundingan nuklir antara AS dan Iran di Roma tak menunjukkan titik terang.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Sabtu, Brent crude ditutup naik 34 sen menjadi USD64,78 per barel (Rp1,06 juta) atau naik 0,54 persen. Sementara WTI (West Texas Intermediate) juga menguat 33 sen ke level USD61,53 per barel (Rp1,01 juta), juga naik 0,54 persen.

Menurut analis senior dari Price Futures Group, Phil Flynn, pelaku pasar melakukan aksi short covering sebelum akhir pekan. “Libur Memorial Day menandai dimulainya musim berkendara di AS, saat konsumsi bahan bakar biasanya melonjak. Mereka tak mau ambil risiko,” ujarnya.

Namun bukan sekadar libur panjang yang jadi perhatian. Di Roma, para negosiator AS dan Iran kembali duduk satu meja membahas masa depan program nuklir Teheran.

Ketegangan meningkat karena belum ada kepastian tercapainya kesepakatan. Jika perundingan gagal, pasar khawatir pasokan minyak global terganggu. Bahkan, menurut Flynn, “Jika ini pertemuan terakhir dan gagal juga, bisa saja Israel mendapat lampu hijau untuk menyerang Iran.”

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menambah beban sentimen dengan menyatakan bakal memberlakukan tarif 50 persen terhadap barang-barang dari Uni Eropa mulai 1 Juni. Ia menyebut blok tersebut “sulit diajak kerja sama” dalam urusan dagang.

“Pasar minyak sedang ditekan dari dua arah,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates. “Satu sisi menanti dampak kebijakan tarif terhadap permintaan minyak, sisi lain menunggu langkah OPEC+ yang kemungkinan kembali menaikkan produksi.”

OPEC+, aliansi antara negara-negara produsen minyak utama yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia, dijadwalkan bertemu pekan depan. Dalam pertemuan tersebut, mereka diperkirakan akan menyetujui tambahan produksi sebesar 411 ribu barel per hari untuk Juli.

Bulan ini, Reuters juga melaporkan OPEC+ kemungkinan akan mencabut sisa pemangkasan sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari secara bertahap hingga akhir Oktober. Mereka sebelumnya sudah menambah target produksi sekitar 1 juta barel per hari untuk April, Mei, dan Juni.

Pasar minyak sedang memasuki persimpangan rumit. Dari satu sisi dibayangi perang tarif, dari sisi lain dihantui kegagalan diplomasi nuklir. Dan seperti biasa, yang kena getahnya lebih dulu: harga di pom bensin dan likuiditas pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait