Harga Minyak Naik Tipis Meski Chevron Diizinkan Produksi Lagi di Venezuela

Harga minyak dunia naik tipis didorong penurunan stok AS dan rencana Rusia memangkas ekspor bensin, meski Chevron mendapat lampu hijau di Venezuela.

Minyak dunia menguat tipis setelah data penarikan stok AS dan ekspor Rusia, meski Chevron boleh produksi lagi di Venezuela.

Minyak dunia menguat tipis setelah data penarikan stok AS dan ekspor Rusia, meski Chevron boleh produksi lagi di Venezuela. Foto: Dok. Pertamina.
Minyak dunia menguat tipis setelah data penarikan stok AS dan ekspor Rusia, meski Chevron boleh produksi lagi di Venezuela. Foto: Dok. Pertamina.

KABARBURSA.COM – Harga minyak global naik sekitar satu persen pada Jumat, 25 Juli 2025, dini hari WIB, karena ditopang oleh penurunan stok minyak mentah AS dan rencana Rusia membatasi ekspor bensin. Kenaikan ini terjadi meski muncul kabar bahwa pemerintah Amerika Serikat akan memberikan lampu hijau bagi Chevron untuk kembali beroperasi di Venezuela.

Dilansir dari Reuters, harga minyak Brent ditutup pada level USD69,18 per barel, naik 67 sen atau sekitar 0,98 persen. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 78 sen ke posisi USD66,03 per barel.

Sebelumnya, pasar sempat melemah usai muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang bersiap membuka kembali akses terbatas bagi operasi minyak AS di Venezuela—negara anggota OPEC yang masih berada di bawah sanksi Washington.

“Berita bahwa Chevron bisa kembali beroperasi di Venezuela langsung membuat pasar tertekan,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital LLC. Namun ia menekankan bahwa peluang ini dipandang sebagai kebijakan satu kali, bukan pelonggaran menyeluruh.

Di sisi lain, harga minyak kembali menguat menjelang akhir sesi setelah laporan menyebutkan Rusia berencana menghentikan ekspor bensin ke hampir semua negara, kecuali sekutu dekat dan negara-negara dengan perjanjian pasokan seperti Mongolia.

“Rencana pemangkasan ekspor bensin oleh Rusia memberi dorongan baru bagi pasar,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group. Ia menyebut pelaku pasar memang sedang mencari alasan untuk mendorong harga naik.

Sentimen positif juga datang dari data penurunan stok minyak mentah AS serta optimisme tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Uni Eropa yang berpotensi menurunkan tarif.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan cadangan minyak mentah turun 3,2 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh lebih besar dari ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan hanya 1,6 juta barel.

“Penarikan stok minyak AS serta upaya kesepakatan dagang menambah faktor pendukung harga,” ujar Janiv Shah, analis di Rystad Energy.

Pada Rabu, dua diplomat Eropa menyatakan bahwa AS dan Uni Eropa makin dekat pada kesepakatan dagang baru yang bisa mencakup tarif dasar sebesar 15 persen untuk produk impor dari Eropa, namun dengan sejumlah pengecualian. Kesepakatan ini bisa menjadi langkah lanjutan setelah AS meneken perjanjian perdagangan serupa dengan Jepang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait