Harga Minyak Naik usai Trump Sebut Kesepakatan Iran Belum Final

Harga minyak dunia menguat setelah Trump menyebut kesepakatan AS-Iran belum final, sementara risiko konflik masih membayangi.

Pernyataan Donald Trump soal kesepakatan dengan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar dan mendorong harga minyak dunia menguat.

Harga minyak dunia menguat setelah Trump menyebut kesepakatan AS-Iran belum final, sementara risiko konflik masih membayangi. Foto: Getty Images via SCMP.
Harga minyak dunia menguat setelah Trump menyebut kesepakatan AS-Iran belum final, sementara risiko konflik masih membayangi. Foto: Getty Images via SCMP.

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia kembali menanjak pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 WIB, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang membuat pasar energi kembali waswas. Kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang sebelumnya dianggap meredakan ketegangan ternyata disebut belum benar-benar final.

Pernyataan itu membuat pelaku pasar kembali menghitung risiko geopolitik di Timur Tengah. Alhasil, harga minyak yang sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir berbalik menguat lebih dari 1 persen.

Dilansir dari Reuters, Kamis, Minyak mentah Brent naik 89 sen atau sekitar 1,1 persen menjadi USD79,85 per barel (sekitar Rp1,36 juta). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 91 sen atau 1,2 persen menjadi USD76,96 per barel (sekitar Rp1,31 juta). Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak awal Maret.

Trump mengatakan nota kesepahaman yang telah disepakati dengan Iran masih belum bersifat final. Ia bahkan membuka kemungkinan melanjutkan kampanye pengeboman apabila tidak puas terhadap hasil kesepakatan atau jika Iran dianggap tidak menunjukkan perilaku yang sesuai keinginan Washington.

“Masih ada sedikit ketidakpastian terkait situasi Amerika Serikat. Wajar jika harga minyak memantul dari level saat ini setelah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir,” ujar analis pasar City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada.

Di saat yang sama, ketegangan kawasan juga belum benar-benar mereda. Serangan udara dan tembakan artileri Israel kembali terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan sepanjang Rabu. Sumber keamanan Lebanon menyebut kelompok Hizbullah turut melancarkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel di kawasan tersebut.

Padahal, nota kesepahaman yang ditandatangani pada Minggu lalu mengatur penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Dari sisi pasokan, pasar mendapat sentimen positif setelah persediaan minyak mentah Amerika Serikat kembali menyusut untuk pekan kesepuluh berturut-turut. Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA melaporkan lonjakan permintaan telah mendorong stok minyak negara itu ke level terendah sejak 1985.

Penurunan cadangan tersebut terjadi ketika perang Iran terus mengguncang rantai pasok energi global. “Amerika Serikat dan negara-negara lain terus menguras cadangan strategis maupun persediaan komersial untuk mengurangi dampak gangguan pasokan di Timur Tengah,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa ancaman kelebihan pasokan masih membayangi pasar minyak dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam proyeksi awalnya untuk 2027, Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan pasar minyak dunia akan menghadapi surplus pasokan yang cukup besar. Produksi global diproyeksikan melonjak hingga 8 juta barel per hari, sementara pertumbuhan permintaan hanya bertambah sekitar 2 juta barel per hari.

Untuk jangka pendek, IEA menilai kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat justru dapat menjadi peluang bagi banyak negara untuk kembali mengisi cadangan minyak yang selama ini terkuras atau membangun stok strategis baru. “Pasar kemungkinan masih meremehkan besarnya surplus pasokan yang akan masuk ke pasar dalam beberapa tahun mendatang,” ujar analis riset Empire FX, Crispus Nyaga.

Meski prospek kelebihan pasokan mulai terlihat, para pelaku industri memperingatkan bahwa pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan minyak ke tingkat sebelum perang tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bisa memakan waktu bertahun-tahun.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait