Market Hari Ini 18 Feb 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Harga Minyak Terkoreksi, Risiko Pasokan Mulai Mereda

Harga minyak stabil cenderung melemah setelah premi risiko Timur Tengah mereda dan pasar menunggu suplai tambahan.

Harga minyak dunia melemah tipis dipicu meredanya risiko geopolitik dan potensi tambahan suplai global.

Ilustrasi penurunan haga minyak dunia. Foto: Freepik.
Ilustrasi penurunan haga minyak dunia. Foto: Freepik.

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia bergerak stabil dengan kecenderungan melemah tipis pada perdagangan Asia, Rabu, 18 Februari 2026. Pergerakan harga ini terjadi setelah terkoreksi tajam pada sesi sebelumnya akibat meredanya premi risiko geopolitik di Timur Tengah.

Pada perdagangan intraday Asia, minyak mentah Brent bergerak di kisaran USD66–67 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di rentang USD61–62 per barel.

Posisi ini lebih rendah dibanding penutupan Selasa, 17 Februari 2026, ketika Brent tercatat di USD67,24 per barel dan WTI di USD62,24 per barel.

Pergerakan harga masih dipengaruhi perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu pelepasan premi risiko pasokan.

Pelaku pasar cenderung menahan posisi baru sambil menunggu arah lanjutan diplomasi, terutama terkait kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran yang berpotensi menambah suplai global.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan produksi OPEC+ mulai April turut membatasi ruang kenaikan harga. Pasokan tambahan juga diperkirakan datang dari pemulihan produksi lapangan minyak Tengiz di Kazakhstan setelah sempat terganggu pada awal tahun.

Pasar juga masih menunggu data persediaan minyak Amerika Serikat pekan berjalan, sementara pergerakan dolar AS tetap menjadi faktor penahan harga komoditas energi.

Sejumlah analis menilai arah harga ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.

“Ini merupakan skenario dasar kami bahwa kesepakatan Iran dan Rusia–Ukraina terjadi pada atau selama musim panas tahun ini, yang akan berkontribusi terhadap penurunan harga Brent ke kisaran USD 60–62 per barel,” kata analis Citi, dilansir Reuters, Selasa, 17 Februari 2026.

Sementara analis SEB menilai pergerakan harga tetap sensitif terhadap dinamika ketegangan kawasan. Mereka menyatakan, ada peningkatan ketegangan dengan Iran dapat mendorong harga Brent ke USD80 per barel.

“Sebaliknya, jika ketegangan mereda, harga berpotensi turun kembali ke USD 60 per barel,” kata analis SEB.

Bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia, volatilitas harga minyak menjadi perhatian karena sebagian besar pasokan minyak dari negara Teluk dikirim melalui Selat Hormuz menuju pasar Asia. Perubahan persepsi risiko di kawasan tersebut cepat tercermin pada harga acuan global.

Kondisi ini membuat negara importir energi di Asia harus menyesuaikan biaya impor dan perhitungan margin energi domestik seiring pergerakan harga minyak global yang kini lebih dipengaruhi sentimen geopolitik ketimbang perubahan permintaan riil.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait