Harga Minyak Turun, Pasokan Masih Seret Meski Gencatan Senjata Iran

Harga minyak turun usai gencatan AS-Iran, tapi pasokan global masih terganggu akibat distribusi dan produksi belum pulih.

Harga minyak turun pasca gencatan Iran, namun pasokan global masih ketat karena distribusi terganggu dan produksi belum pulih.

Ilustrasi: Harga minyak turun pasca gencatan Iran, namun pasokan global masih ketat karena distribusi terganggu dan produksi belum pulih. Foto: Dok. KabarBursa
Ilustrasi: Harga minyak turun pasca gencatan Iran, namun pasokan global masih ketat karena distribusi terganggu dan produksi belum pulih. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Harga minyak memang mulai turun setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan pasokan global belum benar-benar pulih.

Harga spot minyak Brent tercatat di level USD124,68 per barel (Rp2,10 juta). Angka ini masih mencerminkan tekanan tinggi pada pasokan, meski konflik mulai mereda.

Harga spot sendiri menggambarkan harga pengiriman minyak dalam waktu dekat, sekitar 10 hingga 30 hari. Berbeda dengan kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi ke depan, harga ini lebih dekat dengan kondisi riil di lapangan.

Memang, sejak gencatan senjata dua pekan diumumkan, harga spot telah turun sekitar USD19,75 (Rp333.775). Namun, levelnya masih jauh di atas harga kontrak berjangka Brent untuk Juni yang berada di USD94,75 per barel (Rp1,60 juta).

Selisih ini menjadi sinyal bahwa pasar masih menghadapi keterbatasan pasokan dalam jangka pendek.

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga spot mencerminkan kondisi nyata di jalur distribusi energi. “Harga spot untuk kargo nyata mencerminkan kondisi di lapangan dan di laut lepas,” ujarnya, dilansir dari Consumer News and Business Channel, Kamis, 9 April 2026.

Gangguan utama terjadi di Timur Tengah, terutama akibat turunnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Dampaknya, produksi minyak di kawasan tersebut ikut terpangkas signifikan.

Sekitar 13 juta barel per hari produksi minyak terhenti akibat gangguan distribusi. Banyak kapal tanker kini beralih arah ke Amerika Serikat untuk mengambil pasokan.

Perubahan jalur distribusi ini membuat pemulihan tidak bisa berlangsung cepat. Butuh waktu hingga Juni untuk mengembalikan arus pengiriman ke kondisi normal.

Situasi ini bahkan digambarkan cukup kacau oleh pelaku pasar. “Ini benar-benar kacau,” kata Sen.

Tekanan tidak hanya datang dari sisi distribusi, tetapi juga dari volume pasokan yang hilang selama konflik berlangsung. Ratusan juta barel minyak disebut keluar dari pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Analis Kpler, Amena Bakr, menyebut pemulihan tidak akan instan. “Ini bergantung pada berapa lama gencatan senjata berlangsung,” ujarnya.

Menurut dia, proses normalisasi produksi bisa memakan waktu hingga lima bulan, tergantung apakah kesepakatan ini berlanjut menjadi perdamaian permanen atau tidak.

Dari sisi produsen, pemulihan memang dimungkinkan, tetapi tetap bertahap. CEO Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf al-Sabah, menyebut sebagian produksi bisa kembali dalam waktu singkat.

“Kami memiliki cadangan yang cukup tangguh untuk segera meningkatkan produksi dalam beberapa hari,” ujarnya.

Namun untuk kembali ke kapasitas penuh, prosesnya tidak instan. “Sebagian besar produksi akan kembali dalam beberapa minggu, dan kapasitas penuh akan tercapai dalam tiga hingga empat bulan,” katanya.

Dengan kondisi ini, pasar minyak berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya stabil. Harga bisa turun karena sentimen damai, tetapi pasokan riil masih tertinggal. Artinya, meski konflik mereda di atas kertas, dampaknya terhadap energi global masih akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait