Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Masih Waswas Konflik Timur Tengah

Harga minyak dunia turun tipis di tengah konflik Timur Tengah, pasar masih waswas karena risiko eskalasi dan gangguan pasokan global.

Harga minyak turun tipis namun pasar tetap waswas akibat konflik Timur Tengah, dengan risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga global.

Harga minyak turun tipis namun pasar tetap waswas akibat konflik Timur Tengah, dengan risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga global. Foto: DPA via South China Morning Post
Harga minyak turun tipis namun pasar tetap waswas akibat konflik Timur Tengah, dengan risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga global. Foto: DPA via South China Morning Post

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia sempat turun pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026 WIB, namun belum benar-benar memberi ketenangan bagi pasar. Pelaku pasar masih menimbang perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia yang belum menunjukkan tanda mereda.

Penurunan harga terjadi di tengah kabar adanya sedikit pelonggaran distribusi minyak di kawasan tersebut. Beberapa aliran minyak mulai kembali berjalan, meski situasi keamanan masih jauh dari stabil.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 2,2 persen menjadi USD90,34 per barel (Rp1.526.746). Sebelumnya, harga sempat menyentuh level terendah di USD86,46 per barel (Rp1.461.174).

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei turun 3,1 persen menjadi USD101,17 per barel (Rp1.710.773). Kontrak aktif Juni bahkan berada di level USD96,60 per barel (Rp1.632.540), melemah 3,6 persen.

Upaya gencatan senjata pun belum menemukan titik terang. Proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran dilaporkan ditolak, dengan Teheran justru mengajukan syarat tandingan yang berbeda arah.

Di tengah ketidakpastian itu, analis minyak dari OPIS, Denton Cinquegrana, menilai pasar mulai mencoba membaca peluang perbaikan situasi, meski belum sepenuhnya yakin. “Sepertinya pasar minyak sedang mencoba melihat secercah harapan di ujung terowongan,” ujarnya, dikutip dari MarketWatch.

Namun, ia mengingatkan kondisi belum sepenuhnya aman. “Saya tidak yakin pasar sudah benar-benar keluar dari situasi sulit,” kata dia.

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari. Kebijakan ini dinilai bisa menjadi ruang negosiasi, meski belum tentu menjamin stabilitas jangka pendek.

Cinquegrana menilai periode tersebut krusial untuk melihat arah konflik ke depan. “Apakah lima hari ini hanya untuk memberi waktu memindahkan pasukan? Saya pikir akhir pekan ini sangat krusial,” ujarnya.

Di sisi lain, ada sedikit ruang optimisme. Iran mulai membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur vital distribusi minyak dunia. Langkah ini berpotensi meredakan tekanan pasokan, terutama untuk kawasan Asia.

Namun, kondisi global tetap rapuh. Pemerintah Filipina bahkan menetapkan status darurat energi nasional akibat dampak konflik tersebut terhadap pasokan energi.

Analis pasar dari SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, melihat peluang deeskalasi memang mulai muncul, tetapi masih sangat rentan berubah sewaktu-waktu. “Ada potensi penurunan eskalasi, tetapi itu bisa berubah kapan saja,” ujarnya.

Di tengah tarik menarik kepentingan geopolitik, pasar minyak kini berada dalam posisi menunggu. Harapan muncul, tetapi ketidakpastian belum benar-benar pergi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait