Market Hari Ini 07 Jan 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Tim Editorial

Honor Ekspansi Bisnis ke Indonesia saat iPhone 16 Dilarang Masuk

Honor Ekspansi Bisnis ke Indonesia saat iPhone 16 Dilarang Masuk
Honor Ekspansi Bisnis ke Indonesia saat iPhone 16 Dilarang Masuk

Daftar Isi

  1. 01 Apple Masih Menggantung

KABARBURSA.COM - Honor, mantan anak usaha Huawei, mengumumkan rencana debut penjualan smartphone di Indonesia pada akhir Maret 2025. Keputusan ini menambah daftar perusahaan China yang berebut menguasai pasar Indonesia. Uniknya, langkah ini berbarengan dengan absennya iPhone 16 karena terganjal aturan produksi lokal.

Indonesia memang menetapkan aturan tegas, yakni minimal 40 persen komponen smartphone yang dijual di sini harus berasal dari dalam negeri. Kebijakan tersebut membuat Apple gigit jari, meskipun mereka kabarnya sedang menegosiasikan investasi senilai USD1 miliar (setara Rp16 triliun).

Dilansir dari Consumer News and Business Channel International di Jakarta, Selasa, 7 Januari 2025, Honor yang sudah membuka kantor di Indonesia, menjalin kerja sama dengan satu mitra manufaktur lokal. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Operasi Honor wilayah Pasifik Selatan, Justin Li, dalam sesi wawancara pekan lalu. Menurut Li, produk pertama yang akan dijual termasuk ponsel lipat dan sembilan perangkat lain di segmen menengah hingga premium.

Targetnya, Honor akan menghadirkan sekitar 30 produk—mulai dari smartphone hingga tablet—di Indonesia sebelum akhir tahun ini. Tidak mengherankan, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, persis di bawah Amerika Serikat.

“Memang 80 persen pasar Indonesia didominasi perangkat seharga di bawah USD200 (Rp3,2 juta), tetapi sebagai ekonomi terbesar dan tercepat tumbuh di Asia Tenggara, Indonesia punya potensi pertumbuhan jangka panjang yang besar,” ujar analis Canalys, Chiew Le Xuan.

Ia menambahkan, Indonesia menyumbang 35 persen dari total pengiriman smartphone di Asia Tenggara dan bisa menjadi hub strategis untuk ekspansi regional.

Data Canalys per November menunjukkan tiga besar pangsa pasar smartphone di Indonesia dikuasai oleh Oppo, Xiaomi, dan Transsion—semuanya berbasis di China. Oppo, yang berbasis di Shenzhen, bahkan meluncurkan global perdana ponsel flagship Find X8 di Indonesia, lengkap dengan pabrik produksinya di sini.

Samsung ada di urutan keempat dengan pangsa pasar 16 persen, sejajar dengan Vivo—brand China lainnya. Sementara itu, kontribusi Asia Pasifik, di luar China dan Jepang, hanya sekitar 8 persen dari total penjualan Apple.

Li menegaskan keputusan Honor masuk ke Indonesia tidak ada hubungannya dengan absennya Apple. Menurutnya, perusahaan sudah lama mengamati pasar ini dan baru mempercepat langkah ekspansi dalam setengah tahun terakhir.

Meski enggan membocorkan data jumlah staf Indonesia dibanding China, Li menyebut Honor masih terus merekrut dan menargetkan sebagian besar karyawan lokal. Tahun ini, Honor berencana membuka setidaknya 10 gerai resmi di Indonesia, selain memanfaatkan jalur penjualan lewat mitra ritel lokal.

Di luar China, Honor fokus menjual produknya di Eropa dan beberapa negara Asia Tenggara. Ponselnya memang belum dijual langsung di Amerika Serikat. Menariknya, pada Desember lalu, lebih dari setengah penjualan Honor berasal dari luar China—sebuah pencapaian pertama perusahaan tersebut.

Honor sendiri resmi berpisah dari Huawei pada November 2020, setelah Huawei dihantam sanksi dari Amerika Serikat. Huawei mengklaim sudah tidak memiliki saham di Honor atau ikut campur dalam pengambilan keputusan bisnis anak usahanya itu.

Apple Masih Menggantung

[caption id="attachment_32088" align="alignnone" width="1798"] iPhone-iPad. foto: abbas sandji/KabarBursa[/caption]

Salah satu yang membuat bisnis Apple tersendat di Indonesia karena minimnya Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dalam perangkat Iphone. Kontribusi TKDN Indonesia dalam produk Apple masih sangat kecil dibandingkan Vietnam. Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengungkapkan komponen asal Indonesia hanya mencakup dua hingga empat item dalam produk Apple. Sementara itu, Vietnam telah menyuplai sekitar 70 persen komponen yang digunakan dalam produk perusahaan tersebut.

“Dari 280-320 komponen yang dibutuhkan dalam satu produk Apple, industri manufaktur di Indonesia hanya bisa mensuplai 2-4 komponen saja. Artinya sangat rendah sekali. Vietnam sudah mensuplai hingga 70 persen,” kata Huda saat dihubungi KabarBursa.com, Selasa, 26 November 2024, lalu.

Huda mengatakan komponen Apple paling banyak dibuat oleh China. Ketika pabrik komponen pindah dari China, Apple akan memilih negara yang menyuplai komponen terbanyak. “Maka dari itu, Indonesia enggak dipilih untuk ditanamkan investasi manfakturnya. Bagi Apple, lebih untung investasi di Vietnam. Kadang Indonesia ini cukup aneh, minta yang tinggi tapi enggak lihat kemampuan industri dalam negeri yang masih buruk,” ujarnya.

Huda menyarankan pemerintah seharusnya realistis dan tidak menuntut seluruh komponen Apple berasal dari Indonesia. Ia menyarankan agar fokus diarahkan pada peningkatan pasokan komponen-komponen kecil secara bertahap. “Maka kemarin ketika ada rencana investasi Apple membangun pabrik komponen, menurut saya, hal tersebut cukup bagus. Sambil kita melihat peluang pengembangan dalam negeri juga ikut terdorong,” kata Huda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait