IHSG Diprediksi Masih akan Terus Tertekan

Analis MNC Sekuritas memprediksi indeks masih berada dalam tekanan wave (iii) dari wave [v], dengan potensi koreksi lanjutan ke bawah area 5.700.

IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan teknikal. Analis MNC Sekuritas menyebut indeks berada dalam fase koreksi lanjutan menuju area 5.633–5.770.

Papan pantau IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga.
Papan pantau IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga.

KABARBURSA.COM – Setelah terperosok lebih 9 persen ke level 5.996, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum lepas dari tekanan. Penurunan ini menembus area support penting dan membentuk pola lower low yang bikin analis pasar modal makin waspada.

Analis Teknikal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana atau yang akrab disapa Didit, menjelaskan saat ini IHSG kemungkinan sedang bergerak di bagian wave (iii) dari wave [v] dalam skenario hitam.

“MeskIpin menguat, nampaknya akan terbatas untuk menguji rentang 6.026–6.114. Namun waspadai tetap koreksi lanjutan di mana IHSG akan mengarah ke 5.633–5.770,” ujar Didit dalam catatan teknikal harian yang dikutip KabarBursa, Selasa, 9 April 2025.

Dalam waktu dekat, kata Didit, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan batas bawah (support) di kisaran 5.825 hingga 5.742. Sementara untuk batas atas (resistance), penguatan indeks kemungkinan tertahan di area 6.142 sampai 6.265. Artinya, meskipun ada peluang teknikal untuk naik, ruang geraknya masih terbatas dan rawan dibalik arah oleh tekanan jual.

Saham yang Menarik Dipantau

MNC Sekuritas juga membagikan daftar saham yang menarik untuk dipantau dengan strategi Buy on Weakness. Meski banyak saham mengalami tekanan, beberapa di antaranya justru berada di ujung koreksi dan berpotensi rebound.

1. BRPT (Barito Pacific)

Ditutup turun 9,15 persen ke Rp645. Volume beli masih mendominasi. “Posisinya diduga di akhir wave [c] dari wave 3, jadi peluang rebound cukup terbuka,” kata Didit.

2. GOTO (GoTo Gojek Tokopedia)

Terkoreksi 14,46 persen ke Rp71. Tekanan jual kuat, tapi secara teknikal sedang di wave (y) dari wave [ii].

3. LSIP (Perusahaan Perkebunan London Sumatra)

Harga merosot 9,91 persen ke Rp1.000, tapi volume beli mulai muncul. “Posisinya ada di akhir wave (b) dari wave [y],” jelas Didit.

4. PGAS (Perusahaan Gas Negara)

Turun 7,07 persen ke Rp1.445. “Posisinya ada di wave iii dari wave (v), jadi koreksi bisa lanjut dulu sebelum berbalik arah,” katanya.

Tekanan terhadap IHSG masih bisa berlanjut dalam waktu dekat. Maka, penting bagi investor untuk cermat melihat momen akumulasi, khususnya pada saham-saham berfundamental kuat yang sedang terdiskon.

IHSG Melemah Hingga Trading Halt

IHSG sebelumnya ditutup koreksi sebesar -7,90 persen atau turun 514 poin ke level 5.996 pada perdagangan Selasa, 8 April 2025. Mengutip RTI Business, IHSG sepanjang hari ini terperangkap di zona merah dengan level tertinggi 6.036 dan terendah 5.882. Kondisi pasar yang anjlok hingga 9,19 persen ini membuat Bursa Efek Indonesia akhirnya menerapkan trading halt selama 30 menit.

Buntut dari anjloknya IHSG, 672 saham terpantau melemah, 30 saham menguat, dan 95 saham stagnan. Adapun, volume perdagangan hari ini sebesar Rp22.746 miliar dengan transaksi Rp20.927 triliun.

Mengutip data Stockbit, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham dengan volume transaksi tertinggi pada hari ini dengan mencapai 5,02 miliar saham. Ini menunjukkan minat yang sangat tinggi dari investor terhadap saham teknologi meski sektor ini sedang mengalami tekanan hebat.

Menyusul GOTO adalah  PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan 741,43 juta saham, disusul PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan volume masing-masing 738,43 juta dan 733,84 juta saham.

Dari sisi nilai transaksi, PT Bank Central Asia (BBCA) mendominasi dengan nilai sebesar Rp4.071,12 miliar, disusul BMRI (Rp3.460,08 miliar) dan BBRI (Rp2.658,46 miliar).

Pada sisi sektoral, teknologi mengalami koreksi terdalam dengan penurunan -10,23 persen, disusul sektor basic ind (-10,54 persen) dan industri (-8,44 persen).  Sektor-sektor lainnya juga mengalami penurunan signifikan seperti energi (-8,19 perse ), infrastruktur (-8,35 persen ), hingga transportasi (-7,89 persen).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti tekanan besar yang melanda IHSG ini. Meski demikian, ia mengklaim penurunan IHSG di Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain.

"Kalau kita lihat banyak negara yang indeks harga sahamnya pada tanggal 8 April dibanding 2 April banyak yang koreksinya sangat dalam hingga 14 persen. Bahkan tadi yang Pak Menko menyampaikan beberapa bisa mencapai ke atas 25 persen," ujar Sri Mulyani dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di menara Mandiri, Jakarta Selatan, Selasa, 8 April 2025.

Sri Mulyani menjelaskan tekanan terhadap harga saham, nilai tukar, dan obligasi sebenarnya merupakan fenomena yang kerap terjadi dalam konteks global. Dalam kondisi seperti ini, pasar keuangan Indonesia berperan sebagai shock absorber, menahan guncangan eksternal, meski tetap harus mewaspadai potensi risiko jangka panjang.

"Dinamika ini seperti harga saham, nilai tukar maupun dalam hal ini obligasi surat berharga itu seperti FED, kita itu seperti shock absorber. Karena shock-nya terjadi ini adalah bentuk respons yang mungkin harus terbiasa kita lihat namun tidak berarti kita kemudian shifting attention-nya dari fondasi yang tetap harus dijaga," katanya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait