Market Hari Ini 10 Sep 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

IHSG Ditutup di Zona Hijau, Rupiah Menguat

IHSG Ditutup di Zona Hijau, Rupiah Menguat
IHSG Ditutup di Zona Hijau, Rupiah Menguat

KABARBURSA.COM - Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 10 September 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau atau menguat. Begitu juga dengan rupiah menguat pada penutupan pasar spot.

IHSG ditutup menguat 58,64 poin atau 0,76 persen pada level 7.761,38.

Mengutip data RTI, sebanyak 306 saham melaju di zona hijau dan 26 saham berada di zona merah. Sementara itu, sebanyak 215 saham lainnya mengalami stagnasi.

Jumlah transaksi sore ini mencapai Rp10,82 triliun dengan volume 22,84 juta saham.

Beberapa saham menjadi top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun 4,13 persen ke level 26.10. Begitu juga dengan Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun 2,32 persen ke level 1.475.

Penurunan juga dialami Amman Mineral Internasional (AMMN) yang turun 2,54 persen ke level 10.550.

Sementara, saham-saham yang menjadi top gainers antara lain, Barito Renewable Energy (BREN) naik 6,98 persen ke level 11.500, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) naik 6,54 persen ke level 56.

Sedangkan saham Sarana Menara Nusantara (TOWR) naik 4,76 persen ke level 880.

Bagaimana dengan kondisi Bursa Asia? Mayoritas berada di zona hijau pada sesi perdagangan. Shanghai Komposit tumbuh 0,28 persen atau 7,69 poin ke posisi 2.744,18, Nikkei 225 turun 0,16 persen (56,60 poin) ke posisi 36.159,19, dan Strait Times tumbuh 0,46 persen (16,13 poin) ke level 3.512,66.

Kenaikan juga dirasakan Hang Seng yang tumbuh 0,22 persen atau 37,12 poin ke level 17.234,08.

Sementara, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot sore ini ditutup menguat. Mata Indonesia ini ditutup pada level Rp15.455 per dolar AS atau menguat 1 poin (0,01 persen) dibandingkan dengan sebelumnya pada level Rp15.456 per dolar AS.

Sementara itu, mengacu pada kurs tengah Jisdor, nilai tukar rupiah pada hari ini berada di level Rp15.447 per dolar AS, atau melemah dibanding Senin kemarin pada level Rp15.446 per dolar AS.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan BEI ini, IHSG dibuka menguat. Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, IHSG terperosok di zona merah karena para pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan mereka.

Hari ini, IHSG dibuka naik 0,56 persen ke level 7.745,67. Namun, lima menit setelah pembukaan, penguatan sedikit terkoreksi menjadi 0,41 persen di posisi 7.734,34. Nilai transaksi pada sesi I mencapai sekitar Rp531 miliar dengan volume perdagangan 718 juta lembar saham dan telah terjadi 55.061 transaksi.

Penguatan IHSG hari ini terjadi setelah kemarin bergerak di zona merah akibat aksi profit taking. Selain itu, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen pasar global.

Kemarin, data inflasi China untuk Agustus 2024 resmi dirilis, menunjukkan perlambatan meskipun indeks harga konsumen (IHK) dan produsen (IHP) sudah berada di level rendah.

Menurut perkiraan Trading Economics, inflasi tahunan China pada Agustus diperkirakan tumbuh 0,7 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 0,5 persen. Sementara itu, inflasi bulanan diproyeksikan stabil di 0,3 persen. Namun, hasil riil inflasi China tumbuh lebih lambat dari perkiraan, hanya mencapai 0,6 persen tahunan dan 0,4 persen bulanan.

Selain itu, indeks harga produsen (PPI) di China mencatat deflasi sebesar 1,8 persen pada Agustus, lebih dalam dari prediksi 1,4 persen dan penurunan bulan sebelumnya 0,8 persen. Hari ini, fokus pasar akan tertuju pada data neraca perdagangan China untuk Agustus 2024.

Berdasarkan data dari Trading Economics, neraca perdagangan China diperkirakan turun menjadi USD83,9 miliar pada Agustus 2024, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar USD84,65 miliar. Hal ini dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekspor menjadi 6,5 persen dibandingkan 7 persen pada Juli, sementara impor diproyeksikan hanya tumbuh 2 persen, lebih rendah dari 7,2 persen pada Juli 2024.

Inflasi rendah di China yang melambat tidak sesuai dengan ekspektasi, dan jika ditambah dengan melemahnya neraca perdagangan, ini dapat menunjukkan kondisi ekonomi China yang semakin lesu. Mengingat China adalah mitra dagang utama Indonesia, baik dalam ekspor maupun impor, perkembangan ekonomi di sana patut diperhatikan karena dapat mempengaruhi perdagangan Indonesia.

Sementara itu, pelaku pasar juga masih mempertimbangkan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dirilis akhir pekan lalu.

Data yang bervariasi, terutama laporan ketenagakerjaan Agustus, membuat investor mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin dalam pertemuan kebijakan minggu depan.

Berdasarkan alat CME FedWatch, pelaku pasar lebih optimis akan ada penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dengan peluang 71 persen, sementara peluang penurunan 50 basis poin hanya sebesar 29 persen. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait