Market Hari Ini 24 Oct 2024 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

IHSG Ditutup Loyo, Hanya Dua Sektor yang Menguat

IHSG Ditutup Loyo, Hanya Dua Sektor yang Menguat
IHSG Ditutup Loyo, Hanya Dua Sektor yang Menguat

Daftar Isi

  1. 01 Pasar Sambut Baik Program Prabowo-Gibran
  2. 02 Penghimpunan Dana di Pasar Modal Capai Rp137,05 Triliun

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ditutup melemah 71,015 poin atau turun 0,19 persen ke level 7716,549 pada perdagangan Kamis, 24 Oktober 2024. Mengutip data perdagangan RTI Business, sepanjang hari ini IHSG bergerak bervariasi dengan level tertinggi 7794,863 dan terendah di level 7716,549.

Sebanyak 214 saham terpantau menguat, 379 saham di zona merah, dan 197 saham mengalami stagnan.

Adapun lima besar saham yang menduduki top gainers di antaranya FOLK (+34,00 persen), FWCT (+19,81 persen), MPPA (+18,67 persen), MLPL (+14,63 persen), dan INPC (+12,96 persen).

Sementara saham yang mengalami koreksi paling dalam adalah AGRS (-22,02 persen), JARR (-21,94 persen), PSAB (-10,11 persen), UNVR (-8,58 persen), dan DEWA (-8,41 persen).

Melemahnya IHSG pada penutupan sore ini juga terpengaruh terhadap beberapa sektor. Melansir Stockbit, mayoritas sektor terpantau berada di zona merah.

Sektor yang mengalami pelemahan paling dalam adalah health (-1,51 persen), properti (-1,49 persen), basic ind (-1,34 persen) dan energi (-1,14 persen). Di sisi lain, hanya dua sektor yang menguat yakni teknologi (+0,30 persen) dan industrial (+0,09 persen).

Pasar Sambut Baik Program Prabowo-Gibran

Program-program yang diluncurkan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat sambutan baik dari pasar saham. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung mengalami penguatan, walaupun tipis.

Rilis laporan kinerja emiten pada kuartal III 2024 yang diklaim belum tentu memberikan dampak positif terhadap IHSG, disebut-sebut tidak benar adanya. Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana, justru berpandangan bahwa rilis kinerja emiten kuartal III memberikan efek baik bagi pasar saham.

Namun ia tidak juga menampik bahwa siklus bisnis di Indonesia pada kuartal III biasanya memang mengalami pelemahan. Momentum kenaikan biasanya terjadi pada kuartal I dan II, di mana ada momentum perayaan keagamaan, yaitu Idul Fitri.

“Jadi, mungkin kita bisa lihat relatif lebih flattening untuk laporan keuangan di kuartal III ini,” kata Fikri kepada Kabarbursa.com, Jumat, 18 Oktober 2024.

Fikri melihat pasar saham akan kembali bergairah saat laporan kinerja kuartal IV mendatang, disebabkan beberapa faktor yang salah satunya adalah adanya pergantian kabinet pemerintahan yang baru.

“Adanya pergantian kabinet yang akan mendorong beberapa campaign yang sebelumnya didorong oleh Pak Prabowo,” ujar dia.

Apalagi, lanjut Fikri, pasar saham akan semakin sumringah atas program-program yang dicanangkan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka.

“Di samping itu, juga ada stabilitas yang dihadirkan, ada pertumbuhan ekonomi yang juga kemungkinan bisa lebih baik,” tuturnya.

Penghimpunan Dana di Pasar Modal Capai Rp137,05 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa penghimpunan dana melalui penawaran umum di pasar modal Indonesia telah mencapai Rp137,05 triliun hingga saat ini. Mayoritas dari jumlah tersebut diperoleh melalui penawaran saham perdana, dengan nilai mencapai Rp4,39 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menjelaskan bahwa pengumpulan dana di pasar modal masih menunjukkan tren positif, di mana nilai penawaran umum mencapai Rp137,05 triliun, dengan Rp4,39 triliun berasal dari 28 emiten baru.

OJK juga memberikan informasi mengenai perkembangan bursa karbon, yang sejak diluncurkan pada 26 September 2023 telah mengizinkan 81 pengguna jasa dengan total volume mencapai 613.897 ton CO2 ekuivalen, setara dengan Rp37,06 miliar.

Selain itu, penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) mengalami pertumbuhan signifikan, dengan 17 penyelenggara yang telah mendapatkan izin dari OJK dan total 625 penerbitan efek. Inisiatif ini melibatkan sekitar 163.000 pemodal, berhasil menghimpun dana SCF yang teradministrasi di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebesar Rp1,22 triliun.

Di tengah pertumbuhan positif ini, OJK tetap fokus pada penegakan peraturan dan perlindungan konsumen di sektor pasar modal.

Pada bulan September 2024, OJK memberikan sanksi administratif berupa denda kepada satu emiten dan satu sales perusahaan efek, serta mengeluarkan peringatan tertulis kepada satu perusahaan.

“OJK juga sedang menyusun ketentuan baru untuk industri pasar modal, termasuk RPOJK tentang penerapan manajemen risiko dan penilaian tingkat kesehatan manajer investasi, serta POJK mengenai penilaian reksa dana dan penilaian manajer investasi,” kata Inarno di acara konferensi pers RDKB di Jakarta, 1 Oktober 2024.

Dalam konteks global, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyoroti tingginya ketidakpastian yang masih melanda pasar global, meskipun banyak bank sentral melonggarkan kebijakan moneternya.

Dia mencatat bahwa penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) memberikan sentimen positif, meski tetap berisiko terpengaruh oleh ketegangan global yang meningkat.

“Tingginya inflasi global yang mulai terkontrol memungkinkan bank sentral AS menurunkan suku bunga secara agresif sebesar 50 basis poin,” jelasnya.

Mahendra juga menyoroti dampak situasi di China, di mana penurunan aktivitas manufaktur telah meningkatkan tingkat pengangguran ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir, termasuk peningkatan pengangguran di kalangan anak muda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait