Market Hari Ini 23 Oct 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Ikut Terjun ke Level Rp15,620

IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Ikut Terjun ke Level Rp15,620
IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Ikut Terjun ke Level Rp15,620

Daftar Isi

  1. 01 Rupiah Ikut Melemah
  2. 02 Bursa Asia Menguat Terbatas, Emas dan Dolar AS Naik

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta mengalami penurunan tipis sebesar 1,42 poin (-0,18 persen) ke level 7.787,57, sementara LQ45 naik tipis 0,37 poin (0,04 persen) ke 954,76. Volume perdagangan mencapai 32,15 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,53 triliun, termasuk Rp3,45 triliun di pasar negosiasi. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 243 saham naik, 323 turun, dan 228 saham stagnan.

Sektor transportasi memimpin penguatan dengan kenaikan 1,21 persen, sementara sektor properti menjadi yang terlemah, turun 0,95 persen.

Beberapa saham yang menjadi top gainers pada hari ini meliputi AGRS, BIPI, SONA, MFIN, HOMI, MTFN, dan AKSI. Sementara itu, saham yang paling banyak diperdagangkan antara lain BBRI, PSAB, BUMI, AWAN, SATU, BRMS, dan ENRG.

Penurunan IHSG ini terjadi di tengah penantian investor terhadap pengumuman kebijakan ekonomi dari Presiden terpilih Prabowo Subianto. Pertemuan Prabowo dengan tim ekonominya diharapkan dapat memberikan gambaran tentang arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Ketidakpastian ini membuat para investor berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar saham.

Di sisi lain, Bank Dunia telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2024 menjadi 5 persen, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,9 persen. Proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2025 juga mengalami peningkatan menjadi 5,1 persen, dari estimasi awal sebesar 4,9 persen. Hal ini memberikan optimisme bagi prospek ekonomi Indonesia meskipun pasar saham sedang mengalami tekanan.

Rupiah Ikut Melemah

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (IDR/USD) melemah 60 poin ke level 15.620, sementara kurs spot naik 5 poin ke 15.615. Penguatan Dolar AS ini didorong oleh ketidakpastian terkait suku bunga AS dan pemilu presiden yang akan datang, sehingga mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Di pasar global, indeks saham Asia-Pasifik bergerak bervariasi, sementara pasar saham Eropa mengalami penurunan karena investor fokus pada laporan kinerja perusahaan dan imbal hasil obligasi AS. Sementara itu, harga minyak mentah mengalami penurunan setelah data menunjukkan peningkatan cadangan minyak mentah AS lebih besar dari perkiraan. Harga emas terus naik, mencapai rekor tertinggi karena meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Di tengah berbagai dinamika ini, pasar saham global dan komoditas tetap berfluktuasi, dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter di berbagai negara.

Bursa Asia Menguat Terbatas, Emas dan Dolar AS Naik

Di bursa Asia, pergerakan saham relatif bervariasi pada hari Rabu. Investor cenderung berhati-hati menjelang pemilihan umum di Amerika Serikat yang diprediksi berlangsung ketat. Selain itu, ekspektasi seputar kebijakan Federal Reserve (The Fed) terkait pemangkasan suku bunga turut membebani sentimen pasar.

Saham-saham China dan Hong Kong berhasil mencatatkan kenaikan setelah adanya janji pemerintah untuk memberikan stimulus bagi perekonomian. Namun, ketidakpastian terkait waktu dan cakupan dari langkah-langkah tersebut masih menjadi perhatian utama.

Nikkei di Tokyo justru mengalami penurunan menjelang pemilu Jepang yang akan digelar akhir pekan ini. Indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,3 persen.

Menurut kepala penelitian di K2 Asset Management George Boubouras, kekuatan ekonomi AS dan belanja fiskal yang berkelanjutan menunjukkan bahwa siklus pelonggaran oleh The Fed kemungkinan akan lebih dangkal dari yang diantisipasi sebelumnya. Ia juga menambahkan bahwa pasar telah memperhitungkan terlalu banyak pelonggaran, yang saat ini menekan nilai dolar AS.

Namun, prospek kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden diperkirakan dapat mendukung penguatan dolar dalam beberapa waktu ke depan.

Berikut ini kinerja Bursa Asia:

  • Nikkei225 (Jepang) turun -0,80 persen ke 38.104
  • Topix (Jepang) turun -0,55 persen ke 2.636
  • Shanghai Composite (China) naik 0,52 persen ke 3.302
  • Shenzhen Component (China) naik +0,16 persen ke 10.576
  • CSI300 (China) naik +0,39 persen ke 3.973
  • Hang Seng (Hong Kong) naik 1,27 persen ke 20.760
  • Kospi (Korsel) naik 1,13 persen ke 2.599
  • Taiex (Taiwan) turun 0,85 persen ke 23.334
  • S&P/ASX200 (Australia) naik 0,13 persen ke 8.216

Sementara, harga minyak mentah mengalami penurunan pada perdagangan sore ini. Data industri menunjukkan adanya lonjakan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan. Meski demikian, penurunan harga minyak terbatas seiring pasar memantau ketegangan diplomatik di Timur Tengah.

Minyak Brent turun 0,7 persen menjadi USD75,54 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7 persen menjadi USD71,24 per barel.

Secara keseluruhan, pergerakan bursa global mencerminkan kehati-hatian investor menghadapi berbagai ketidakpastian, baik dari sisi politik maupun kebijakan moneter. Pasar juga terus memantau perkembangan inflasi dan langkah-langkah dari bank sentral dunia, termasuk potensi dampak dari pemilihan presiden AS yang semakin mendekat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait