KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tajam pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, setelah Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG melonjak 404,51 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,65.
Penguatan indeks terjadi di tengah nilai transaksi yang mencapai Rp27,88 triliun dengan volume perdagangan 448,90 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 2,71 juta kali. Meski IHSG melesat, investor asing masih membukukan jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp1,46 triliun di seluruh pasar.
Investment Portfolio Strategy Department Head PT Bank Sinarmas Tbk, Ismail Muharam menilai kenaikan suku bunga acuan menjadi sentimen positif bagi pasar karena mampu memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik.
Menurut dia, respons pasar terhadap kenaikan suku bunga kali ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Meski Bank Indonesia hanya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, rupiah justru menunjukkan penguatan setelah sebelumnya sempat tertekan.
“Dengan adanya penaikan suku bunga yang terjadi hari ini yang di luar ekspektasi, itu juga harusnya bisa menjadi anchor untuk rupiahnya supaya tidak naik terlalu tinggi,” kata Ismail di Main Hall BEI, Jakarta pada Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan stabilitas rupiah menjadi faktor penting bagi pasar saham karena selama beberapa bulan terakhir pelemahan mata uang domestik menjadi salah satu pemicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.

Investment Portfolio Strategy Department Head PT Bank Sinarmas Tbk, Ismail Muharam di Main Hall BEI, Jakarta pada Selasa, 9 Juni 2026. Desty Luthfiani/ KabarBursa.com.
Selain faktor rupiah, Ismail menilai tekanan dari arus keluar dana asing juga mulai mereda. Ia mencontohkan pada 29 Mei lalu pasar sempat mengalami outflow asing sekitar Rp8,5 triliun dalam satu hari, terutama akibat penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Namun tekanan tersebut kini mulai berkurang.
“Kalau untuk sentimen sendiri kita melihatnya, the worst is over ya,” ujarnya.
Menurut Ismail, pelemahan IHSG dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek dan krisis kepercayaan investor dibandingkan perubahan fundamental ekonomi nasional. Investor masih menunggu kejelasan implementasi sejumlah kebijakan pemerintah serta perkembangan situasi global yang memengaruhi arus modal.
Ia meyakini kepercayaan pasar akan kembali pulih seiring membaiknya stabilitas rupiah dan semakin jelasnya arah kebijakan pemerintah.
“Kalau dari DSI (PT Danantara Sumberdaya Indonesia) sendiri, saya rasa ketika nanti pemerintah sudah lebih clear terkait implementasinya, market confidence akan kembali lagi,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Sinarmas menilai valuasi saham Indonesia saat ini sudah berada pada level yang sangat menarik. Ismail menyebut rasio price to earnings pasar saham domestik berada di kisaran 9 hingga 10 kali, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.
“Kalau berbicara tentang IHSG memang valuasi hari ini sangat-sangat murah,” ujar dia.
Karena itu, ia menilai investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat. Menurutnya, sejumlah saham perbankan saat ini bahkan menawarkan dividend yield sekitar 7 persen hingga 8 persen.
Meski demikian, Ismail mengingatkan bahwa arah pasar ke depan masih akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, termasuk perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan stabilitas rupiah.
Namun dengan meredanya tekanan outflow asing, menguatnya rupiah pasca kenaikan suku bunga, serta valuasi yang dinilai murah, Bank Sinarmas melihat peluang pemulihan IHSG masih terbuka dalam beberapa bulan mendatang. “Saya rasa kalau pun sekarang investor itu sebenarnya sudah bisa mulai dollar cost averaging,” kata Ismail.(*)