Market Hari Ini 30 Sep 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

IHSG Ditutup Terkoreksi 0,77 Persen ke 8.061: Asing Catatkan Net Sell Rp1,15 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada akhir perdagangan Selasa, 30 September 2025.

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada akhir perdagangan Selasa, 30 September 2025. 

IHSG terkoreksi 62,18 poin atau 0,77 persen ke level 8.061,06 setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Indeks dibuka di 8.137,64, sempat menyentuh level tertinggi 8.150,34, dan tergelincir hingga posisi terendah 8.042,82. Setelah sebelumnya dibuka menghijau.

Total volume transaksi di seluruh pasar mencapai 560,83 juta lot dengan nilai perdagangan Rp26,42 triliun dan frekuensi 2,56 juta kali. Di pasar reguler, tercatat volume 473,32 juta lot dengan nilai Rp20,65 triliun.

Investor asing membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp1,15 triliun di seluruh pasar. Tercatat total pembelian asing Rp3,54 triliun, sementara penjualan asing mencapai Rp4,69 triliun. Porsi transaksi asing hanya 24,26 persen, sedangkan investor domestik masih mendominasi dengan 75,74 persen.

Saham-saham top gainer yang menonjol antara lain PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) naik 34,72 persen ke Rp260, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) naik 34,65 persen ke Rp171, PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) naik 34,12 persen ke Rp228, PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) naik 34,00 persen ke Rp67, dan PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) naik 33,85 persen ke Rp87.

Sebaliknya, saham top losers di antaranya PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) turun 14,78 persen ke Rp490, PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) turun 14,62 persen ke Rp111, PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK) melemah 14,41 persen ke Rp101, PT Penta Valent Tbk (PEVE) turun 14,29 persen ke Rp510, dan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) melemah 14,00 persen ke Rp430.

Dari sisi sektoral, tekanan jual terjadi hampir merata. Sektor transportasi tertekan paling dalam dengan pelemahan 1,83 persen, disusul industri turun 1,42 persen, keuangan 1,37 persen, teknologi 1,34 persen, infrastruktur 1,12 persen, dan industri dasar 1,06 persen. Sektor lain yang ikut melemah yakni non-siklikal minus 0,70 persen, serta kesehatan turun 0,24 persen. Sementara itu, hanya dua sektor yang berhasil menguat, yakni energi naik 0,28 persen dan properti 0,29 persen.

Pelemahan IHSG kali ini mencerminkan tekanan profit taking di tengah keluarnya dana asing, meski sejumlah saham lapis tiga dan emiten berkapitalisasi kecil masih bergerak liar dengan lonjakan harga signifikan.

Pekan lalu IHSG menembus level psikologis 8.100 pada akhir perdagangan dan menutup pekan di 8.099 atau menguat sekitar 0,60 persen dibandingkan periode sebelumnya. 

Level tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah dengan sempat menyentuh 8.168 pada 24 September 2025. Meski indeks menguat, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih sebesar Rp1 triliun di pasar reguler, menandakan investor lokal mendominasi sentimen penguatan pasar.

David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengatakan fluktuasi IHSG kali ini mendapat dukungan dari dua faktor utama.

 Pertama, optimisme pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang mendorong arus dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kedua, tercapainya kesepakatan dagang Indonesia-Uni Eropa terkait pemangkasan tarif hingga 80 persen produk ekspor RI mulai 2027 yang membuka peluang perdagangan jangka panjang. Sentimen positif juga datang dari harga emas spot dunia yang mencapai rekor tertinggi sekitar US$3.759 per troy ounce.

“Sentimen global dan domestik memberi katalis positif untuk IHSG, termasuk stabilitas Rupiah yang dijaga Bank Indonesia,” kata Davi dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com pada Senin, 29 September 2025. Ia memprediksi penguatan akan kembali berlanjut.

“Jika konsisten, tren bullish jangka pendek berpeluang berlanjut,” ujarnya.

Dari dalam negeri, pasar juga diguncang kabar force majeure di tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia akibat bencana lumpur yang menghentikan operasi tembaga dan emas. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian jangka pendek pada sektor pertambangan. Namun, sentimen positif lebih dominan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk 2026 tidak naik, memberi napas bagi industri rokok.

Menurut David, ada dua sentimen penting yang wajib dipantau pada pekan 29 September–3 Oktober 2025, yakni kebijakan fiskal dan kepemimpinan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa l terkait disiplin defisit anggaran dan stimulus pemerintah, serta konfirmasi soal moratorium cukai rokok yang dapat menjadi katalis sektor konsumer.

“Investor sebaiknya melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat di sektor perbankan, konsumer, dan komoditas ekspor, sedangkan trader memanfaatkan potensi bullish jangka pendek,” kata David.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait