IHSG Lagi Menepi Sejenak, Jangan Keburu Eksekusi Masuk

IHSG menguat 1,15 persen tapi belum menembus resistance penting. Analis MNC Sekuritas memperingatkan potensi koreksi masih ada.

IHSG naik 1,15 persen ke 6.441 tapi belum aman. Potensi koreksi masih terbuka. Simak analisis teknikal dan dampak Danantara di KabarBursa.com.

Akvitas perdagangan di papan pantau IHSG Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.
Akvitas perdagangan di papan pantau IHSG Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa/Abbas Sandji.

KABARBURSA.COM - Hari ini, IHSG lagi-lagi bikin investor tarik napas agak lega. Setelah sempat diguyur koreksi dalam beberapa pekan terakhir, indeks akhirnya naik 1,15 persen ke level 6.441. Tapi jangan senang dulu. Menurut analisis teknikal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, penguatan ini belum cukup buat dibilang reli beneran. Posisi indeks masih mentok di area resistance alias belum bisa menembus batas psikologis yang jadi ujian utama.

Menurut Herditya, pergerakan IHSG saat ini masih berada di awal wave B (kalau pakai skenario merah). Artinya, masih ada peluang buat lanjut naik ke kisaran 6.510–6.678. Tapi, kalau skenario hitam yang terjadi—alias worst case—IHSG malah bisa terkoreksi lebih dalam.

“Terdapat potensi koreksi dimana IHSG akan mengarah ke 5,633-5,770,” ujar Didit dalam analisis hariannya, Rabu, 16 April 2025.

Secara teknikal, support IHSG ada di 6.148 dan 5.825, sementara resistance-nya berada di 6.510 dan 6.609. Di antara dua angka ini, IHSG ibarat tengah isi bensin di pit stop. Bisa lanjut ngebut, tapi bisa juga mengerem mendadak jika ada kejutan dari global—seperti komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump atau data inflasi AS yang tiba-tiba meletup.

Saham yang Menarik Dipantau Hari ini

Meski IHSG belum sepenuhnya lepas dari zona rawan, ada beberapa saham yang secara teknikal mulai menunjukkan pola menarik buat dipantau.

1. BRMS

Saham tambang ini masih tertahan di 360 dan belum mampu tembus MA20. Tapi posisi teknikalnya diduga masih di awal wave [ii] dari wave 3. Kalau koreksi ke kisaran 310–352, bisa jadi peluang mantul ke 394 atau bahkan 416. Tapi waspada, kalau jebol 288, sebaiknya minggir dulu.

2. MAPA

MAPA alias Mitra Adiperkasa lagi naik tipis ke 630, disertai volume pembelian yang oke. Diduga lagi di awal wave A dari wave (B), artinya koreksi kalaupun ada, cenderung terbatas. Area pantau ada di 565–625, target harga ke 660 dan 720.

3. PNLF

Saham finansial ini sempat turun ke 338, tapi analis menduga posisinya berada di wave [iii] dari wave 1. Koreksi dianggap wajar dan peluang naik lagi cukup terbuka. Area pantau di 320–336, target ke 372 dan 396. Tapi hati-hati kalau turun di bawah 308.

4. UNTR

Anak usaha Astra di sektor alat berat ini menguat ke 22.825. Tapi hati-hati, karena analis memperkirakan UNTR masih di akhir wave [a] dari wave B—bisa jadi koreksi dulu sebelum lanjut naik. Pantau di kisaran 21.200–22.375, target ke 24.275 dan 25.275.

Secara umum, IHSG hari ini memang seperti napas lega sejenak, tapi belum bisa dibilang aman. Maka dari itu, investor harus tetap pasang radar dan jangan buru-buru nyemplung tanpa rem.

IHSG Berharap Banyak pada Danantara

Rencana kehadiran Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai penyedia likuiditas di pasar modal dinilai memberi harapan baru bagi kestabilan keuangan Indonesia. Menurut Hendra Wardana, pendiri Stocknow.id sekaligus pengamat pasar modal, langkah ini bisa menjadi titik awal yang positif dalam memperkuat struktur finansial nasional, khususnya dalam mendukung laju IHSG.

"Kehadiran Danantara tidak hanya dipandang sebagai sumber likuiditas baru, tetapi juga sebagai jangkar stabilitas bagi IHSG, khususnya saat pasar menghadapi gejolak," ujar dia dalam risetnya kepada KabarBursa.com, Selasa, 15 April 2025.

Hendra menilai Danantara berpotensi besar meredam gejolak pasar, memperkuat kepercayaan pelaku investasi, dan mendorong pertumbuhan indeks melalui strategi investasi jangka panjang yang terstruktur.

Potensi ini lahir dari kekuatan modal yang besar serta dukungan politik yang kuat di belakangnya. Ia juga menekankan bahwa kehadiran Danantara bisa menjadi penyeimbang dominasi investor asing, yang selama ini punya pengaruh besar terhadap pergerakan pasar, khususnya pada saham-saham papan atas.

Secara keseluruhan, Hendra melihat keberadaan Danantara sebagai bukti nyata komitmen Indonesia untuk memperkuat infrastruktur investasi nasional. Terutama bila alokasi dananya difokuskan ke sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, teknologi, ketahanan pangan, serta industri manufaktur lokal.

Menurutnya, strategi ini berpotensi membawa dampak luas—mulai dari memperkokoh posisi perusahaan domestik di bursa, menarik minat lebih besar dari investor institusi dalam negeri, hingga membuka peluang lahirnya instrumen-instrumen pasar baru yang lebih variatif dan mendalam.

"Namun demikian, keberhasilan Danantara sangat bergantung pada tata kelola yang profesional, transparan, serta terhindar dari intervensi politik yang bisa merusak tujuan mulia ini," ujarnya.

Hendra mengingatkan jika pengelolaan dana dilakukan secara keliru, potensi dampak negatifnya besar. Mulai dari distorsi harga, pembentukan bubble, hingga rusaknya persepsi investor terhadap integritas pasar modal nasional.

Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan pengawasan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta keterlibatan manajer investasi yang memiliki kredibilitas tinggi, agar Danantara benar-benar mampu menjadi pendorong pertumbuhan pasar, bukan menambah risiko baru dalam sistem keuangan nasional.

"Jika dilakukan secara hati-hati dan strategis, Danantara bukan hanya bisa membuat IHSG bergairah, tapi juga menjadi simbol kedaulatan finansial Indonesia di tengah ketidakpastian global," katanya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait