Market Hari Ini 23 Sep 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

IHSG Mantap Tembus 8.100: Bursa Asia Variatif, Eropa Optimis

IHSG menembus level 8.100 dengan semua sektor menghijau, dipimpin basic industry. Namun pasar global masih dibayangi inflasi AS dan potensi shutdown pemerintah.

IHSG tembus 8.100 ditopang basic industry, sementara bursa Asia variatif dan Eropa menguat. Sentimen global masih dipengaruhi inflasi AS dan risiko shutdown.

Performa IHSG sebelum menyentuh level 8.100. Foto: KabarBursa.com/Desty Luthfiani.
Performa IHSG sebelum menyentuh level 8.100. Foto: KabarBursa.com/Desty Luthfiani.

Daftar Isi

  1. 01 Hang Seng Turun, Kospi Bergerak Tipis
  2. 02 Rupiah Terkoreksi 0,46 Persen
  3. 03 Pasar Eropa Dibuka Menghijau

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa impresif pada akhir perdagangan Selasa, 23 September 2025, dengan melompat 85 poin atau setara 1,06 persen ke posisi 8.125. 

Lonjakan ini menandai pencapaian baru setelah IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 8.100, sekaligus mengindikasikan sentimen optimisme investor domestik yang cukup solid. Aktivitas perdagangan juga terbilang semarak, dengan volume mencapai 613,54 juta lot saham senilai Rp31,65 triliun.

Kenaikan indeks kali ini ditopang oleh kekuatan hampir semua sektor, di mana basic industry menjadi bintang utama dengan penguatan 2,78 persen. 

Saham-saham tambang mineral dan energi mendominasi daftar top gainers, di antaranya BRMS, JARR, SKBM, SPMA, FISH, ITIC, dan GPSO. Sementara itu, saham-saham teraktif didominasi oleh emiten besar seperti BUMI, HMSP, CDIA, BRMS, CPRO, MINA, dan BRPT. 

Pergerakan ini menandakan adanya rotasi modal yang mengalir ke sektor-sektor siklikal yang sensitif terhadap momentum harga komoditas.

Hang Seng Turun, Kospi Bergerak Tipis

Namun, euforia IHSG tampak berlawanan dengan dinamika bursa Asia yang justru bergerak variatif. Sejumlah indeks Tiongkok seperti Shanghai Composite, Shenzhen Component, dan CSI300 kompak melemah tipis antara 0,06 persen hingga 0,29 persen. 

Tekanan juga terasa di Hang Seng Hong Kong yang turun 0,70 persen, dipengaruhi minimnya volume perdagangan akibat libur di Jepang dan potensi gangguan cuaca. 

Sebaliknya, bursa Korea Selatan (Kospi), Taiwan (Taiex), dan Australia (ASX200) justru bergerak positif dengan kenaikan masing-masing 0,51 persen, 1,42 persen, dan 0,40 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar Asia masih dibayangi sikap hati-hati investor global yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi ukuran utama The Fed.

Rupiah Terkoreksi 0,46 Persen

Dari sisi mata uang Asia, tren pelemahan juga masih mewarnai. Rupiah turun 0,46 persen ke posisi Rp16.687 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan Rupee India dan Baht Thailand. Sebaliknya, Yuan China mencatat penguatan tipis 0,02 persen, sementara Yen Jepang relatif stagnan. 

Pelemahan kurs mayoritas Asia ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan dolar AS, terutama menjelang data inflasi yang bisa mempertegas arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pasar Eropa Dibuka Menghijau

Sementara itu, pasar Eropa justru dibuka dengan sentimen lebih optimistis, mengikuti reli di Wall Street. Indeks Stoxx 600 naik 0,3 persen di London dengan mayoritas sektor menghijau. 

Indeks utama bursa Eropa, seperti DAX Jerman, FTSE Inggris, dan CAC Prancis, kompak menguat masing-masing 0,56 persen, 0,28 persen, dan 0,64 persen. 

Optimisme investor Eropa turut didorong oleh kabar dari raksasa teknologi Nvidia yang mengumumkan rencana investasi hingga USD100 miliar di OpenAI untuk membangun pusat data, sebuah langkah yang dipandang dapat mempercepat pertumbuhan sektor teknologi global.

Kendati demikian, secara global, pelaku pasar tetap mencermati risiko eksternal yang bisa memicu koreksi sewaktu-waktu. Kekhawatiran akan potensi penutupan pemerintahan AS akibat belum disahkannya rancangan undang-undang pendanaan sementara menambah tekanan psikologis. 

Jika penutupan terjadi, ratusan ribu pegawai sipil AS akan terdampak, dan pasar keuangan bisa kembali tertekan akibat lonjakan ketidakpastian.

Secara keseluruhan, reli IHSG di atas level 8.100 memberi sinyal kepercayaan diri investor domestik terhadap prospek pasar dalam negeri. Namun, bayangan risiko eksternal dari AS dan pelemahan mata uang regional tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan. 

Momentum penguatan ini berpotensi berlanjut selama sektor unggulan seperti basic industry dan komoditas mampu mempertahankan arus beli, tetapi volatilitas global menuntut kehati-hatian yang lebih besar bagi investor jangka pendek.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait