IHSG Masuk Fase Rawan, Koreksi Masih Membayangi Awal 2026

Setelah reli panjang, IHSG mulai kehilangan tenaga. Tekanan jual masih mendominasi dan koreksi teknikal dinilai belum sepenuhnya selesai di awal 2026.

IHSG memasuki fase rawan di awal 2026. Tekanan jual masih dominan dan koreksi teknikal berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

IHSG memasuki fase rawan di awal 2026. Tekanan jual masih dominan dan koreksi teknikal berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Foto: Dok. KabarBursa.com
IHSG memasuki fase rawan di awal 2026. Tekanan jual masih dominan dan koreksi teknikal berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Foto: Dok. KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Saham yang Menarik Diperhatikan

KABARBURSA.COM — Awal 2026 dibuka dengan nada yang belum sepenuhnya ramah bagi pelaku pasar saham. Setelah reli panjang membawa indeks ke level psikologis tinggi, pasar kini mulai memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Koreksi yang muncul bukan sekadar tarik napas sesaat, melainkan mulai membentuk pola yang patut dicermati lebih dalam oleh investor.

Berdasarkan analisis teknikal MNC Sekuritas, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada dalam fase yang relatif rentan. IHSG kemarin tercatat terkoreksi 1,36 persen ke level 9.010, dengan tekanan jual masih mendominasi. Area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan analis teknikal kini telah tercapai, membuka ruang bagi potensi lanjutan pelemahan dalam jangka pendek.

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan posisi IHSG saat ini berada di awal wave [iv] dari wave 5.  “Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada di awal wave [iv] dari wave 5, sehingga IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 8,710-8,887. Adapun area penguatan IHSG diperkirakan akan menguji 9,026-9,054,” kata Herditya dalam keterangan tertulis, Kamis, 22 Januari 2026.

Dalam peta teknikalnya, Herditya menempatkan support IHSG di level 8.956 dan 8.905, sementara resistance berada di 9.120 dan 9.192. Struktur ini menggambarkan pasar yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan, meski masih menyimpan peluang pergerakan jangka pendek bagi trader yang disiplin.

Nada analisis ini menegaskan bahwa reli besar tidak selalu berarti jalan satu arah. Ketika indeks sudah terlalu jauh melaju, risiko koreksi justru menjadi bagian dari siklus sehat pasar, asal tidak disalahartikan sebagai awal krisis.

Saham yang Menarik Diperhatikan

Di tengah kondisi indeks yang rawan, MNC Sekuritas menyoroti sejumlah saham yang secara teknikal menunjukkan peluang berbeda-beda.

1. Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

ENRG tercatat menguat 0,98 persen ke level 1.550 dan mulai diiringi munculnya volume pembelian. Meski demikian, penguatan ini belum mampu menembus rata-rata pergerakan MA20, menandakan tren belum sepenuhnya solid.

Herditya menilai, selama harga masih bertahan di atas 1.515 sebagai batas risiko, posisi ENRG diperkirakan sedang membentuk bagian dari wave [b] dari wave 4. Area pergerakan jangka pendek yang perlu dicermati berada di kisaran 1.520–1.545, dengan target teknikal 1.580 hingga 1.655.

2. Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)

IMPC menguat 1,72 persen ke level 3.550, masih didukung oleh volume pembelian meski mulai mengecil. Secara teknikal, Herditya memperkirakan IMPC berada di awal wave 5 dari wave (5)—fase yang sering kali menjadi kelanjutan tren naik, namun tetap rawan fluktuasi.

Area yang menarik untuk diperhatikan berada di 3.480–3.530, dengan target teknikal 3.640 hingga 3.870, dan batas risiko di bawah 3.430.

3. Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)

MBMA mencatat kenaikan 1,30 persen ke level 780, disertai peningkatan volume pembelian. Selama harga masih mampu bertahan di atas 735, Herditya menilai MBMA berada di bagian awal wave v dari wave (iii)—fase yang biasanya mengindikasikan momentum lanjutan. Area yang patut dicermati berada di 745–775, dengan target teknikal 825 hingga 880.

4. Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Berbeda dengan tiga saham sebelumnya, BMRI justru memperlihatkan sinyal kehati-hatian. Saham bank pelat merah ini terkoreksi 0,70 persen ke level 4.990, dengan mulai munculnya volume penjualan meski masih tertahan oleh MA20.

Herditya memperkirakan BMRI berada di awal wave [c] dari wave 2, yang berarti masih ada potensi lanjutan koreksi ke area 4.460–4.750. Area 5.000–5.050 dinilai sebagai zona yang rawan tekanan jual.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait