Market Hari Ini 15 Jan 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Tim Editorial

IHSG Memble dan Saham Perbankan Anjlok: Begini Analisanya!

IHSG Memble dan Saham Perbankan Anjlok: Begini Analisanya!
IHSG Memble dan Saham Perbankan Anjlok: Begini Analisanya!

KABARBURSA.COM - Saham-saham sektor perbankan akhir-akhir ini mengalami pelemahan, turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik dan global yang memperburuk sentimen investor.Diketahui IHSG dibuka menguat tipis sebesar 47 poin atau naik 0,68 persen ke level 7,003 pada perdagangan Rabu, 15 Januari 2025.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta,  menjelaskan bahwa tekanan terhadap saham perbankan terutama disebabkan oleh kondisi ekonomi makro yang menantang.

"Walaupun fundamental perbankan domestik masih cukup solid, tekanan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh Bank Indonesia telah menyebabkan tingginya biaya pinjaman. Meski demikian, potensi pertumbuhan kredit tetap optimis, terutama di tahun 2024, seiring dengan peningkatan konsumsi domestik menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru)," kata Nafan kepada Kabarbursa.com dikutip Rabu, 15 Januari 2025.

Nafan juga mencatat bahwa pelemahan ini lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar daripada kinerja fundamental perbankan itu sendiri. “Investor masih khawatir terhadap dinamika global, termasuk kebijakan pro-growth dalam Trumponomics 2.0 yang mendorong aliran modal ke Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan terjadinya capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ucap dia.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury yield) yang menipiskan spread dengan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia juga menambah tekanan pada pasar keuangan domestik.

“Ketika spread antara yield obligasi AS dan SBN kita semakin kecil, maka investor asing cenderung menarik dananya dari pasar domestik. Ini yang menyebabkan tekanan tambahan terhadap saham-saham perbankan, terutama bank-bank besar seperti BRI, Bank Mandiri, dan BNI,” kata dia.

Kendati demikian, Nafan optimis terhadap prospek jangka panjang sektor perbankan. "Emiten perbankan besar masih menunjukkan komitmen pada pembagian dividen yang menarik, yang menjadi nilai tambah bagi investor jangka panjang," katanya.

Fundamental ekonomi domestik juga dinilai masih solid, sehingga perbankan tetap memiliki peluang pertumbuhan yang baik.

Nafan menekankan pentingnya fokus pada fundamental dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif. "Pelemahan IHSG saat ini lebih bersifat sementara. Jika emiten terus memperkuat kinerja fundamentalnya, termasuk menjaga margin dan komitmen terhadap tata kelola perusahaan yang baik, maka sektor perbankan tetap menjadi sektor menarik bagi investor," ujar dia.

Para pelaku pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari kebijakan moneter domestik dan global, yang akan menjadi penentu arah pasar modal ke depan.

Indeks Berpotensi Menembus

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini menghadapi ujian penting. IHSG ditutup melemah 0,86 persen ke level 6.956 pada perdagangan Selasa, 14 Januari 2025. Posisi ini memicu kekhawatiran bahwa indeks berpotensi menembus level support krusial.

Head of Technical Analyst MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan jika IHSG mampu bertahan di atas area support-, maka masih ada peluang bagi indeks untuk menguat dan menguji level resistance di 7.197 dalam skenario hitam.

“Waspadai, apabila IHSG terkoreksi di bawah 6,931, maka diperkirakan IHSG akan menguji 6,742-6,835,” kata Herdirya dalam laporan risetnya, Rabu, 15 Januari 2025.

Saham-Saham yang Menarik Dipantau

Selain mengulas pergerakan IHSG, Herditya juga memberikan beberapa analisis terhadap saham-saham yang dinilai menarik perhatian.

1. AMMN

Saham AMMN mencatat performa signifikan. Pergerakan harganya perlu dicermati mengingat target penguatan potensial di level Rp9.050 dan Rp9.675, namun risiko koreksi tetap perlu diwaspadai dengan batas bawah pergerakan di level Rp8.025.

“AMMN terkoreksi 3,53 persen ke 8,200 disertai dengan munculnya volume penjualan. Selama AMMN masih mampu berada di atas 8,025 sebagai stoplossnya, maka posisi AMMN sedang berada di awal wave A dari wave (B,” kata Herditya.

2. GOTO

Saham teknologi ini menunjukkan tanda-tanda penguatan seiring meningkatnya volume pembelian. “GOTO menguat 1,27 persen ke 80 disertai dengan munculnya volume pembelian, pergerakannya pun cenderung konsolidasi. Kami perkirakan, posisi GOTO saat ini sedang berada di awal wave [ii] dari wave C, sehingga GOTO rawan berbalik arah,” jelas Herditya.

3. INCO

Saham INCO dinilai masih berada dalam tren kenaikan setelah mencatat level tertinggi di Rp3.680. Potensi kenaikan dapat mengarah ke Rp3.760 dan Rp3.810, namun investor perlu mencermati support Rp3.500 sebagai acuan risiko.

“Kami perkirakan, posisi INCO saat ini sedang berada pada bagian awal dari wave A dari wave (B),” ujar Herditya.

4. TINS

TINS menunjukkan pola yang positif dalam perdagangan. Pergerakan harga di kisaran Rp1.060 hingga Rp1.095 menjadi titik penting untuk mengantisipasi target penguatan di level Rp1.170 dan Rp1.215.

“TINS menguat 4,67 persen ke 1,120 dan masih didominasi oleh volume pembelian. Kami perkirakan, posisi TINS saat ini sedang berada pada bagian dari wave iii dari wave (a) dari wave [b],” jelas Herditya.(*)

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak, membeli, atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analisis atau sekuritas yang bersangkutan, dan Kabarbursa.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait