Market Hari Ini 23 May 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

IHSG Menguat ke 7.214 Terpantik Sinyal Positif BI dan Investor Asing

Dua emiten besar tampil menonjol dalam kategori berbeda. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) memimpin dari sisi nilai transaksi (top value) dengan Rp830,99 miliar.

IHSG menguat ke 7.214 usai BI turunkan suku bunga, didorong sektor industri dasar, arus dana asing, dan sentimen positif pasar modal Indonesia.

Papan pantau di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Papan pantau di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Daftar Isi

  1. 01 ANTM dan GOTO Mencuri Perhatian
  2. 02 Sektor Industri Dasar dan Transportasi Jadi Penggerak
  3. 03 Penurunan BI Rate Jadi Katalis Pasar
  4. 04 Arah IHSG: Menuju 7.530?

KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia atau BEI kembali menunjukkan optimisme. Pada perdagangan Jumat, 23 Mei 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,66 persen atau menguat 47 poin ke posisi 7.214. 

Meski mayoritas saham justru cenderung melemah, pergerakan indeks tetap solid sepanjang hari dalam rentang 7.177 hingga 7.223.

Menurut data RTI Business, hanya 280 saham yang menguat, sementara 315 saham ditutup melemah. Aktivitas transaksi tergolong tinggi, dengan volume mencapai 16,78 miliar lembar dan total nilai perdagangan menembus Rp12,1 triliun.

ANTM dan GOTO Mencuri Perhatian

Dua emiten besar tampil menonjol dalam kategori berbeda. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) memimpin dari sisi nilai transaksi (top value) dengan Rp830,99 miliar.

 ANTM mengungguli PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang berada di urutan kedua dengan Rp815,7 miliar, disusul PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Barito Pacific (BRPT).

Di sisi volume, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mendominasi dengan total transaksi 1,87 miliar lembar saham. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding pesaing terdekatnya, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dengan 897,3 juta lembar. 

Emiten lain yang masuk dalam jajaran top volume adalah Darma Henwa (DEWA), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Barito Pacific (BRPT).

Sektor Industri Dasar dan Transportasi Jadi Penggerak

Penguatan IHSG ditopang oleh performa sektor industri dasar yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,17 persen. Sektor transportasi turut mengikuti dengan kenaikan 1,23 persen. 

Sektor lainnya yang turut memberikan sentimen positif di antaranya sektor keuangan, industri, kesehatan, dan teknologi.

Namun, tidak semua sektor bergerak di zona hijau. Tiga sektor mengalami tekanan, yakni siklikal (-0,99 persen), properti (-0,28 persen), dan infrastruktur (-0,25 persen).

Penurunan BI Rate Jadi Katalis Pasar

Pasar saham mendapat tambahan amunisi dari keputusan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. 

Langkah ini diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Mei lalu, dan dinilai sebagai sinyal kuat untuk pemulihan ekonomi nasional.

Founder Stocknow.id Hendra Wardana, menilai keputusan BI sebagai momen kunci bagi pergerakan IHSG ke depan.

“Penurunan suku bunga ini bukan hanya mendukung pemulihan konsumsi dan investasi, tetapi juga memperbaiki sentimen pasar secara menyeluruh,” ungkapnya kepada KabarBursa.com.

Menurut Hendra, sektor perbankan, properti, dan konsumsi berpeluang menjadi pendorong utama penguatan pasar. Ia juga menyebut bahwa optimisme domestik dan arus modal asing yang kembali masuk bisa menjadi pilar penting tren positif IHSG.

Arah IHSG: Menuju 7.530?

Secara teknikal, Hendra menyebut level 7.140, yang merupakan moving average 200 hari, telah berhasil ditembus, menjadi sinyal bahwa tren naik jangka menengah tetap terjaga. Target teknikal berikutnya berada di level 7.324, dan bila berhasil dilampaui, terbuka peluang menuju 7.530.

Meski begitu, ia mengingatkan potensi koreksi sehat dalam kisaran 7.050–7.100 masih mungkin terjadi dalam jangka pendek.

Tak hanya itu, daya tarik pasar Indonesia juga meningkat di mata investor asing. Dengan suku bunga riil yang tetap positif di sekitar 3 persen, serta komitmen BI menjaga stabilitas rupiah, pasar saham domestik dinilai semakin kompetitif di tengah ketidakpastian global.

“Investor global yang sebelumnya wait and see, kini mulai kembali masuk, terutama ke saham-saham berkualitas yang sempat undervalued,” tutur Hendra.

Data pada 21 Mei mencatat aksi beli bersih asing (net buy) sebesar Rp993 miliar di pasar saham, menandakan respons positif atas pelonggaran kebijakan moneter.

Kombinasi antara stabilitas makroekonomi, penurunan suku bunga acuan, serta aliran dana asing yang mulai deras kembali telah memperkuat fondasi IHSG untuk melanjutkan penguatan. 

Walau masih ada potensi koreksi jangka pendek, tren naik yang konsisten menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sedang dalam fase konsolidasi sehat menuju level yang lebih tinggi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait