KABARBURSA.COM - Memasuki bulan September, pasar modal Indonesia kembali menunjukkan taringnya. Pada Jumat, 6 September 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mencetak rekor tertinggi.
J.P. Morgan Taruh Kepercayaan Positif pada IHSG
Head of Indonesia Research & Strategy J.P. Morgan Indonesia, Henry Wibowo, memberi pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia. Adapun pandangan positif tersebut didasari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini menyentuh level tertinggi.
Henry menilai, capaian kinerja positif IHSG didorong oleh penguatan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data per 5 September 2024 pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup pada level Rp15.401 per dolar AS, menguat sebesar 78 poin atau 0,51 persen.
“J.P. Morgan menekankan kembali pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia. IHSG saat ini mencapai level tertinggi sepanjang masa, dibantu oleh Rupiah yang menguat,” kata Henry di Jakarta, Kamis, 5 September 2024.
Sejak bulan Juni, tutur Henry, J.P. Morgan melihat kembalinya aliran dana asing yang menggembirakan, yakni sekitar USD600 juta. Kendati demikian, angka ini masih lebih kecil dari total arus keluar dana asing sekitar USD1,7 miliar dari bulan April hingga Mei.
“Oleh karena itu, mungkin akan ada lebih banyak aliran dana yang akan datang,” jelasnya.
Di sisi lain, Henry menyebut pemangkasan suku bunga The Fed yang kemungkinan terjadi pada bulan September menjadi katalis jangka pendek bagi IHSG. Menurutnya, hal itu akan menguntungkan arus modal dan likuiditas Indonesia.
“J.P. Morgan memperkirakan Bank Indonesia akan memangkas 50 bps pada bulan September-Desember tahun ini dan 50 bps lagi pada semester satu 2025,” ungkapnya.
Lebih jauh, J.P. Morgan percaya sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti bank, properti, dan otomotif akan mendapatkan keuntungan dari potensi pelonggaran moneter.
Meskipun sebagian besar bank di Indonesia tidak akan mengalami ekspansi Net Interest Margin (NIM) selama siklus penurunan suku bunga, J.P. Morgan meyakini jasa keuangan dalam negeri dapat memperoleh manfaat dari peningkatan likuiditas dan arus modal.
“J.P. Morgan juga percaya bahwa aset-aset berdurasi panjang seperti perusahaan berbasis internet dan bank digital dapat menjadi penerima manfaat dari tren suku bunga yang lebih rendah,” tutupnya. (*)