Market Hari Ini 26 May 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

IHSG Siang Terkoreksi Tipis, Investor Waspadai Rebalancing

Rupiah juga turut melemah tipis, turun 0,05 persen ke posisi Rp16.214 per dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas global dan arus modal asing.

IHSG terkoreksi tipis di sesi pagi, investor waspadai rebalancing MSCI dan ketegangan dagang global, sektor logam dasar mencuri perhatian.

Papan pantau di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Papan pantau di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Daftar Isi

  1. 01 Sektor Teknologi Catat Kinerja Terbaik

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan koreksi, turun 0,80 persen ke level 7.156,5 pada sesi perdagangan pagi, Senin, 26 Mei 2025. 

Penurunan sekitar 57 poin ini terjadi di tengah aksi ambil untung investor, menyusul penguatan tajam yang sempat terjadi pekan lalu.

Minimnya sentimen domestik serta pendeknya hari perdagangan pekan ini membuat investor lebih cenderung melakukan realisasi keuntungan. 

Di sisi lain, pasar juga mewaspadai dampak dari penyesuaian portofolio menjelang rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang dijadwalkan berlangsung di akhir Mei. 

Hal ini turut mendorong tekanan jual, terutama pada saham-saham big cap yang biasanya menjadi target utama dalam proses rebalancing tersebut.

Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Dari sisi global, pelaku pasar mencermati sikap terbaru Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang tenggat pengenaan tarif 50 persen atas produk dari Uni Eropa. 

Ketegangan dagang ini menjadi salah satu faktor yang membuat bursa Asia-Pasifik bergerak cenderung variatif hari ini.

Rupiah juga turut melemah tipis, turun 0,05 persen ke posisi Rp16.214 per dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas global dan arus modal asing.

Sektor Teknologi Catat Kinerja Terbaik

Di lantai bursa, sektor teknologi, properti, dan keuangan mencatat kinerja terbaik pagi ini, sementara sektor bahan baku, energi, dan kesehatan justru mengalami tekanan. 

Saham-saham big cap seperti DCII, TPIA, BBRI, BMRI, dan GOTO menjadi penekan utama IHSG setelah mencatat penurunan signifikan. Koreksi pada saham-saham unggulan ini tidak lepas dari langkah investor institusi yang mulai menyesuaikan portofolio mereka menjelang rebalancing indeks.

Meski demikian, tidak semua sektor tenggelam. Saham-saham logam dasar justru bergerak berlawanan arah. 

INCO, MDKA, dan BRMS berhasil menguat seiring kenaikan harga komoditas global. Sentimen positif terhadap logam mulia dan nikel didorong oleh ketidakpastian ekonomi global dan spekulasi bahwa komoditas akan tetap menjadi aset lindung nilai yang menarik.

Kinerja BRMS jadi sorotan pagi ini setelah sahamnya melonjak hampir 10 persen. Penguatan ini dipicu kabar bahwa BRMS menerima fasilitas pinjaman Rp2 triliun dari Bank Mega. 

Dana tersebut akan digunakan untuk melunasi utang senilai USD75 juta dan mendanai proyek tambang emas di Palu, Sulawesi Tengah. Pasar merespons positif langkah ini karena dinilai akan memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung ekspansi bisnis perusahaan.

Sementara itu, kabar tak sedap datang dari LPPF, yang sahamnya terkoreksi lebih dari 5 persen setelah muncul rumor soal rencana penutupan delapan toko secara permanen. Rumor ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait prospek bisnis ritel yang masih menghadapi tantangan.

AADI mencatat kenaikan tipis 1,04 persen setelah diumumkan masuk dalam daftar Seri Indeks Ekuitas Global TSE untuk kapitalisasi kecil periode Juni 2025. Masuknya AADI ke dalam indeks global dinilai berpotensi meningkatkan eksposur saham ini kepada investor asing.

Dari daftar saham paling aktif, TLKM, BRMS, dan BRPT memimpin sebagai top movers. Di sisi lain, DCII, TPIA, dan BBRI menjadi laggards yang paling membebani indeks. Untuk nilai transaksi tertinggi, BRPT, ANTM, dan GOTO mendominasi papan atas.

Di luar pergerakan harga saham, investor juga menyoroti kinerja kuartal I dari BSDE. Emiten properti ini melaporkan penurunan laba bersih tajam sebesar 77,69 persen secara tahunan, dari Rp1,44 triliun menjadi Rp320,6 miliar. 

Penurunan ini menimbulkan tanda tanya soal daya tahan sektor properti di tengah tekanan suku bunga dan sentimen pasar yang belum pulih sepenuhnya.

Secara keseluruhan, pasar hari ini masih dibayangi kehati-hatian. Meskipun stimulus ekonomi jilid dua dari pemerintah dijadwalkan segera diumumkan, sentimen global dan potensi tekanan dari rebalancing indeks membuat investor lebih selektif. 

Bagi pelaku pasar, ini saatnya kembali mencermati fundamental dan momentum teknikal secara lebih hati-hati sebelum mengambil langkah besar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait