Market Hari Ini 06 Feb 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Syahrianto

IHSG Terguncang Lagi, Tekanan Asing dan Sentimen Global Jadi Biang Kerok

Aksi jual investor asing dan perubahan outlook Moody’s menekan IHSG, mayoritas sektor melemah di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

IHSG kembali melemah akibat aksi jual asing dan sentimen global negatif, didorong perubahan outlook Moody’s dan tekanan di hampir seluruh sektor saham.

IHSG kembali melemah akibat aksi jual asing dan sentimen global negatif, didorong perubahan outlook Moody’s dan tekanan di hampir seluruh sektor saham. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.com
IHSG kembali melemah akibat aksi jual asing dan sentimen global negatif, didorong perubahan outlook Moody’s dan tekanan di hampir seluruh sektor saham. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali limbung pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat 6 Februari 2026. Derasnya aksi jual investor asing berpadu dengan memburuknya sentimen global membuat pasar saham domestik sulit bangkit.

Data perdagangan menunjukkan IHSG memulai hari di level 7.945,04. Di awal sesi indeks sempat mencoba bangkit dan menyentuh titik tertinggi 8.025,14. Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan, posisi IHSG tercatat berada di kisaran 8.103 atau melemah 0,53 persen dibanding penutupan hari sebelumnya.

Pergerakan harian yang naik turun cukup tajam itu menggambarkan kondisi pasar yang sangat fluktuatif. Kepercayaan pelaku pasar terlihat rapuh dan mudah goyah oleh sentimen sekecil apa pun.

Faktor utama pelemahan masih datang dari aliran dana asing yang terus keluar. Sepanjang hari perdagangan, nilai jual bersih investor asing di seluruh pasar mencapai Rp469,75 miliar. Di pasar reguler saja, asing mencatatkan net sell Rp355,43 miliar. Sementara di pasar tunai dan negosiasi, tekanan jual asing tercatat Rp114,32 miliar.

Aktivitas transaksi pasar saham sebenarnya tergolong ramai. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp6,68 triliun dengan volume perdagangan 144,23 juta lot. Frekuensi transaksi menembus 892,43 ribu kali. Meski begitu, dominasi masih berada di tangan investor lokal dengan porsi 68,74 persen. Adapun partisipasi investor asing hanya sekitar 31,26 persen.

Hampir seluruh sektor saham kompak tertekan. Koreksi paling dalam terjadi pada sektor industrial yang anjlok 4,60 persen. Di belakangnya, sektor barang konsumsi siklikal turun 3,72 persen, disusul sektor bahan baku yang melemah 2,70 persen.

Tekanan juga terasa pada sektor infrastruktur yang turun 2,31 persen dan sektor energi yang terkoreksi 2,21 persen. Sektor properti ikut merosot 2,18 persen, sektor teknologi melemah 1,29 persen, serta sektor keuangan turun 1,36 persen.

Sektor kesehatan tak luput dari tekanan dengan pelemahan 0,97 persen. Begitu pula sektor barang konsumsi non-siklikal yang terkoreksi 1,24 persen. Pelemahan yang terjadi hampir merata ini menunjukkan aksi jual berlangsung luas, bukan hanya menyasar saham tertentu saja.

Di tingkat saham individual, sejumlah emiten yang sebelumnya ramai diperdagangkan justru mengalami koreksi tajam. Saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk dengan kode PIPA dari sektor industri dasar jatuh 14,94 persen ke posisi 131. Pergerakan saham PIPA belakangan memang menjadi sorotan setelah Mabes Polri kembali menemukan tersangka baru dalam kasus dugaan goreng menggoreng saham.

Saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk berkode SSTM dari sektor tekstil dan garmen ikut merosot 14,87 persen ke level 1.345. Tekanan juga menimpa saham PT MD Entertainment Tbk berkode FILM di sektor media dan hiburan yang turun 14,80 persen ke posisi 6.475.

Nasib serupa dialami PT Citatah Tbk dengan kode CTTH dari sektor bahan bangunan yang melemah 14,53 persen ke level 100.

Meski mayoritas saham tertekan, beberapa emiten masih mampu mencatatkan kenaikan tajam. Saham PT Krida Jaringan Nusantara Tbk berkode KJEN dari sektor logistik melonjak 31,25 persen ke level 189. PT Bukaka Teknik Utama Tbk berkode BUKK di sektor konstruksi melesat 24,85 persen ke posisi 2.060.

Penguatan juga terjadi pada PT Nusatama Berkah Tbk berkode NTBK di sektor perdagangan yang naik 20,45 persen ke level 106. Saham PT Hotel Fitra International Tbk berkode FITT dari sektor perhotelan menguat 20,30 persen ke posisi 800. Sementara PT Nusantara Almazia Tbk berkode NZIA di sektor perdagangan bertambah 17,39 persen ke level 216.

Dari luar negeri, kabar kurang menggembirakan ikut menekan psikologi pasar. Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service mengubah prospek peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski status peringkat utang Indonesia masih bertahan pada level layak investasi, perubahan outlook tersebut meningkatkan kekhawatiran investor.

Langkah Moody’s itu dinilai memperbesar persepsi risiko terhadap aset-aset berdenominasi rupiah, termasuk saham. Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang belum mereda membuat investor cenderung mengambil sikap lebih hati-hati.

Secara teknikal, analis MNC Sekuritas melihat IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. Ruang penguatan dinilai cukup terbatas untuk jangka pendek. Area tahanan indeks diperkirakan berada di kisaran 8.181 hingga 8.318. Sementara area penopang berada di rentang 7.854 sampai 7.654.

Analis menilai selama IHSG belum mampu menembus area resistance dengan dukungan volume transaksi yang kuat, peluang pelemahan lanjutan masih terbuka lebar. Bahkan bukan tidak mungkin indeks kembali menguji area psikologis 7.000 dalam beberapa waktu ke depan jika sentimen negatif terus mendominasi.

Dengan kondisi tersebut, pasar saham Indonesia memasuki akhir pekan dalam suasana penuh kewaspadaan. Pelaku pasar masih menunggu katalis positif baru yang cukup kuat untuk membalikkan arah pergerakan IHSG.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait