KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, dengan turun 52,50 poin atau 0,84 persen ke level 6.202,47. Beberapa saham energi tumbang, namun big banks seperti BBRI dan BBCA berhasil bertahan di zona hijau.
Indeks dibuka di level 6.321,96 dan bahkan menyentuh posisi tertinggi 6.377,19. Namun, tekanan jual membuat indeks meluncur dan menyentuh level terendah di 6.200,22 sebelum kemudian mengakhiri sesi pertama di 6.202,47.
Meski begitu, aktivitas pasar tetap ramai dengan aksi ambil untung. Nilai transaksi mencapai Rp16,31 triliun dengan volume 220,66 juta lot.
Saham-saham Perbankan Tahan Guncangan
Beruntung, saham-saham perbankan berhasil menahan guncangan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menutup sesi pertama di level 6.350 atau naik 75 poin setara 1,20 persen.
Saham ini sempat dibuka di 6.400, bergerak hingga level tertinggi 6.550, lalu bertahan di zona hijau meski pasar secara keseluruhan berada di bawah tekanan. Dengan nilai transaksi BBCA mencapai Rp1,92 triliun dan frekuensi lebih dari 51 ribu kali transaksi, minat investor terlihat cukup tinggi.
Begitu pula dengan Gerak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham bank pelat merah tersebut menguat 1,67 persen ke level 3.040 setelah bergerak di rentang 3.010 hingga 3.130. Aktivitas perdagangan juga cukup solid dengan nilai transaksi hampir Rp1 triliun.
Selain sektor perbankan, kejutan positif juga datang dari PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Saham MBMA berhasil naik 1,96 persen ke level 520 setelah sempat menyentuh harga tertinggi 550. Pergerakan ini cukup menarik karena terjadi di tengah sentimen pasar yang kurang kondusif.
Dengan harga pembukaan di 525 dan level terendah 510, saham ini mampu bertahan hingga sesi pertama berakhir. Nilai transaksi memang belum sebesar saham perbankan, yakni sekitar Rp773 miliar, tetapi kenaikan itu memperlihatkan masih ada minat investor terhadap emiten bereksposur pada industri baterai dan kendaraan listrik.
Saham Energi Seret IHSG
Berbeda dengan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Saham energi ini menjadi salah satu yang terkoreksi paling tajam. Saham ini ditutup di level 3.800 setelah kehilangan 450 poin atau turun 10,59 persen.
Tekanan jual terlihat sejak awal perdagangan. Dari harga pembukaan 4.250, BREN hanya sempat bergerak ke level tertinggi 4.280 sebelum akhirnya terus melemah hingga menyentuh level terendah 3.760. Dengan nilai transaksi mencapai Rp163,86 miliar, pelemahan ini menjadi salah satu kontributor negatif bagi IHSG pada sesi pertama.
Tekanan serupa terjadi pada PT Petrosea Tbk (PTRO). Saham ini terkoreksi 6,52 persen ke level 4.160 setelah dibuka di harga 4.490. Meskipun sempat menyentuh level tertinggi 4.570, tekanan jual yang besar membuat harga turun hingga 4.140 sebelum akhirnya sedikit menguat di akhir sesi.
Nilai transaksi PTRO mencapai lebih dari Rp220 miliar dengan volume lebih dari 507 ribu lot, mencerminkan aktivitas jual beli yang cukup aktif sepanjang pagi.
Tidak berhenti di situ, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga ikut mengalami koreksi dalam. Saham ini turun 6,13 persen ke level 765 dari harga sebelumnya 815.
Padahal, saham tersebut sempat bergerak hingga level 835 pada awal perdagangan. Namun tekanan jual yang muncul membuat harga turun sampai 755 sebelum ditutup di 765. Nilai transaksi mencapai Rp534,5 miliar dengan volume sekitar 6,82 juta lot.
Bagaimana dengan Sesi Kedua?
Untuk pergerakan di sesi kedua, jika dilihat dari chartbitnya, IHSG masih berada dalam tren turun (downtrend). Rangkaian lower high dan lower low sejak Februari masih belum berhasil dipatahkan. Namun, di balik tekanan tersebut, mulai muncul tanda-tanda bahwa tenaga jual perlahan berkurang.
Beberapa hari terakhir, muncul beberapa candle hijau yang membawa indeks naik dari area sekitar 5.400-5.500 menuju kisaran 6.200. Kenaikan itu disertai volume transaksi yang relatif besar, yang artinya minat beli mulai kembali masuk ke pasar.
Hari ini, indeks bahkan sempat dibuka di 6.321 dan menyentuh 6.377, sebelum akhirnya ditarik turun hingga 6.200. Artinya, pelaku pasar masih memiliki keberanian untuk membeli di awal perdagangan. Tetapi, di sisi lain masih banyak investor yang memanfaatkan kenaikan untuk melakukan aksi ambil untung.
Fenomena tersebut membuat sesi kedua menjadi sangat menarik.
Jika melihat pola candlestick hari ini, area 6.200 kini menjadi support psikologis yang cukup penting. Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya rebound intraday masih terbuka.
Apalagi, volume perdagangan hingga sesi pertama sudah mencapai lebih dari Rp16 triliun, menunjukkan likuiditas masih cukup besar dan pasar belum kehilangan minat transaksi.
Namun, ada satu tantangan yang masih harus dihadapi IHSG pada sesi kedua. Area 6.300-6.380 yang sempat disentuh pagi tadi kini berubah menjadi resistance terdekat. Kegagalan bertahan di atas area tersebut menunjukkan tekanan jual masih cukup besar setiap kali indeks mencoba naik.
Skenario yang paling realistis pada sesi kedua adalah sebagai berikut:
Skenario Positif
Jika pembeli kembali mendominasi dan mampu menjaga indeks tetap berada di atas 6.200, maka IHSG berpeluang melakukan technical rebound menuju 6.280-6.350. Penguatan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kemungkinan akan menjadi penopang utama, sementara saham yang terkoreksi tajam berpotensi mengalami short covering.
Skenario Negatif
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan level 6.200 ditembus dengan volume besar, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 6.120-6.150. Pada kondisi tersebut, aksi ambil untung kemungkinan masih akan mendominasi, terutama pada saham-saham energi dan komoditas yang sebelumnya menjadi penggerak pasar.
Level teknikal sesi kedua:
- Support utama: 6.200
- Support berikutnya: 6.120–6.150
- Resistance pertama: 6.280
- Resistance kuat: 6.350–6.380
Dengan begitu, peluang lebih besar masih mengarah pada konsolidasi dengan kecenderungan rebound terbatas, selama area 6.200 tidak ditembus secara meyakinkan oleh tekanan jual pada sesi kedua.(*)