Market Hari Ini 23 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

IHSG Turun ke 6.101: RAJA, LEAD, dan BUVA Melesat

IHSG turun 0,25 persen ke level 6.101,33. Di tengah tekanan pada BMRI, ANTM, dan ESIP, saham RAJA, LEAD, serta BUVA justru mencuri perhatian dengan lonjakan signifikan.

IHSG ditutup melemah ke 6.101,33. BMRI dan ANTM menekan indeks, sementara RAJA, LEAD, dan BUVA melesat di tengah rotasi dana investor.

IHSG dibuka di level 6.096,50 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh 6.121,78. (Foto: KabarBursa)
IHSG dibuka di level 6.096,50 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh 6.121,78. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 15,36 poin atau turun 0,25 persen ke level 6.101,33 pada perdagangan Selasa, 23 Juni 2026. 

Sejak awal perdagangan, tekanan jual sudah ada. IHSG dibuka di level 6.096,50 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh 6.121,78. Namun upaya penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual kembali muncul hingga indeks sempat menyentuh level terendah harian di 5.993,04 sebelum akhirnya berhasil memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan.

Nilai transaksi pasar secara keseluruhan masih cukup besar, mencapai Rp32,63 triliun dengan frekuensi transaksi mencapai 1,78 juta kali. Aktivitas perdagangan masih tinggi, tetapi arah dana yang berputar di pasar mulai terpecah antara saham-saham yang mengalami aksi ambil untung dan yang masih menjadi tujuan perburuan investor.

Di kelompok saham berkapitalisasi besar, tekanan terlihat pada sejumlah nama yang selama ini menjadi penopang indeks. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu pemberat utama setelah ditutup turun 2,37 persen ke level Rp4.120 per saham. 

Sepanjang hari, saham BMRI bergerak dalam rentang Rp4.090 hingga Rp4.210 dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp1 triliun.

Koreksi BMRI cukup menarik perhatian karena sebelumnya saham perbankan besar sempat menjadi motor penggerak pemulihan IHSG. Namun setelah reli yang cukup panjang, sebagian investor tampaknya memilih merealisasikan keuntungan terlebih dahulu sambil menunggu katalis baru dari sektor perbankan.

Tekanan yang lebih dalam terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten tambang pelat merah tersebut ditutup melemah 3,04 persen ke level Rp2.870. 

Sementara itu, saham PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan paling besar pada perdagangan hari itu. Saham ESIP anjlok 6 persen ke level Rp141 setelah sempat bergerak di rentang Rp137 hingga Rp156. 

Meski demikian, tidak semua saham bergerak mengikuti arah indeks. Di tengah merahnya IHSG, beberapa emiten justru tampil menonjol dan menjadi magnet baru bagi investor.

Salah satu yang paling mencolok adalah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Saham emiten sektor pariwisata dan perhotelan tersebut melonjak 8,77 persen ke level Rp930. Kenaikan ini terjadi dengan nilai transaksi mencapai Rp241 miliar dan frekuensi lebih dari 35 ribu kali transaksi.

Pergerakan BUVA menunjukkan bahwa investor mulai kembali melirik sektor pariwisata yang berpotensi menikmati peningkatan aktivitas ekonomi dan perjalanan wisata. Setelah lama bergerak kurang menarik, saham-saham yang terkait dengan konsumsi dan pariwisata perlahan kembali mendapatkan perhatian pasar.

Namun sorotan terbesar justru datang dari saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RAJA). Emiten energi tersebut melesat 11,23 persen ke level Rp4.160. Kenaikan sebesar Rp420 dalam sehari membuat RAJA menjadi salah satu saham dengan performa terbaik di pasar reguler.

Yang menarik, kenaikan RAJA didukung nilai transaksi yang cukup besar mencapai sekitar Rp192,8 miliar dengan lebih dari 20 ribu kali transaksi. Ini menunjukkan bahwa penguatan saham tersebut bukan sekadar kenaikan tipis akibat likuiditas rendah, melainkan disertai minat beli yang nyata dari pelaku pasar.

Sementara itu, saham PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) juga mencatat performa impresif dengan kenaikan 33,71 persen ke level Rp119. Saham ini menjadi salah satu top gainer hari itu setelah diperdagangkan hampir 4 juta lot dengan nilai transaksi lebih dari Rp43 miliar.

Pelemahan IHSG kali ini tidak sepenuhnya mencerminkan sentimen negatif. Ketika indeks turun tetapi sejumlah saham mampu mencatat kenaikan dua digit, berarti uang belum keluar dari pasar. Dana hanya berpindah dari satu sektor ke sektor lain.

Dalam jangka pendek, pola seperti ini berpotensi terus berlanjut. Saham-saham perbankan besar dan komoditas mungkin masih menghadapi tekanan konsolidasi setelah reli yang cukup panjang. Sebaliknya, sektor energi tertentu, pariwisata, dan sejumlah saham menengah berpotensi menjadi tujuan rotasi dana berikutnya.

Bagi investor, kondisi saat ini menjadi pengingat bahwa membaca arah IHSG saja tidak lagi cukup. Di tengah pasar yang semakin selektif, kemampuan memilih saham yang tepat justru menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding sekadar mengikuti arah indeks.(*)

SEO Description (maks. 160 karakter):
 

SEO Keywords:
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait