KABARBURSA.COM-Inggris resmi tersungkur ke dalam jurang resesi dengan pertumbuhan ekonomi yang mencatat minus 0,3 persen pada kuartal IV-2023. Sebelumnya, pada kuartal III-2023, perekonomian juga menyusut sebesar 0,1 persen. Dengan demikian, resesi terjadi karena pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.
"Dalam kuartal ini, semua sektor utama mengalami pelemahan, dengan sektor manufaktur, konstruksi, dan perdagangan grosir menjadi faktor utama penyumbang pertumbuhan yang rendah," ujar Liz McKeown, Direktur Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris, dalam pernyataannya yang dikutip dari CNN Jumat 16 Februari 2024.
ONS memproyeksikan bahwa sepanjang tahun 2023, perekonomian Inggris hanya akan tumbuh sebesar 0,1 persen. Ini akan menjadi performa terlemah sejak tahun 2009, ketika perekonomian masih berjuang pulih dari krisis keuangan global. Namun, kondisi tersebut tidak mencakup tahun 2020 yang dipengaruhi oleh pandemi COVID-19.
"Secara keseluruhan, perekonomian mengalami stagnasi sepanjang tahun 2023," tambah McKeown.
Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris hanya tumbuh sebesar 0,5 persen pada tahun 2023 dan diproyeksikan akan tumbuh sebesar 0,6 persen pada tahun ini. Hal ini membuat Britania Raya menempati peringkat kedua sebagai negara dengan kinerja ekonomi terlemah di antara negara-negara besar.
Dengan kondisi ini, janji Perdana Menteri Rishi Sunak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi pupus. Kegagalan janji tersebut menjelang pemilihan umum di Inggris mengancam posisi Partai Konservatif, yang merupakan partai tempat Sunak bernaung. Pasalnya, Partai Buruh sebagai oposisi unggul dalam survei jajak pendapat yang dilakukan oleh berbagai lembaga.